Menembus Rasionalitas Kebudayaan Kita
Perdebatan mengenai keanekaragaman di negeri ini memang ibarat gula yang dikerubuti semut, setiap saat ada, kalaupun tak ada maka bisa diada-adakan dan selalu menarik perhatian khalayak. Jangankan kita, wong dua orang tokoh pendiri bangsa ini, Sukarno dan Hatta juga acapkali terlibat perdebatan sengit mengenai cara pandangnya terhadap nusantara. Alasannya? Salah satunya disebabkan oleh begitu kayanya sumber daya manusia yang kita miliki.
Bung Hatta menganggap perbedaan potensi baik dari segi geografi, demografi, suku, ras dan agama sebagai sebuah ketidakmungkinan untuk menyatukan Sabang hingga Merauke, Miangas sampai Rote di bawah satu bendera Republik. Beliau mengajukan konsepsi Federasi sebagai bentuk negara. Bung Karno, yang sejak awal mempunyai mimpi untuk menyatukan nusantara di bawah satu kesatuan negara tetap keukeuh dengan konsep Republik. Perasaan nasib sebagai suatu bangsa yang terjajah menjadi kunci Sukarno untuk meleburkan semua perbedaan di dalam satu bendera Indonesia.
Indonesia ini begitu besar dan kaya, ironisnya semua itu berkat sumbangan akibat banyaknya perbedaan yang kita miliki, sesuatu yang selama ini selalu dijadikan kambing hitam atas isu perpecahan. Mengutip apa yang dikatakan Anies Baswedan saat menjadi juru kampanye tim pemenangan Jokowi-JK pada 2014 silam, bahwa sudah saatnya kita beralih pada pengoptimalan kekayaan sumber daya manusianya bukan lagi fokus pada eksploitasi alam. Sumber daya alam bisa habis dalam jangka waktu tertentu, namun eksplorasi terhadap pengembangan manusia tak akan lekang oleh zaman.
Dari segala kekayaan dari keanekaragaman yang bersumber pada manusia ini, kebudayaan menjadi salah satu produk yang selalu diperbincangkan. Perbedaan latar belakang di tiap daerah menumbuhkan perilaku atau kebiasaan unik manusianya, yang kemudian menghasilkan produk unik nan orisinil bernama kebudayaan. Indonesia dikarunai oleh Tuhan kekayaan sebanyak 17.504 pulau dan 1.340 suku bangsa di dalamnya. Terbayang bukan sebanyak apa ragam jenis budaya yang kita miliki?
Tentunya dengan banyaknya faktor, perbedaan budaya di tiap pulau, wilayah, pulau dan kepulauan merupakan sebuah keniscayaan. Budaya Sumatera akan berbeda dengan Jawa, begitu pula adat-istiadat Toraja akan berlainan dengan Wamena. Akan sangat sulit menggeneralisasi semua kekayaan ini dalam satuan yang sama, maka dari itu dibutuhkan perspektif dari pelbagai sudut, keluasan hati dan keadilan pikiran untuk mencerna semuanya satu-persatu. Rasanya kurang bijaksana apabila kita menilai sesuatu hanya memandang dari satu kacamata saja.
Bila logika kita bebal, maka akan ada banyak hal dari budaya-budaya di nusantara ini yang akan menabrak akal sehat kita dan berhenti di ruang penghakiman sempit. Misalnya, di Pulau Nias, laki-laki telah dikatakan mencapai tahap kedewasaan apabila ia sanggup melewati prosesi adat bernama Fahombo, yakni dengan cara melompati sebuah batu besar setinggi dua meter. Padahal, dalam Islam telah dijelaskan, salah satu parameter seorang laki-laki telah memasuki usia dewasa atau aqil baligh ketika ia telah mengalami mimpi basah, sesederhana itu. Lalu mengapa repot-repot melompati batu besar hanya untuk menunjukkan seorang laki-laki sudah dewasa? Sekali lagi apabila logika kita bebal, apakah upacara adat semacam itu bisa secara rasional diterima isi kepala kita?
Mengapa butuh waktu dan bermacam perspektif untuk dapat memahami sebuah kebudayaan? Sebab, dalam hemat saya budaya atau adat istiadat yang berlaku dalam masyarakat adalah salah satu cara manusia untuk beribadah kepada-Nya. Dalam beberapa hal, dimensi budaya bersinggungan dengan dimensi agama. Budaya lebih dari sekedar simbol, melainkan suatu identitas hidup. Apabila kita memaksakan norma yang kita anut tanpa mengetahui setiap hal dari segi esensial dan substansial, lantas apa bedanya kita dengan pemerintah Orde Baru yang berkeinginan menghapus Koteka dari bumi Papua atas nama modernisasi?
Untuk menjauhkan diri untuk berfikir dan bertindak serampangan dalam memandang budaya, agaknya kita belajar kepada sosok Wali Songo. Sejarah menunjukkan betapa luasnya hati dan pikiran para Sunan untuk menyebarkan kebaikan di tanah Jawa. Alih-alih sibuk melarang, menyebarkan kebencian dan berusaha menghapuskan budaya Jawa yang saat itu sangat kental dengan kepercayaan animisme dan dinamisme, Wali Songo justru mencoba memasukkan nilai-nilai ajaran Islam melalui medium-medium kebudayaan yang ada. Hasilnya? Bisa kita ketahui berapa prosentase penduduk tanah Jawa yang memeluk agama Islam hingga hari ini. Rasanya Islam takkan berkembang hingga sepesat ini apabila dulu para Sunan mengajarkan nilai-nilai kebaikan melalui cara yang berujung pada kekerasan.
Satu hal, janganlah membenci sesuatu yang tidak kita ketahui benar substansinya. Menembus rasionalitas sempit dengan belajar, belajar dan belajar akan membuat kita menjadi manusia yang memaknai setiap liku yang ada pada hidup.
Fragmen 3 Oleh: @menujusenja
__________
@djanganloepa baca Selengkapnya di halaman kami.
Fragmen 1 oleh @dimazfakhr
Fragmen 2 oleh @abangkumis
Fragmen 3 oleh @menujusenja
Fragmen 4 oleh @roushonism











