Seminggu yang lalu, 3 gereja dan 1 markas polisi Surabaya diledakkan bom. Banyak statement bermunculan, mulai dari ujaran kebencian, prasangka, dan segala pemikiran lainnya. Teruntuk Ibu Risma, terima kasih bu, sudah menjadi ibu terbaik bagi warga Surabaya. Jika memang cinta Surabaya, mari membantu bu Risma untuk membenahi dan memulihkan kembali kenyamanan Surabaya seperti sedia kala, dengan bersikap yang baik, dan saling menguatkan. Sehat terus bu, semoga nanti, akan banyak generasi perempuan tangguh seperti ibu:)
Terorisme, kata yang cukup sensitif. Bom di Surabaya bukan kasus yang pertama, melainkan sudah kesekian kalinya, setelah Bali, Jakarta, dan daerah lain. Miris dengan perbuatan aliran-aliran yang entah darimana asal pemikirannya dan atas apa dasarnya. Jihad itu benar, tapi cara dan pola pikirnya yang salah. Bagaimana kekuatan doktrin begitu melakat hingga membuat satu keluarga akhirnya memutuskan untuk melakukan bunuh diri dengan bom, it's like what? Orang bunuh diri mana yang masuk surga?
Mengesalkan dan menyedihkan, dimana Indonesia negara demokrasi yang bhinneka tunggal ika, dipecah belah dengan aksi seperti ini. A deep condolences untuk keluarga korban, semoga diberi keikhlasan dan korban diterima di sisi Tuhan YME. Adanya peristiwa ini, semoga menjadikan kita sesama saudara sebangsa dan setanah air, bisa semakin merangkul dan menghargai perbedaan. Mencoba untuk tetap bersikap baik pada semua orang, termasuk keluarga teroris, karena mungkin mereka tidak tahu apa-apa namun harus ikut terseret dan dibenci, such an unfair, isn't it? Islam dan semua agama lainnya, selalu mengajarkan kebaikan dan kasih sayang, jika kita mengaku beragama, apa salahnya untuk mengamalkan nilai-nilai tsb?
Jika kita tidak terima teroris adalah orang islam dan mengatakan terorism has no religion, maka mari kita juga berkaca pada diri sendiri. Teroris itu mungkin, bisa saja muslim, tapi muslim yang salah, yang melakukan kesalahan besar dan merugikan banyak orang, menodai ajaran agama islam. Dan kita, yang juga mengaku muslim, sudahkah kita menjaga nilai islam? Bukankah banyak sekali yang juga mengaku muslim tetapi menodai nilai islam, dengan meninggalkan sholat, menomor ke-sekian-kan ibadah. Atau mungkin, tidak memahami esensi puasa di bulan romadhon. Puasa itu menahan diri dari segala hawa nafsu, amarah, jadi kalau mengartikan puasa itu cuma tidak makan dan tidak minum, ya buat apa? Kalau ada orang, dia nggak makan nggak minum mulai imsak sampai adzan maghrib, tapi pacaran di pagi, siang, atau mungkin sore hari. Mulut nyinyir sana sini. Meninggalkan sholat. Apakah itu juga bisa disebut puasa?
Everyone makes mistakes. Akan lebih indah jika saling menyadari kesalahan masing-masing dan bersama-sama memperbaiki menjadi lebih baik lagi. Pray for Indonesia, semoga keamanan negeri kita tercinta ini bisa semakin terjaga. Serta warga negaranya memiliki kesadaran untuk menjaga keutuhan dan keharmonisan NKRI. Spread Love♥