"Allah menguji dirimu melalui dirimu,"
begitulah kata para sufi. Banyak orang merasa diuji oleh keadaan, padahal sebenarnya didorong oleh bagian dirinya sendiri yang belum disadari. Kalau kata Carl Jung mah, "until you make the unconscious conscious, it will direct your life and you will call it fate."
Beliau juga bilang, "everything that irritates us about others can lead us to an understanding of ourselves." Maksudnya, reaksi kita adalah cermin dari diri kita, maka lagi-lagi, ujian itu sebenarnya datangnya dari dalam.
Anw, pernah nggak sih mengalami itu? Misal mempercayakan satu sisi dirimu untuk mengambil keputusan (karena kamu tau dia paling rasional) meski di saat yang sama kamu juga tau, ada sisi lain yang harus dikorbankan untuk itu?
Menurutku, bulan April jadi salah satu bulan paling gedebag-gedebug karena beberapa identitas di dalam diriku saling nantangin gitu satu sama lain. Setiap hari di bulan itu aku habiskan untuk mendiferensiasi banyak hal, mulai dari emosi, persepsi, pikiran, sebab-akibat, perilaku, implikasi, dan lainnya. Konyolnya aku selalu memenangkan sisi rasionalku di atas sisi lainnya. Diriku yang X hampir mengambil alih semua proses pengambilan keputusan, sampai-sampai aku yang Y, Z, dan lainnya cuma bisa mojok. Boro-boro "didengar", kayaknya sebelum ngomong pun dibungkam.
Cuma rasanya jadi menyebalkan gitu karena hari-hari jadi berjalan begitu dingin dan nonchalant 😐 wkwk. Rasanya aneh, kayak bukan aku.
Akhirnya baru hari-hari ini aku mau mencoba mengizinkan sisi Y, Z, dan lainnya berbicara. Awalnya sulit menemukan "bahasa" untuk itu karena tadinya sengaja kubiarkan implisit, jauh di lapisan bawah sadar yang lebih dalam. Aku kira dengan bersikap seolah nggak terjadi apa-apa bakalan aman aja. Ternyata enggak, hahaha. Tau dari mana? Hal itu udah kebawa mimpi lebih dari 3x dan tiap bangun selalu bikin nyesek dan sedih, maka itu artinya memang belum beres di alam bawah sadar.
Tentu aja prosesnya pun nggak mudah buat sampai ketemu di akurasi dan relatability 100%. Aku terus menerus merevisi "versi diriku" in present, memastikan ini identitasku yang mana yang lagi bicara, mengoreksi kembali stance-ku sebagai apa dan di pihak mana ketika memandang dan membuat penilaian. Jadi bahkan di satu kasus tuh aku bisa punya beberapa pendapat, jika ini diri yang X maka dia bakalan menyikapi begini, tapi menurut diri yang Y dan Z sih lebih ke begini.
Aku bersyukur manusia itu makhluk yang diberi kemampuan untuk menamai sesuatu dan menjadikannya eksplisit. Karena tanpa itu, semua yang terjadi di dalam tadi cuma bakal jadi satu gumpalan yang nggak jelas. Selain itu, aku jadi banyak membaca (lagi) baik itu konteks nyata di manusia lain maupun fiksi. Untungnya Allah juga ciptakan pena dan manusia-manusia baik yang mau mengabadikan cerita hidupnya untuk jadi sampel tambahan dalam proses iqra-ku.
Oleh karenanya, aku mau bangga sedikit dengan diriku karena selalu melibatkan Allah dalam prosesnya, terlepas ideal ataupun tidak. Aku cukup puas dengan keputusan yang diambil oleh "diri rasionalku" di awal. Aku senang bahwa diri rasionalku yang excited itu membuat diri-diriku yang lainnya tidak terluka.
Masalahnya ini nggak efektif dalam jangka panjang. Bagaimanapun juga, bagian diri yang nggak didengar itu bisa bangkit dan berteriak, "SAYA AKAN LAWAN!" 😡😤 wkwkwk. Jadi sebelum bom waktu itu tiba, aku mesti beresin. Huft.. inilah gilirannya.
Mendiferensiasi tidak pernah sesulit ini sebelumnya. Normalnya kita berharap identitas-identitas di dalam diri kita tuh nggak bertentangan, kan? Dan biasanya, pada umumnya/pada dasarnya kita jarang menempelkan sesuatu sebagai identitas kalau itu nantinya akan bertentangan dengan identitas kita yang lain. Kita tau lah, mana yang labelnya secara moral/ethics bertentangan.
In reality, konflik tuh bisa muncul kemudian (bukan di level label). I mean, bukan identitasnya yang bertentangan, tapi tuntutan nyata dari masing-masing identitas itu bisa saling tarik menarik. Kalau secara nilai mah sebenernya nggak ada yang salah, bahkan idealnya bisa saling mendukung antar identitas. Cuma pasti ada aja situasi di mana semua identitas nggak bisa dieksekusi bersamaan tanpa gesekan. Soalnya semuanya sama-sama bermakna dan kita nggak bisa menjalankannya sekaligus tanpa kehilangan sesuatu.
Aku telah mengizinkan diriku menangis dan berduka untuk tidak didengarnya identitas diriku yang itu. Aku telah mengizinkan diriku yang itu berbicara, meski awalnya terbata-bata. Ya, aku terluka, sebenarnya. Aku berduka.
Jadi selama ini aku bukannya nggak punya perasaan. Aku hanya terlalu cepat mengubah itu jadi sesuatu yang bisa kupahami. Atau loncat dan berpegang ke identitas lain yang lebih less sensitive. Kupikir, kalo udah bisa dijelaskan, maka perasaan itu nggak perlu dirasakan terlalu lama. Atau, kalau aku memilih menjadi diri yang X, maka problem yang mungkin muncul di identitasku yang Y maupun Z nggak akan ada. Padahal kan nggak gitu ya?
Terus gimana?
Waktu dan konteks main di sini. Emang ada momen satu bagian tertentu perlu maju sedikit ke depan, karena situasinya memang menuntut itu. Meanwhile bagian lain (yang sama-sama bermakna) harus rela berada sedikit di belakang. Gitu kan ya? Implikasi dari menjalani satu bagian dari diri kita secara penuh adalah hampir selalu nggak menjalani alias memberhentikan bagian lain dengan cara yang sama pada saat yang sama.
Re-framingku di sini, bagian yang sempat tidak kudengar tadi, ternyata emang nggak harus hilang. Kemarin salah treat diri sendiri sebab langsung mengingkari bagian itu. Kalo sekarang mah, aku sedang memilihkan waktu untuknya saja. Aku sedang memberinya bahasa sembari dia menunggu giliran bicara. Perlahan konteks dan tuntutan pun berubah, waktu pun berjalan, dan aku yakin akan lebih mampu menempatkan mereka sesuai porsi.
Maha Suci Allah yang begitu kompleks menciptakan jiwa dan otak manusia. Yang menanamkan begitu banyak lapisan dalam satu diri. Yang menjadikan hati mampu merasakan sekaligus menimbang. Yang mempertemukan antara rasa yang rapuh dan akal yang ingin rapi. Yang membiarkan keduanya bertemu, bertabrakan, lalu belajar saling mengenali.
Maha Suci Allah yang menjadikan bahkan kebingungan sebagai jalan, dan keterlambatan memahami sebagai bagian dari proses pulang. Yang memberikan fitrah pada manusia, agar di setiap kemungkinan dan setiap identitas yang kita jalani, kita tetap punya kesempatan yang sama untuk memilih Dia.
— Giza, amazed dengan tanda-tanda kebesaran Allah dalam diri dan otak manusia

















