Sebuah kebodohan di mana kau tahu bahwa ia tak lagi mengingatmu, bahkan tak lagi mencintamu tapi sayangnya otakmu masih disibukkan dengan pemikiran tentang kabarnya yang ingin kau tau.
Mau sampai kapan menunggu dia dalam angan? Mau sampai kapan menanti dia yang tak kunjung ada kabar? Mau sampai kapan berharap dalam ketidakjelasan hubungan?
Sesama perempuan yang mungkin (pernah) sefrekuensi denganmu saat ini. Aku tahu sakitnya dilupakan padahal sedang sayang-sayangnya. Aku tahu pedihnya kenyataan saat pergimu tak membuatnya merasa kehilangan. Aku tahu rasanya diabaikan tanpa diberi penjelasan. Aku tahu sesaknya menanti dalam kegaduhan pikiran. Aku tahu pedihnya tak diindahkan oleh seseorang yang tersayang.
Semua aku pernah.
Beruntung aku tidak sebodoh kalian-yang masih bertahan dalam ketidakadilan perasaan. Merasa menjadi korban padahal itu hanya perihal kewarasan dalam mencinta. Selama kau masih bisa berpikir dengan logika iman, aku yakin kau tidak akan berlarut-larut dalam penantian semu seperti ini.
Sudah saatnya kau melangkah memperbaiki dirimu juga hidupmu. Jangan berhenti hanya karena ia tak lagi menganggapmu sosok yang berarti. Semua akan baik-baik saja meski tanpanya.
Dan bukankah aku selalu bilang, bahwa sebaik-baik dirimu-yang sedang patah hati hebat-adalah memperbaiki diri menjadi lebih shalih, lebih cantik dan lebih cerdas lagi. Agar kelak, tanpa kau sadari dia sendiri yang akan datang mengetuk pintu hatimu bahkan mengemis memintamu kembali. Percayalah.
Jikapun tidak, kau sudah bisa membuktikan pada dunia bahwa cinta tidak membuatmu kehilangan akal sehat untuk terus terpaku dan tidak melanjutkan hidup.








