Tagar dirumahaja menggaung di jagat sosial media. Dalam sejarah, manusia “rebahan” bisa menyelamatkan dunia. Well, ga rebahan juga sih. Tetap beraktifitas, tapi di rumah saja. Agenda jalan-jalan, nongkrong cantik, joget-joget, dan ragam wacana terpaksa ditunda. Bahkan kerjapun di rumah.
Blame the COVID-19. Virus ini datang dengan segala kerumitannya membuat seluruh dunia melambat.Tapi aku tidak ingin membahas tentang COVID-19. Aku ingin membahas tentang kita dan tagar dirumahsaja. Aku suka di rumah – thank God I’m introvert. Hari ini tepat sebulan sejak pertama kali ikut arus #dirumahaja. Ngapain aja? Minggu pertama, diisi dengan kepanikan. IYA. PANIK. KARENA OVERTHINKING. Padahal sebenernya ga perlu lah sepanik itu, take it slow. It is what it is. Minggu kedua, diisi dengan kegabutan yang hakiki, karena biasa hari kerja sibuk dari pagi sampe malam di luar rumah, sekarang 24/7 di rumah. IYA. BENER-BENER DI RUMAH, keluar rumah hanya karena harus beli bahan makanan yang habis. Selebihnya, kalau sudah selesai kerja, menghabiskan waktu dengan nonton film. Serial-serial film dengan sedikit episode, bisa dibabat habis dalam 1 – 2 hari, karena emang ga ada kerjaan. GABUT TINGKAT TINGGI. Bahkan saking gabutnya, memutuskan untuk membuka aplikasi resep – baru buka aplikasinya aja, karena pengen masak, dan berfikir, apa mungkin aku berbisnis kecil-kecilan. Lumayan, buat nambahin jajan. Karena menurut Om Bob Sadino, bisnis yang bagus itu adalah bisnis yang dikerjakan, bukan cuma ditanyakan. Minggu ketiga, penuh dengan keinginan yang random. IMPULSIF. BIASA. Dari pengen punya oven – padahal ga bisa masak, sampe pengen gadget baru. Padahal seharusnya dalam kondisi ini harus bersikap siap siaga kalau keadaan memburuk – that’s me being overthink and random at the same time. Minggu keempat, akhirnya mulai mencoba memasak. Sejak menikah, baru 2 kali aku masakin suami. HAHA, MAAF YA, PAK! Dan cuma 6 bulan masakin anak kecil, karena MPASI tidak perlu ke dapur. Bukan karena males, karena emang ga minat aja di dapur, dengan segala kerumitan mengubah bumbu-bumbu menjadi sesuatu yang bisa dimakan. Akhirnya, akupun bisa membedakan mana kemiri dan ketumbar, lengkuas dan jahe, serta tau harga bawang dan telur di pasar. Menghidangkan sarapan, walau hanya roti bakar dan scrambled egg, lalu menu makan siang spageti kesukaan anak kecil.
THANKS TO
APLIKASI RESEP MAKANAN!
So, what’s next?
Aku mulai memukan ritme baru, kegiatan-kegiatan online yang bisa diikuti, ada beberapa rencana untuk ikut kelas online, menulis di blog yang sudah setahun lebih punya “rumah” tapi malah ga keurus, main musik lagi – ayok, buat yang mau collabs online! dan yang terpenting adalah olahraga. Mencoba untuk take it day by day. Mengurangi overthink dan berusaha positif. HARUS BISA.
It’s called self-love.
So, stay safe and healthy, lovely people!
See you soon! Cheers!












