Refleksi Sepekan Kemarin #TME
Catatan ini murni saya tulis dalam rangka berusaha bangkit dan menyembuhkan jiwa saya, yaitu melalui terapi menulis ekspresif #TME. Sehingga, bila ada yang merasa tidak nyaman, boleh langsung diskip saja ya :”)
Beberapa waktu terakhir, saya memilih untuk tidak menerima sesi konsultasi melalui japri tanpa tedheng aling-aling. Bukan karena apa-apa, melainkan diri sendiri harus terlebih dahulu dalam kondisi stabil, daripada memaksakan menerima klien dalam kondisi labil. Masih, saya masih menerima klien yang sifatnya dari lembaga/institusi tempat saya bekerja, untuk konsultasi, dengan topik yang terbatas juga.
Sejak divonis sebuah kondisi yang dilabel sebagai “infertilitas”, rasa percaya diri saya sempat hancur berkeping-keping. Tiap hari selalu menangis, meski tidak lagi bersuara. Jam tidur kadang berkurang drastis, atau bahkan kebanyakan. Rasanya bayang-bayang rumah sakit masih nampak jelas, bagaimana dokter menyampaikan bahwa bayi tabung adalah promil teraman daripada memaksakan memperbaiki kedua tuba falopi (yang diprediksi tersumbat) dan dapat menimbulkan kehamilan ektopik (hamil di luar kandungan). Jujur, ketika mendengar itu rasanya seperti kesetrum listrik. Ada beberapa hal yang membuat saya sangat putus asa dan kembali ke jalan pintas: nangis, nangis, dan nangis.
Semua ucapan, rasanya hambar. Bahkan ada yang bertanya “HOW DO YOU FEEL?”. Saya akhirnya memutus perbincangan itu sambil mengajaknya untuk bertanya ke dirinya sendiri, jika berada dalam posisi saya. Ada juga yang mendoakan, semoga dicukupkan rizkinya untuk program bayi tabung. Bener banget doanya, ngga salah sama sekali. Hanya saja mental saya yang masih belum bisa menerima kalimat-kalimat yang rasanya..... sedikit kurang empati. Namun balik lagi, kenapa saya harus berekspektasi semua orang memahami kondisi sedih saya? Siapa yang saya cari sebenarnya? Kepada siapa saya sudah bersandar selama ini?. Saya yang awalnya terbaring, kemudian duduk dan berpikir kembali atas semua perasaan yang saya alami. Valid, namun sampai kapan saya harus bertahan dari perasaan ini?
Di balik kondisi di luar ekspektasi yang Allah berikan sebagai ujian pernikahan kami, rasanya bersyukur sekali dipilih dan memilih mas Aldo sebagai suami saya. Nggak kebayang, kalo saya harus menjalani dengan orang yang tidak se-sabar, se-pengertian, se-tegas, dan se-sayang dia. Mas Aldo cuma manusia, dengan sejumlah kekurangan dan kekhilafan, namun semua itu rasanya tak ada artinya dibanding seribu satu kesabaran yang dia lewati disini, bersama saya, menghadapi saya yang sangat labil dan mudah menangis. Terlebih, saya sampai detik ini masih mudah ter-trigger jika berinteraksi dengan orang lain dengan sejumlah kemungkinan perbincangan yang muncul. Kepada orang-orang terdekat, mungkin saya berani untuk meminta izin bahwa saya akan slow respon atau mungkin tidak akan membalas sejumlah chat panjang yang berisi semangat dan sebagainya. Saya juga meminta izin untuk tidak membalas chat orang yang masih bertanya, “Masak sih nggak ada obatnya?” . Sepertinya teman saya langsung tersentak dan merasa apa yang dilakukannya kurang tepat. Emang. Maaf ya temans~ :) Tapi, dengan begini sebenarnya saya jadi tahu lho reaksi spontan dari orang-orang terdekat saya. Sekali lagi, ngga ada yang salah dan ga ada yang bisa kita ekspektasikan dari siapapun.
Sepekan terakhir, sebenarnya tidak se-sedih itu. Saya masih bisa masak, masih bisa mengajar (meski off camera karena mata bengkak), masih bisa jajan, pacaran berdua nyobain pentol kabul (duh enak banget nih bumbunya, haha). Kami juga masih melakukan aktivitas sehari-hari yang sudah semestinya kami lakukan, meski awalnya tentu berat: tapi ternyata bisa kok. Alhamdulillaah. Qadarullah, di masa-masa labil ini, saya lalai dan menjadi korban penipuan yang mengaku sebagai agen sebuah bank, dan mengaku bahwa kartu saya harus diganti. Saya secara sadar menuliskan email dan password saya di sebuah link abal-abal yang mereka berikan. Ketika saya ditanya CVV, DEG! saya langsung tersadar dan segera menutup telepon. Beberapa detik kemudian kemudian saya menerima email bahwa “akun Jenius anda telah dialihkan”. Saya langsung menghubungi call center semua bank yang saya gunakan untuk memblokir akses (mobile banking, sms banking dan internet banking). Saya sadar, sedang labil dan selemah-leman iman, kepancing sama orang yang ngaku mau mbantu pemblokiran akun, nyatanya malah meretas akun saya. Meski saya sudah mengganti semua password, tetap saja masih resah. Saya kembali menghubungi call center dan menanyakan apakah terjadi transaksi, tapi call center tidak bisa menjawab karena hal tersebut di luar ranahnya. Ia menyarankan saya untuk datang ke service point terdekat di Surabaya. Ada di Tunjungan Plaza dan Pakuwon Mall. Kontrakan saya di Gunung Anyar. Jauh banget di keduanya, namun tetap yang paling dekat adalah di Tunjungan Plaza. Karena saya di rumah sendirian, saya harus menunggu suami saya pulang dulu. Selepas maghrib, kami naik motor (ngebut parah) menuju Tunjungan Plaza lantai 2. Alhamdulillah, berdasarkan info dari service point, si penipu jahannam tidak bisa melakukan transaksi apapun karena setiap transaksi selalu membutuhkan OTP. Alhamdulillah Allah masih sayang dan melindungi kami sekeluarga.
“dah ya sayang, abis ini kita makan ya.. everything is okay, kan...” ujar suami saya. *suami saya seharian jaga ujian masuk kampus dan ba’da magrib langsung nganterin saya, ga kebayang capeknya gimana.
Sepanjang perjalanan menuju TP, saya bernadzar kepada Allah, ada satu hal yang tidak bisa saya ceritakan saat ini nadzarnya apa, tapi kapan-kapan insyaAllah akan saya jadikan satu tulisan. Nadzar lainnya adalah mentraktir mas Aldo makan apapun yang ada di Tunjungan Plaza, apapun yang dia mau, asal halal dan thayyib. Sekedar informasi, semenjak kami tinggal bareng di Surabaya, kami ga pernah ke Tunjungan Plaza sama sekali, paling melihat dari luar kalo perjalanan pulang ke Gresik saja, ga masuk mall nya sama sekaliiiiiii. Akhirnya, mas Aldo jadi tahu: ini lho TP. Meski kami berdua tetep bukan yang suka suka banget sama mall, ternyata Allah sedang membuat skenario buat kami untuk pacaran ke TP di akhir pekan. Alhamdulillaah ala kulli hal.
Kami pulang, perlahan-lahan menyusuri jalanan Surabaya dengan penuh syukur. Ah, rasaya ngga ada yang kurang dari apapun saat ini. Sepanjang perjalanan, saya yang masih lemas karena kejadian di siang hari, ketika kedua tangan saya sudah mulai renggang, suami saya memperbaiki posisi tangan saya. Ia memastikan betul bahwa saya sudah memeluk erat, bukan karena apa-apa sih, karena bensinya mau abis, jadi dia harus ngebut. Hehehe. :)
Dari sekian panjang cerita ngalor ngidul ini intinya apa? Nggak ada, silahkan diambil sendiri apa-apa yang semoga masih bisa dijadikan hikmah. Kalau saya pribadi, pada akhirnya menyadari bahwa baik sepekan kemarin, maupun hari hari kedepan, Allah memberi segala sesuatu titipan-Nya, sesuai dengan kadar keadilan-Nya. Saat ini kami sedang diuji oleh kondisi khusus yang rahim saya alami, namun kami insyaAllah tidak berhenti berikhtiar merayu Allah. Karena kami pelan-pelan menyadari dan akan selalu yakin bahwa kehadiran anak adalah “hak prerogatif” Allah semata. Saat ini, Allah belum titipkan kepada kami, bukan tanpa maksud. Pasti ada alasan-Nya, hanya saja kami belum peka dan semoga Allah izinkan kami untuk mengambil hikmah. Boleh jadi, saat ini kami memang belum siap. Boleh jadi, Allah izinkan kami untuk hahahihi berdua dulu. Boleh jadi, Allah tahu bahwa pengeluaran tahun ini mungkin cukup banyak dan mengajak saya untuk menyelesaikan satu-satu dulu. Subhanallah, masya Allah. Allah Maha Baik dengan segala ketetapan-Nya. Terkait ujian-ujian hidup lainnya, ternyata bisa dilalui, semoga Allah selalu menjadi sandaran hidup kita.
Akhir kata, saya cuma mau mengutip percakapan saya kemarin bersama suami saya.
V: Ya Allaaah, 3 ujian bertubi-tubi. dari kondisi rahimku, penipuan, sekarang laptop rusak.
A: Itu masih bisa dihitung lho sayang. Ada banyak orang yang dikasi ujian sama Allah dan ngga bisa dihitung. Banyak banget. Aku tahu sedih, gapapa dirasakan dulu, tapi aku bakal fokus sama solusinya ya, kalo dua-duanya nangis entar siapa yang ngajak jalan?
V: Mas, kamu tuh sebenernya udah ga punya alasan lagi lho buat suka sama aku. Perempuan yang ngga sempurna, teledor, ga bisa masak.
A: Bisa kok, kamu bisa masak. Jangan berpikir macam-macam di saat kondisimu lagi kayak gini. Aku bakal disini, nggak akan kemana-mana insyaAllah. Hidup cuma sebentar sayang, kita udah 28 mau 29, bentar lagi nggak kerasa. Apa sih yang dicari? Satu hal aja, aku cuma mau sama kamu, asal satu.
V: Apa?
A: Jangan marah-marah, dah itu aja.
V: :”) :”( :”) :”(
Sekian.
Ya Allah, jika ragaku ada yang tersumbat, kumohon jangan sumbat hati dan pikiran kami untuk selalu bertaut pada-Mu, tidak kepada yang lain. Aamiin..
Surabaya, 1 Juni 2021
@valinakhiarinnisa

















