“Abang, mau tau perasaan aku berhadapan sama Abang? Dulu aku gak pernah mau mikir nikah. Bahas nikah sama orang lain aku pengen marah. Abang berhasil netralkan perasaan itu. Masih ada, tapi amarahnya agak reda. Dulu aku yakin aku udah gak punya hati, tapi Abang selalu bilang aku punya. Belakangan aku sadar kayanya aku masih punya tapi rusak aja
Aku tu ngerasa, dulu aku pernah datang ke suatu rumah. Cantik luarnya. Mewah. Megah. Bersahaja. Penuh bunga. Bahagia siapapun yg datang melihat. Apalagi masuk ke dalamnya. Aku datang ke sana dengan orang lain. Terlena sama keindahan rumah itu. Kami masuk. Benar benar merasa rumah dan seisinya cuma punya kami berdua. Sampai akhirnya kami masuk terlalu dalam. Kami berencana membeli rumah itu. Namun ternyata, yang punya rumah gak mengizinkan.
Aku terlanjur suka dg rumah itu. Tapi dia ditawarkan rumah lain yg lebih indah. Dia pindah. Aku terkurung sendirian. Kemewahan yg ada hilang seketika. Lampu padam. Gelap. Tiba tiba semua buram.
Terus Abang datang. Ngajak aku keluar. Abang ajak aku jalan jalan ke tempat lain yg aku gak pernah tahu. Aku tolak berkali kali. Aku perlakukan kasar. Aku marah sama Abang. Abang tetap gandeng aku berjalan maju. Bukan ke belakang. Abang selalu bilang ke aku hal hal yang telinga aku ga mau dengar. Tapi jiwa aku dengar.
Jauh sudah kita melangkah Abang. Abang bisa lari, tapi karena aku yg masih terluka Abang memilih jalan pelan. Sabarnya Abang nyatanya buat aku adalah obat. Aku memang ga menyadari itu tapi ternyata aku udah mulai bisa berjalan normal. Lalu Abang ajak aku ke sebuah rumah. Lagi. Rumahnya indah. Megah. Cantik.
Aku bisa rasakan keindahan yg sama kaya dulu pernah aku rasakan
Meski bagi Abang itu adalah keindahan pertama. Tapi aku takut ke sana Abang. Aku coba peringatkan Abang untuk jangan ke sana dulu. Aku tahan Abang, abang tarik aku. Tarik menarik kita sampai akhirnya kita udah di depan pintu.
Kita udah di depan pintu rumah itu, bang. Selangkah lagi kita masuk. Tapi aku menolak. Aku gak mau masuk lagi kaya dulu. Aku tahu itu semuanya semu. Kalau kita salah cara kita akan berakhir kaya sebelumnya. Abang akan pindah cari rumah yang lain.
Lalu kita sepakat buat nyari jalan yg tepat. Nyari pintu yang tepat buat masuk
Kita beli rumah dulu rumah itu. Kalau sudah sah jadi milik kita, kita berjanji gak akan ada siapapun yang boleh masuk. Cuma kita saja.
Tapi untuk ke membeli rumah itu, kita harus melintasi jalan panjang. Penuh rintangan. Pagar berduri. Hujan badai. Semuanya.
Abang yg masih punya penuh keyakinan narik tangan aku utk melewati itu semua. Tapi aku mendadak sakit lagi. Gak yakin aku bisa lewati itu semua lagi. Aku berharap Abang jalan sendiri, kalaupun ditengah jalan nanti berjumpa rumah lain dg transaksi pembelian yg lebih mudah, Abang boleh pindah.
Aku ngomong apa sebenarnya bang? Aku ga ngerti. Tapi aku kangen kalau Abang ga ada. Aku ga tau aku sayang Abang atau gak, tapi aku ga mau Abang memperjuangkan wanita yg salah.
Aku ga mau perasaan aku ke Abang kaya perasaan aku dulu. Makanya aku pengen kita segera halal. Kalau Abang mau kita begini terus hayo segera halal. Tapi kalau belum siap, aku ga mau mupuk perasaan gak halal kaya dulu. Makanya aku minta stop komunikasi.”
“Ketika abang mengajakmu berlayar ke sebuah pulau, abang sudah menetapkannya dalam-dalam di hati abang. Walau badai menghadang, gelombang menerjang, supaya bisa mengajak kamu abang akan hadapi. Keputusan abang untuk memilih kamu bukanlah keputusan sekali pandang. Berbulan-bulan abang penuh renungan. Setelah melewati banyak ujian dan cobaan, abang yakin bahwa kamulah keputusan yang tepat. Mungkin pelayarannya butuh waktu, tapi itulah harga yang harus dibayar. Dengan kesabaran, dan keteguhan hati. Abang minta maaf jika mungkin kapalnya kurang nyaman. Tapi abang tidak akan meninggalkan kamu lalu berpindah menumpang ke kapal yang lain. Walau lebih indah, megah, dan tak sedikit tawaran yang datang. Abang hanya ingin menjalani perjalanan ini dengan kamu.
Setelah abang tahu apa yang kamu alami, setelah abang tahu bagaimana perasaan kamu ke abang, justru abang tidak makin kecewa, abang makin sayang kepada kamu. Abang mau lihatkan ke kamu, kalau disana masih ada pulau harapan yang layak ditempati. Abang mau kamu tersenyum kembali, bahwa gelapnya badai, itu takkan selamanya. Sebab habis gelap, terbitlah terang. Cahaya itu yang ingin abang perlihatkan kepada kamu, adinda.
Sepanjang perjalanan, abang tahu kamu suka merajuk, merengek, dan merungut. Kamu berpikir supaya jika itu membuat abang pergi, maka kamu bisa melepas dengan hati yang awalnya memang tanpa harap. Tapi abang mengerti bahwa kamu bersikap demikian bukan tanpa alasan. Apa yang telah kamu lalui menjadikan kamu begitu. Maka disanalah ketulusan abang diuji. Abang semakin bertekad tidak akan meninggalkan kamu. Abang malah semakin ingin melindungi kamu.”
Antara Dua Benua, 24 April 2020.