Hujaman Hujan Bulan Desember
Kucium pipinya, ia tersenyum. Senyumnya terlalu indah hingga aku lupa bahwa ia bukanlah kekasihku. Bukanlah laki-laki yang akan kuajak ke rumah untuk kukenalkan ke orang tua ku.
Ia bukan siapa-siapa.
Saat aku tersadar, mataku sudah berkaca-kaca. Ketika aku baru menyadari dia bukan milikku, ia akan memelukku erat. Sembari mengelus rambutku, ia akan mencium keningku. Mengeluarkan omong kosong tentang betapa ia begitu mencintaiku. Betapa ia hanya mencintaku namun tak bisa melepas kekasihnya dengan beribu alasan tidak masuk akal yang tetap saja kuterima hanya karena aku benci perdebatan yang membuang buang waktu. Bodohnya, aku tak menolak perlakuannya.
Aku terkulai tak berdaya di pelukan pria yang sudah memiliki kekasih.
Bagaimana bisa aku dengan begitu tenangnya menghirup aroma kekasihnya di kemeja biru ini. Bagaimana bisa aku mencium pipinya penuh rasa kasih sayang setelah noda lipstik perempuannya menempel di tempat yang sama?
Ia mengantarku pulang setelah ciuman penuh gairah yang kita lakukan. Demi Tuhan, aku merasa berdosa.
Aku telah menyakiti hati perempuannya di balik mobil ini. Mungkin aku lebih rendah daripada jalang. Betapa kotornya wanita bodoh sepertiku. Aku tak berhenti memikirkan wajah perempuannya jika ia tahu apa yang aku perbuat dengan laki-laki ini.
Oh Tuhan, maafkan aku.
Aku menatap kosong ke jendela mobil, berharap ia takkan memperhatikan air mata yang sedang kubendung sedari tadi. Ia menggenggam tanganku, erat seperti biasanya. Malam ini begitu dingin. Lebih dingin dari sekadar hujaman tetes hujan di bulan Desember. Percakapan yang tak kalah dinginnya harusnya tak terjadi. Namun entahlah, kadang aku memang tak pintar menyembunyikan emosi. Mataku tak mudah berbohong, aku tak bisa lagi menahannya.
"Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa."
"Kau tak banyak bicara hari ini."
"Aku sedang tak ingin basa basi."
"Apa kau lelah?"
Aku tak lagi menjawab pertanyaan dari bibirnya. Aku bahkan tak sedikitpun menoleh padanya. Aku tak bisa menunjukkan wajah wanita lemah yang haus akan kasih sayang dari pria yang sudah memiliki kekasih. Ia memutar setir menepikan mobilnya ke pinggir jalan, mematikan mesinnya. Ia menatapku lembut, membelai rambutku dan mencium leherku. Aku tak membalas sapuan lidahnya di leherku dengan erangan seperti biasanya. Aku diam dingin membeku layaknya orang mati. Layaknya hati ini, yang sudah lebih dulu mati setahun silam. Ia menatapku heran, lalu berhenti menjamahku.
Ia menatap jauh dan mulai menyulut rokok dari kantong kemejanya. Sebatang demi sebatang, ia tak mengatakan apapun. Aku takkan membuka mulutku sampai ia yang mengeluarkan kata-kata terlebih dahulu. Pria ini tak jauh beda denganku. Kami memiliki watak yang sama kerasnya. Aku tahu betul perilakunya. Aku melihatnya bagai buku terbuka, kisah hidupnya kuketahui tanpa harus kutanyakan padanya.
"Jalankan saja mobilnya. Aku ingin pulang."
"Kau ini kenapa sebenarnya?"
"Aku tidak apa-apa."
"Bodoh. Aku bukan laki-laki pinggir jalan yang baru mengenalmu kemarin."
"Oh, jadi kau rasa kau sudah begitu mengenalku?"
"Tentu. Aku bersamamu selama tiga tahun."
"Lalu mengapa masih kau tanyakan aku kenapa saat kau bilang kau sudah mengenalku begitu lama? Seharusnya kau tahu sendiri jawabannya."
"Aku hanya ingin memastikan jawabanmu."
"Bagaimana kau akan mengerti jawabanku jika kau tak pernah mengerti arti diamku."
"Perempuan memang mempersulit semuanya."
"Bercintalah dengan laki-laki kalau begitu."
"Aku tak sebodoh itu."
"Menurutku kau memang bodoh."
"Baik akan kuantar kau pulang. Mungkin kau hanya lelah."
Ia mencium leherku lagi. Aku tetap diam. Disaat ia melahapnya penuh gairah, ponselnya berbunyi. Bodohnya aku melihat jelas ke layar handphone nya, nama kekasihnya lengkap dengan foto mereka berdua. Ia menatapku ragu sejenak. Lalu mengisyaratkan aku untuk tetap mengunci bibirku rapat selama ia menelepon.
Hari ini aku terlempar keras, ditampar oleh kenyataan yang sudah kuabaikan sejak lama. Bukan baru menyadari. Aku sudah sadar sejak lama, hanya saja aku masih berpura-pura bodoh. Bodoh untuk tahu betapa sakitnya hatiku, aku terlalu bodoh untuk menyadarinya. Atau sebenarnya, aku menolak untuk merasa sakit. Aku masih saja berpura-pura mati rasa saat sakitnya sudah menjalar hampir ke seluruh tubuhku. Hati ini lebih dari sekadar remuk, mungkin sudah kehilangan beberapa kepingan di dalamnya.
Aku memandang jauh lewat jendela mobil yang berbembun karena hujan begitu hebat berdebat diluar sana. Setelah beberapa menit berbicara dengan kekasihnya, ia mematikan teleponnya sambil menatapku. Dari matanya, ia meminta maaf padaku. Sontak aku mual, aku ingin menamparnya lalu keluar dari mobil bajingan ini dan tidak lagi ingin melihat batang hidung lelaki bodoh ini. Namun sekali lagi, cinta memang pembodohan. Dengan sisa sisa cinta bodoh yang masih lengket melekat di hatiku, aku takkan sampai hati menampar wajah yang pernah menjadi pendampingku selama tiga tahun.
"Sudah selesai? Antar aku pulang."
"Maaf."
"Tidak perlu."
"Aku serius, aku minta maaf."
"Lupakan saja, ini pertemuan kita yang terakhir aku tidak ingin menghiasinya dengan beribu maaf kosong yang kau lontarkan."
"Apa maksudmu?"
"Tidak usah banyak tanya. Orang bodoh mengosongkan isi kepalanya setiap kalo ia membuka mulutnya."
Kami berdua beradu dalam bisu. Saling mengunci rapat bibir masing-masing. Ia melempar pandangannya sejauh mungkin, begitu juga denganku. Dua manusia yang pernah menjalin hubungan memang seharusnya tidak dipertemukan dalam keadaan seperti ini, tidak saat hati masih bertautan satu sama lainnya. Pria ini membuatku gila. Hati bodoh ini tak mampu lepas darinya, aku sudah putus asa. Dia adalah alasanku untuk tetap terjaga tiap malamnya. Dia juga alasanku meneguk berbotol-botol alkohol tiap petang.
Tenggorokan ini terbakar, namun panasnya tak sebanding dengan hatiku saat melihat perempuan itu bersamanya. Bagaimana aku bisa memiliki rasa pada seseorang yang akan menikah dengan perempuannya tahun depan? Bagaimana aku masih bisa mencium keningnya dengan setiap retakan di hatiku, mengetahui bahwa aku bukanlah miliknya lagi. Bagaimana aku bisa mengucapkan selamat sambil mengayunkan telapak tangannya yang begitu hangat di jemariku saat ia mengatakan bahwa akan segera melamar perempuan bodohnya itu? Cinta bukan lagi soal perasaan, ia menentang akal sehat.
Menggelikan, aku terhanyut di dalamnya.











