Disini aku berbicara tentang kebebasan. Tentang caraku bersosialisasi, tentang caraku berpikir dari setiap sudut pandang, tentang yang juga orang lain pikirkan, dan tentang yang orang lain lupakan. Percayalah setiap apa yang terjadi adalah suatu pelajaran untukmu. Percayalah bahwa segala sesuatu yang datang di dalam hidupmu adalah hal yang membentukmu. Ya walaupun tak semua dapat membentukmu menjadi baik. Aku bersosialisasi dengan banyak kaum. Diriku dengan mudah bermimikri seperti iguana. Menyesuaikan keadaan. Fleksibel. Pada suatu hari aku bersama dengan kaum kaya yang hedon. Dimana mereka menghabiskan puluhan bahkan ratusan ribu hanya buat makan. Atau jalan-jalan ke tempat-tempat mahal lainnya seperti jalan-jalan ke luar negri dengan uang (orang tua) mereka, beli barang-barang bermerk dan mahal. Ya begitulah. Disitu, hanya satu pertanyaanku, "Apa kekurangan mereka?". Pada suatu hari yang lain, aku bersama dengan kaum pintar. Dikaum tersebut terdapat dua golongan yaitu yang pintar sekaligus baik, dan yang pintar tapi culas. Aku selalu merasa paling bodoh dan harus banyak belajar lagi. Dari situ aku tau bahwa ilmu yang aku miliki masih sangat kurang. Pada hari yang lain, aku bersama dengan kaum penggosip. Cerita sana cerita sini. Entah itu keperluannya atau bukan. Entah punya kepentingan atau tidak. Apa saja kabar, mau kabar baik mau kabar buruk, semua disampaikan. Entah fakta entah bukan fakta semua dikuak. Berjam-jam hanya untuk menggunjing. Well, ini kaum lebih menakutkan daripada kaum hedon walaupun terkadang aku juga berada diantara mereka. Sebisa. Mungkin. Aku. Tidak. Membicarakan. Aib. Di hari yang lain, aku bersama dengan kaum pemikir. Ampun. Aku selalu kalah kritis. Tapi aku suka kekritisannya. Sedikit omong, dan aku mengakui kebenarannya. Kebanyakan dari mereka cuek dengan hal-hal yang "tak penting". Lalu aku bersama dengan kaum pendebat. Telingaku selalu panas dan tanganku selalu ingin menamparnya hanya saja aku masih tau etika. Dia selalu menanyakan hal yang sepele yang secara rasional dapat mereka jawab sendiri. Dan mereka bertanya hanya untuk menguji lawan. Lalu setelah dijawab didebatnya jawaban itu. Hingga dia merasa puas kalau dia 'menang'. Aku sadar bahwa, kaum intelektual pasti punya cara berbicara yang baik dalam suatu perdebatan. Satu hari dengan kaum penggalau. Disini aku harus dengan sekuat tenaga membesarkan hatinya. Segala sesuatu akan dibawa perasaan. Saat dengan kaum ini, segala keputusan akan diragukan. Segala kesalahan akan dimasukkan hati. Jadi, aku. Akan. Sangat. Berhati-hati. Dalam. Bertindak. Agar. Tidak. Melukainya. Kaum yang paling menyenangkan adalah kaum cuek bahagia. Apapun masalah yang mereka hadapi selalu dibawa santai. Keyakinan mereka bahwa setiap masalah selalu ada jalan keluarnya. Berfikir luas. Tak pernah berat hati. Suka tersenyum dan ketawa. Menggunjing aib diri sendiri. Apa adanya. Jujur. Selalu bersama. Betapa nyamannya bersama kaum yang satu ini. Dan kaum yang terakhir adalah kaum pekerja keras. Entah dia bekerja keras untuk menghidupi hidupnya, atau dia yang bekerja keras untuk menopang keluarganya, atau dia yang bekerja keras untuk tetap sabar menjalani cobaan di hidupnya. Kaum yang satu ini selalu berhasil membuatku merasa bersyukur dan merasa iba. Sekaligus membuatku menjadi orang yang paling hina. Aku menjadi bersyukur dengan hidup cukup yang aku miliki. Tak harus banting tulang hanya untuk mendapatkan uang jajan. Tapi aku menjadi sangat hina ketika aku masih mengeluhkan hidupku padahal kaum ini tidak memiliki apa yang aku punya. Aku terkadang menyalahkan keadaan jika keadaan tersebut menyakitkan. Padahal ada yang hidupnya jauh menyakitkan dari aku, masih bisa tertawa dan bersyukur. Mereka bekerja keras untuk membesarkan hati mereka sendiri sehingga mereka menjadi pribadi yang kuat. Hinanya aku yang terluka sedikit saja sudah menangis disaat mereka yang tercabik masih bisa berdiri tegak. Sebegini dulu kaum yang aku tulis. Setidaknya kaum-kaum diatas adalah yang sering muncul di hidupmu. Berfikirlah luas. Ambil hikmah dari setiap apa yang kamu lihat, kamu rasa, dan kamu dengar.