Nadzhor Sebelum Melangkah Ke Tahap Akad
Untuk pertama kalinya Allah izinkan aku melihat sosok pria yang akan menjadi teman dalam perjalananku ke depan.
Aku telah memasrahkan seluruhnya kepada Allah. Aku benar-benar pasrah pada keputusanNya sebab aku percaya bahwa itu adalah yang terbaik untuk kami berdua.
Pertemuan yang ditunggu-tunggu----
Aku memakai baju berwarna pink dengan jilbab hitam syar'i yang terurai panjang tanpa cadar untuk pertama kalinya.
Hari itu aku tidak sabar untuk bertemu dia. Sambil dzikir, aku mencoba menenangkan diri. Hingga akhirnya tibalah waktu yang di nanti-nanti.
Laki-laki gagah berkulit putih itu akhirnya tiba di rumahku. Mengendarai mobil pribadinya dan membawa bingkisan ringan.
Sungguh, aku tidak sanggup untuk memandang wajahnya padahal aku tahu bahwa nadzhor adalah waktu yang diperbolehkan untuk melihat calon pasangan. Tetapi saat itu aku benar-benar tidak mampu. Hatiku berdebar karena malu. Keringat dingin bercucuran karena grogi. Aku bahkan tidak bisa melihat diriku yang anggun, yang percaya diri-ketika aku berada tepat di hadapannya.
Laki-laki ini benar-benar gagah terlihat sekilas olehku. Aku hanya bisa mencuri-curi pandang padanya dan begitu pula sebaliknya. Ia melihatku sesekali, begitu kata ibuku. Dan aku pun melihatnya sesekali ketika matanya sedang tertuju pada yang lain. Pertemuan itu benar-benar mendebarkan. Padahal belum ada cinta yang mendominasi di dalam hati. Hanya sebatas ketertarikan yang mungkin akan hilang suatu hari nanti.
Aku melihat dalam diri laki-laki itu sebuah ketenangan. Ia tidak terlihat kaku sama sekali. Sungguh bijak ia menyembunyikan perasaan yang mengganggu itu. Masya Allah. Aku benar-benar salut padanya.
Tak ada kurangnya yang terlihat dari segi fisik. Walaupun tinggi badannya tidak sesuai dengan yang kuinginkan, tetapi kecakapan wajahnya yang meneduhkan itu benar-benar mampu membungkam seluruh kriteria laki-laki shalih yang dulu pernah kuagung-agungkan.
Ya Allah, apakah pantas laki-laki sebaik dan segagah dia bersanding denganku yang sederhana ini? Gumamku dalam hati.
Merasa tidak percaya diri karena Allah mengirimkan sosok pria yang bahkan jauh dari ekspektasiku selama ini.
Ga nyangka aja sebaik itu Allah mengabulkan doa-doa. Masya Allah, Tabarakallah.