seen from India
seen from Netherlands

seen from Malaysia

seen from Sweden
seen from United States
seen from United States
seen from Netherlands

seen from United States

seen from Malaysia
seen from Germany
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from China
seen from Germany
seen from China
seen from China
seen from Malaysia

seen from Singapore
Aku tidak pernah sekalipun menyesali diamku, tetapi aku berkali-kali menyesali bicaraku. (Umar bin Khattab)
Sebenarnya saya cukup tersentil dengan kalimat tersebut. Waktu kebetulan baca itu di story yang lewat, tiba-tiba.. deg. Seketika itu juga saya berpikir, "Wah, bener nih."
Saya seringkali merasa begitu. Setelah kalimat terucap baru kemudian menyesalinya. Mungkin maksud hanya bercanda, tapi tidak tau apakah lawan bicara saya menangkapnya seperti apa yang saya maksudkan.
Kadang kala menyesal karena berucap dalam keadaan marah dan kesal. Ketika emosi sudah memuncak, biasanya ada saja hal-hal yang terucap tanpa difilter terlebih dulu.
Sudah berulang kali saya mengalami ketika lawan bicara saya tidak menangkap maksud saya. Maksud hanya bercanda, tapi ketika saya yang berbicara, bukan dianggap candaan tapi serius, sedangkan orang lain yang bercanda seperti itu terhadap orang yang sama, bisa dianggap sebagai candaan.
Mungkin pribadi yang berbeda bisa menimbulkan persepsi yang berbeda bagi orang lain ketika membicarakan hal yang sama. Saya sudah memikirkan ini jauh sebelum saya menuliskan tentang ini. Itulah kadang saya memilih diam di beberapa lingkup pertemanan saya, daripada akhirnya saya menyesali perkataan saya yang saya tidak tau apakah perkataan itu akan menyakiti hati orang lain atau tidak.
Dipikirkan kembali, ketika kita diam saja, tak ada yang perlu kita sesali, kalau toh kita merasa seharusnya kita berbicara, tapi nyatanya tidak, kita bisa membiarkan kejadian itu berlalu begitu saja. Let's say, ya sudahlah. Tapi ketika kita berbicara, perkataan yang sudah kita ucapkan tidak dapat ditarik kembali, mau bagaimanapun caranya, walaupun kita bilang, "Sori, tadi salah ngomong. Lupain aja ya yang tadi". Nyatanya, melupakan tidak segampang itu. Ketika perkataan sudah terlanjur diucapkan, ya sudah, tidak dapat ditarik lagi, pasti akan ada seseorang yang mengingatnya.
Baca kalimat itu benar-benar jadi reminder untuk saya secara pribadi, yang nyatanya adalah manusia yang suka berbicara tanpa difilter (ceplas ceplos). Saya masih terus belajar untuk mengontrol emosi dan perkataan, berbicara setelah dipikirkan dengan matang, menghindari kata makian, dan masih banyak lagi.
Oleh karena itu, mohon doanya ya teman-teman semua, agar proses pembelajaran yang saya lakukan bisa dilancarkan dan diberikan keistiqomahan dalam menjalankannya.