person came into the yarn shop and said "Hi! do you sell yarn?"
seen from Argentina
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from Germany

seen from Malaysia

seen from Latvia

seen from Argentina
seen from Uzbekistan
seen from China
seen from United States

seen from United States

seen from Germany
seen from United States

seen from Germany
seen from United States

seen from Norway
person came into the yarn shop and said "Hi! do you sell yarn?"
Welcome to CVS,
We STILL aren't Wallgreens. Stop asking.
Want to win customers?
Here are 4 tips to acquire and retain more customers:
Keep a positive attitude
Be genuinely helpful
Build trust
Lead with value
Orang-orang ga benci benci banget sama anggota DPR kalau lagi ngebahas tentang korupsi. Mungkin, cuma benci aja. Tapi, orang-orang benci banget sama Pak SN alias orang-yang-tidak-disebut-namanya. Ketika dia tidak lagi menjadi tersangka kasus korupsi, orang-orang bahkan mulai menaruh curiga pada sidang pra-peradilannya atau pada hakim dalam sidang tersebut. Hal tersebut mungkin berkaitan dengan fenomena yang lain. Dalam suatu percobaan, sekelompok orang diberikan 2 selebaran yang isinya sama-sama tentang ajakan untuk memberikan sumbangan pada orang-orang miskin di Afrika, namun dengan UI/UX yang berbeda. Hasil yang didapatkan ternyata orang-orang tersebut lebih ingin memberikan sumbangan jika diberikan selebaran yang berisikan gambar seorang anak kecil perempuan bernama Rokia dengan penjelasan bahwa Rokia adalah seorang anak yang akan terbantu dengan sumbangan yang diberikan, dibandingkan dengan selebaran yang berisikan fakta-fakta bahwa jutaan orang di negara-negara di Afrika masih hidup di bawah garis kemiskinan. Dalam percobaan tersebut, yang didapatkan dari selebaran Rokia adalah hampir 2 kali lipat dari selebaran yang lain. (Sumber: Poor Economics) Bukan, bukan karena "gambar"-lah metode yang digunakan untuk penyajiannya (sementara yang lainnya lebih kepada fakta-fakta saja), makanya sumbangan yang didapatkan bisa lebih banyak. Tapi, karena orang-orang merasa "lelah" atau ragu ketika dihadapkan dengan permasalahan yang skalanya besar atau luar biasa. (Sumber: Poor Economics) Tapi, kemudian ketika dilakukan percobaan kembali dengan selebaran yang sama. Hanya saja dengan perubahan perlakuan, yaitu orang-orang yang diberikan selebaran juga diberitahu bahwa orang-orang akan lebih ingin untuk menyumbang ketika mereka dihadapkan pada satu korban yang bisa mereka kenali, dibandingkan jika hanya dihadapkan dengan informasi-informasi umum saja. Hasilnya? Sumbangan yang didapatkan dari selebaran dengan gambar Rokia menurun hingga 50%, sedangkan sumbangan yang didapatkan dari selebaran yang lain tidak mengalami perubahan yang cukup berarti. (Sumber: Poor Economics) Kesimpulan yang bisa didapatkan adalah "mendorong" orang-orang untuk berpikir kembali untuk menyumbang ternyata membuat orang-orang menjadi lebih pelit untuk Rokia, tetapi tidak lebih dermawan untuk orang-orang miskin negara-negara di Eropa. (Sumber: Poor Economics) Reaksi tersebut adalah sebuah reaksi yang wajar ditemukan untuk permasalahan-permasalahan luar biasa, seperti kemiskinan atau korupsi. Insting pertama kita kurang lebih murah hati atau mau berbuat lebih. Tapi, kemudian terdapat pemikiran lain yang muncul kalau tidak ada suatu hal yang sebenarnya bisa kita lakukan untuk menyelesaikan hal tersebut. (Sumber: Poor Economics) Menurut saya, kedua hal ini sangatlah mirip, terutama jika dilihat dari skala permasalahan. Sama-sama fenomena besar yang semua orang ketahui, sama-sama ada "korban" yang bisa dikenali secara langsung. Yang mau saya sampaikan adalah, saya percaya bahwa masih banyak orang yang memerangi korupsi. Terlihat dari berbagai petisi untuk ini-itu yang ditujukan untuk Presiden atau KPK; berbagai aksi untuk mendukung usaha pemberantasan korupsi; berbagai reaksi yang sangat kreatif ketika dia-yang-tak-disebut-namanya ini kembali "lolos"; dsb. Tapi, berkaca pada kasus sumbangan yang dijelaskan di atas, saya jadi menyangsikan tidak semua hal yang sudah dilakukan akan membuat orang-orang terus mau berjuang untuk melawan korupsi. Ketika publik terpapar informasi bahwa banyak juga usaha lainnya yang dilakukan untuk "korban", hal tersebut mungkin membuat mereka berpikir kembali sehingga pemikiran lainnya bahwa usaha mereka ternyata tidak ada gunanya muncul dan membuat mereka menjadi lebih tidak mau berbuat apa-apa. Korupsi memang masalah yang luar biasa besar. Makanya, persoalan ini harus bisa dipecah-pecah menjadi hal-hal yang lebih sederhana yang bisa diselesaikan. Selama ini, kita selalu saja mempermasalahkan tentang pertanyaan-pertanyaan yang susah dijawab karena memang skalanya yang tidak bisa kita jauh di luar, seperti kenapa pejabat-pejabat kita sukanya korupsi? Bagaimana menghilangkan budaya korupsi? Kenapa ada orang-orang yang ingin merevisi UU KPK? (apakah karena mereka korupsi juga?) OTT itu bukti keberhasilan atau kegagalan KPK? dll. Bukannya membahas mengenai dorongan untuk menerapkan tata kelola yang baik/bersih (yang tidak hanya berlaku di institusi pemerintahan harusnya) atau tentang perlunya membuka keran informasi seluas-luasnya yang bisa diakses siapapun agar terhindar dari nepotisme, dsb. Poinnya adalah, lebih mungkin untuk berhasil jika kita bisa menyelesaikan masalah-masalah yang sudah dipecah ini terlebih dahulu (dengan cara terbaik yang bisa dilakukan). So, think again, again? Bandung. Minggu, 1 Oktober 2017
How Does Color Influence Customer Behavior #infographic
"Do you have a CVS card?"
Customer: "Nope!"
Me: "That's alright!" *starts scanning items*
Customer: "..."
Me: "..."
Customer: "I HAVE A PHONE NUMBER THOUGH!"
Me: *looks into the camera like I'm on the office*
Listen, lady.
It isn't my fault I'm out of cash. Why not blame Kyle, who had me break a $100 for a box of condoms and a monster?
The Psychology Behind High-End Showroom Interior Design
Here is where most designers stop at the surface. Let’s go deeper.
1. Lighting that flatters, not floods Elite showrooms rarely use harsh white light. They use warm, layered lighting that makes skin, leather, and metal look richer. Every product should look like it’s glowing from within, not lit from outside.
2. Silence as a design element Most showrooms fear silence and fill it with background music or chatter. But true luxury spaces use silence on purpose. Silence tells the visitor, “This place is calm, exclusive, and not for the crowd.” It slows their heartbeat, and a slower heartbeat leads to a more thoughtful, emotional decision.
3. Walking rhythm, not floor space Cheap showrooms think about how many products they can fit. Elite Showroom Interior Design thinks about how a person moves through the space — where they pause, where they turn, where they discover something unexpectedly. This “walking rhythm” is what makes a showroom feel like a journey instead of a shelf.
4. Materials that age like wine Marble, brass, aged wood, and raw leather are chosen not because they look new, but because they look like they will look even better in ten years. Ultra-rich buyers subconsciously judge whether a brand will last — the materials answer that question before a single word is spoken.
5. Scent as memory This one almost nobody talks about. A signature scent, used subtly, creates a memory link. Months later, that same scent anywhere else will remind the visitor of your showroom. Smell is the strongest trigger for memory in the human brain, and very few designers use this intentionally.
6. The “invisible staff” technique In most showrooms, staff hover and pressure. In elite spaces, staff are trained to be present but invisible — never approaching first, always reading body language, and stepping in only at the exact right moment. This single behavior change can increase sales far more than any decor upgrade.