Bolu Eğitim


#world cup#world cup 2026#fifa world cup#england nt#bukayo saka



seen from United States

seen from Australia

seen from United States
seen from Germany

seen from United States

seen from United States

seen from China

seen from Finland

seen from Australia

seen from United States
seen from China

seen from Finland
seen from Malaysia

seen from Indonesia
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Australia

seen from United States
Bolu Eğitim
The European battlefields of the twentieth century were widely likened to grotesque scenes of human sacrifice at a hitherto unprecedented scale that demanded the lives, the sanity, and the homes of millions of working-class people. Of the First World War, Erich Fromm famously observed that, whereas in allegedly less “civilized” cultures barbarians sacrificed their own children, in the “civilized world” this barbarism was conveniently outsourced, with elder generations sanctimoniously pushing their sons into wars where they slaughtered one another. The blood-soaked trenches and haunted no-man’s-lands were gory altars to a dark hybrid god of industrialism and nationalism, fueled by capitalist imperialism. “In the case of child sacrifice,” he writes, “the father kills the child directly while, in the case of war, both sides have an arrangement to kill each other’s children.”
Max Haiven, Palm Oil: The Grease of Empire
The Zen approach is to enter right into the object itself and see it, as it were, from the inside. To know the flower is to become the flower, to be the flower, to bloom as the flower, and to enjoy the sunlight as well as the rainfall. When this is done, the flower speaks to me and I know all its secrets, all its joys, all its sufferings; that is, all its life vibrating within itself. Not only that: along with my "knowledge" of the flower I know all the secrets of the universe, which includes all the secrets of my own Self, which has been eluding my pursuit all my life so far, because I divided myself into a duality, the pursuer and the pursued, the object and the shadow. No wonder that I never succeeded in catching my Self, and how exhausting this game was! Now, however, by knowing the flower I know my Self. That is, by losing myself in the flower I know my Self as well as the flower. I call this kind of approach to reality the Zen way, the antescientific or metascientific or even antiscientific way. This way of knowing or seeing reality may also be called conative of creative. While the scientific way kills, murders the object and by dissecting the corpse and putting the parts together again tries to reproduce the original living body, which is really a deed of impossibility, the Zen way takes life as it is lived instead of chopping it to pieces and tying to restore its life by intellection, or in abstraction gluing the broken pieces together. The Zen way preserves life as life; no surgical knife touches it.
Zen Buddhism and Psychoanalysis
Erich Fromm
Erich Fromm, The Anatomy of Human Destructiveness
Erich Fromm, el arte de amar.
Pesan Dari Sakīnah
— Nasihat Untukku Sebelum Menikah —
─────────────────────────────────────
Aku menulis ini bukan karena merasa telah siap, melainkan justru karena mulai sadar betapa banyak hal di dalam diriku yang belum selesai.
Tulisan ini bukan tentang mencari pasangan yang tepat, melainkan tentang keberanian menatap diri sendiri dengan jujur—tanpa romantisasi, tanpa ilusi bahwa cinta akan menyelamatkan segalanya.
Sebab mungkin kesalahan paling sunyi dalam pernikahan bukanlah memilih orang yang keliru, melainkan masuk ke dalam relasi sambil membawa kekacauan batin dan berharap orang lain sanggup merapikannya.
Jika pernikahan memang ditujukan untuk menghadirkan sakīnah, barangkali pertanyaan pertamanya bukan:
“Dengan siapa aku akan menikah?”
melainkan:
“Dalam keadaan seperti apa aku akan datang?”
Allah berfirman:
وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةًۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
“Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.”
(QS. Ar-Rūm: 21)
Al-Qur’an menyebut tujuan pernikahan dengan kata yang lembut: li-taskunū—agar kamu merasa damai. Bukan agar kamu diselamatkan, bukan pula agar kekosonganmu diisi.
Dalam ilmu nahwu, kata li di sana bukan sekadar hiasan bahasa, melainkan penanda tujuan (lām ta‘līl). Kedamaian itu justru diasumsikan telah hadir lebih dulu di dalam diri manusia, sebagaimana isyarat lafadz min anfusikum—dari dirimu sendiri—lalu menemukan tempat bernaung di dalam relasi, sebagaimana dimaknai melalui lafadz azwājan—pasangan.
Saat menafsirkan ayat ini, Ibnu Katsir menjelaskan:
لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا أَيْ تَأْنَسُوا بِهَا وَتَسْتَقِرُّ نُفُوسُكُمْ عِنْدَهَا
“Agar kalian merasa tenteram kepadanya, yakni merasa nyaman dengannya dan jiwa kalian menjadi stabil bersamanya.”
Sementara Al-Qurthubi menegaskan bahwa sakīnah adalah:
سكون النفس وطمأنينتها لا مجرد قضاء الشهوة
“Ketenteraman dan ketenangan jiwa, bukan sekadar pemenuhan hasrat.”
Dulu aku sering bertanya-tanya: mengapa pernikahan justru menjadi arena kegelisahan banyak orang, jika Allah menyiapkannya sebagai jalan menuju sakīnah?
Seolah ada jarak antara janji wahyu dan realitas yang ku saksikan. Namun barangkali jawabannya bukan pada ayatnya, melainkan pada apa yang dibawa manusia ke dalamnya.
──────────────────────────────────────
Karena sakīnah bukan sesuatu yang dilahirkan oleh relasi, melainkan sesuatu yang—setidaknya mulai—ditumbuhkan di dalam diri, lalu dibawa masuk ke dalam relasi.
──────────────────────────────────────
Mirip memang, tapi berbeda. Dan perbedaan itu memuat dampak yang signifikan.
Maka ketika pernikahan gagal menghadirkan sakīnah, barangkali bukan ayatnya yang keliru, melainkan manusia yang belum sempat berdiam—dan berdamai—dengan dirinya sendiri.
Dari sini, muncul satu kesalahpahaman besar tentang pernikahan: seolah ia adalah pintu keluar dari kekosongan, padahal ia justru memperlebar apa pun yang kita bawa masuk ke dalamnya.
Bukan karena pernikahan kejam, tetapi karena ia jujur.
Pernikahan tidak runtuh karena manusia tidak sempurna, melainkan karena masing-masing menolak menyadari bahwa ia masih berada dalam proses.
Seseorang masuk ke dalam relasi dengan harapan diselamatkan, bukan dengan kesiapan untuk hadir. Ia berharap cinta menambal lubang, padahal lubang itu bahkan belum ia akui keberadaannya.
Gagasan ini bukan hal baru. Psikologi relasi telah lama menyadarinya. Erich Fromm pernah menuliskannya dengan jujur dan dingin:
“Love is not the solution to personal emptiness. Only mature individuals can truly love.”
Cinta bukan obat bagi jiwa yang kosong. Ia hanya bisa tumbuh di atas batin yang cukup utuh untuk berdiri sendiri—bukan sempurna, tetapi sadar.
──────────────────────────────────────
Itulah mengapa menikah tidak mengubah karakter. Ia hanya memperlihatkannya dengan lebih terang.
──────────────────────────────────────
Jika sebelum menikah seseorang belum disiplin pada hidupnya sendiri, kelalaian itu akan tampak lebih jelas ketika tanggung jawab berlipat.
Jika ia belum selesai dengan lukanya, sengaja atau tidak, luka itu akan mencari alamat baru—dan sering kali, alamat itu bernama pasangan.
Maka “selesai dengan diri sendiri” bukan tujuan final, melainkan kesediaan untuk terus bertanggung jawab atas proses batin yang berjalan seumur hidup.
Ia tidak selalu tampak dalam prestasi besar, tetapi dalam hal-hal kecil yang jujur:
bangun pagi atau tidak,
menepati janji pada diri sendiri atau tidak,
mengelola emosi atau melampiaskannya,
menjaga ibadah atau menjadikannya aksesori.
Seseorang bisa sangat cerdas, sangat sukses, sangat dipuji—namun tetap belum hadir sepenuhnya sebagai manusia. Dan sebaliknya, orang yang tampak biasa saja, hidup sederhana, namun sadar, teratur, dan bertanggung jawab, sering kali jauh lebih siap mencintai.
Karena relasi tidak membutuhkan orang hebat. Ia membutuhkan orang yang sadar;
sadar akan batasnya,
sadar akan lukanya,
dan sadar bahwa pasangannya bukan tempat membuang kekacauan batin.
Maka mungkin benar: lebih baik terlambat menikah, daripada menikah tanpa kesadaran untuk terus bertumbuh.
Sebab cinta bukan tempat untuk bersembunyi, melainkan ruang untuk berjalan bersama—dalam sadar, dalam proses.
Dan hanya mereka yang bersedia hadir sebagai manusia yang sedang bertumbuh yang mampu berdiri berhadapan dengan manusia lain tanpa ingin menguasai, menyelamatkan, atau diselamatkan.
Di situlah cinta menjadi tenang.
Di situlah pernikahan menjadi dewasa.
Maka diri, kau harus ingat ini baik-baik:
──────────────────────────────────────
“Menikahlah bukan untuk diisi, melainkan karena kau cukup sadar untuk hadir dan berbagi.”
──────────────────────────────────────
If other people do not understand our behaviour — so what? Their request that we must only do what they understand is an attempt to dictate to us. If this is being ‘asocial’ or ‘irrational’ in their eyes, so be it. Mostly they resent our freedom and our courage to be ourselves. We owe nobody an explanation or an accounting, as long as our acts do not hurt or infringe on them. How many lives have been ruined by this need to ‘explain,’ which usually implies that the explanation be ‘understood,’ i.e. approved. Let your deeds be judged, and from your deeds, your real intentions, but know that a free person owes an explanation only to himself – to his reason and his conscience – and to the few who may have a justified claim for explanation.
— Erich Fromm, The Art of Being [1989]