They told me strength is loud
That it arrives with certainty
With speeches and sharp edges
But mine came differently
It came tired
It came unsure
It came anyway
I learned endurance in small places
In classrooms where my name was misread
In mirrors that asked too many questions
In nights where tomorrow felt negotiable
I am not made of grand victories
I am made of moments I did not quit
Of mornings I showed up unprepared
And stayed longer than fear expected
Some days I move forward
Not because I believe
But because stopping feels heavier
And I have learned the weight of staying still
I carry doubt like a second heartbeat
Close, constant, inconvenient
Yet proof that I am alive enough
To wonder if I can become more
I am still learning what courage means
It is not confidence
It is choosing myself
Even when I feel unfinished
If growth is slow
Let it be honest
If hope is fragile
Let it be mine
I do not need to conquer the world
I only need to meet it
As I am
And keep going
“What you focus on expands, and when you focus on the goodness in your life, you create more of it. Opportunities, relationships, even money flowed my way when I learned to be grateful no matter what happened in my life.”
-Oprah Winfrey
Tidak sedikit hal dalam hidup ini yang kalau mau dikeluhkan, akan sah-sah saja. Misalnya, meluangkan waktu satu setengah sampai dua jam perjalanan menuju tempat kerja, dengan transportasi umum yang kedatangannya tidak bisa diprediksi. Atau, suatu ketika kita sudah meluangkan waktu membereskan ruang tamu dengan susah payah, karena ada kawan lama yang berkabar ingin main ke rumah. Setelah ditunggu, ternyata tak ada kabar, ia tidak jadi datang. Dan masih banyak lagi hal-hal lain yang berpotensi menghadirkan rasa kecewa, letih, atau barangkali kesal. Namun, seringkali saya (atau kita) mengabaikan hal-hal yang terkesan sederhana yang terjadi setiap harinya. Hal-hal yang terkesan biasa karena seolah-olah merupakan rutinitas harian, padahal itu semua merupakan ketetapan Allah yang sepatutnya kita syukuri.
Robert Emmons dan Michael McCullough (dalam Shahar, 2010) melakukan penelitian tentang kebersyukuran. Mereka mengajak para subjek penelitian untuk menulis setidaknya lima hal yang mereka syukuri. Respons dari subjek penelitian ini ternyata variatif, mulai dari orang-orang terdekat seperti keluarga, hingga para idola. Penelitian ini memberikan sebuah kesimpulan bahwa meluangkan waktu beberapa menit setiap harinya untuk menyatakan rasa syukur atas berkahnya hidup ternyata berdampak luas daripada kelompok kontrol (kelompok yang tidak mendapatkan perlakuan/permintaan untuk menulis/mengungkapkan rasa syukurnya). Salah satu dampak positifnya adalah kondisi emosi yang lebih stabil, indeks kebahagiaan yang meningkat, memiliki tekad yang semakin kuat, energik dan lebih optimis. Tidak hanya itu, ternyata rasa syukur juga mengantarkan seseorang untuk bersikap lebih murah hati dan cenderung peka dalam hal memberikan dukungan kepada orang lain.
Jadi, hal-hal apa sajakah yang mampu membuat kita bersyukur? Hal-hal apa yang patut kita apresiasi dalam hidup kita?
Setiap harinya Allah tebarkan benih-benih syukur dalam jiwa kita. Setiap kita terbangun di pagi hari dan menikmati satu lagi berkah hidup. Alhamdulillah ala kulli haal.
Naik angkot Gresik-Surabaya, oper angkot dua kali dan terjebak dalam kemacetan diiringi dengan asap kendaraan dan suhu diatas tiga puluh tiga derajat. Barangkali Allah sedang mengajarkan nikmat kebersamaan dengan pengguna transportasi umum lainnya yang juga merasakan hal yang sama. Oh ya, satu setengah jam hingga dua jam perjalanan mungkin bisa dimanfaatkan untuk membaca buku, mengaji, atau mungkin tidur bila perlu istirahat.
Ibarat teka-teki, selalu ada jawaban-jawaban Allah yang terselip dalam ruang hidup kita. Memang tidak semua jawaban bisa langsung di hadapan mata. Kadang perlu dicari, ditelusuri, atau bahkan cukup dirasa. Bisa jadi jawaban itu tidak muncul dalam kehidupan saat ini, melainkan di episode kehidupan kita berikutnya.
Meskipun demikian, penerimaan terhadap rasa sedih dan kecewa juga perlu dilakukan. Tidak dipungkiri, reaksi awal dari sebuah peristiwa yang mungkin terjadi di luar ekspektasi kita sebagai manusia, adalah hal yang wajar, normal, dan manusiawi. Menerima bahwa kita sedih, menerima bahwa kita kecewa, atau menerima bahwa kita kesal akan membuat diri kita lebih lega dari pada menolak atau menyangkal perasaan itu. Terima, hadapi, ambil nafas panjang dan lanjutkan perjalanan. Sembari perjalanan, kita refleksikan lagi ada makna apa di balik segala peristiwa yang terjadi pada diri kita, sambil terus mengendapkan hati dan melangkah. Tentu, menjalankan apa yang saya tulis tidak semudah merangkainya dalam kata-kata. Namun, tulisan ini semoga kelak jadi self-reminder bagi diri saya sendiri. Semoga teman-teman yang membaca juga bisa belajar menerapkannya. Selamat Berupaya! :)
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.”
Tidak terasa, sudah hari ke-70 saya “kembali” dari keterasingan. Kembali pada rutinitas super sibuk di pagi hari. Bangun pagi-pagi, menyiapkan pakaian sekaligus menyetrika, mandi, sarapan, berangkat sepagi mungkin (misi). Kadangkala saya mengapresiasi diri sendiri karena bisa berangkat sesuai rencana, menikmati udara Halte Rajawali yang sejuk sembari menanti angkot berikutnya. Namun, tak jarang saya kesiangan lalu berefek terjebak dalam kemacetan. Ya, begitulah rutinitas saya kurang lebih dalam dua bulan terakhir. Jujur, ternyata berat juga bila harus PP (alias pulang-pergi) Gresik-Surabaya. Apalagi jika nanti Allah izinkan saya menjadi dosen tetap, atau Allah izinkan saya sekolah profesi (masih ngambang upayanya ini, ya Allah izinkan saya jadi psikolog), rasanya tidak mungkin bila harus menghabiskan 3 jam perjalanan (total).
“Kenapa ngga ngekos aja sih?”
Begitu tanya beberapa orang.
Jawabannya sesimpel ini. Ingin menghabiskan waktu banyak bersama orangtua, selagi bisa.
“Lha kan udah nikah? Harusnya di rumah mertua kan kalo cewek?”
Menarik. Tapi dari mana dasar tersebut? Anak lelaki selamanya jadi anak ibunya. Saya akan selalu jadi nomer dua, sedangkan nomer satu adalah ibu mertua saya, itu ketetapan Allah, dan saya tidak menyangkal sedikitpun. Tapi pernyataan “harusnya di rumah mertua” ini seolah tak mengerti kondisi saya, atau mungkin memang asal bunyi, tidak mengenal utuh bagaimana realita yang harus saya hadapi saat ini. Saya bekerja di Surabaya, di sebuah kampus tempat saya menempuh studi S1 saya. Tidak mudah bagi saya untuk mencari tempat mengabdi, karena jauh sebelum saya diterima beasiswa, Allah mengirimkan kampus ini sebagai wadah pengembangan diri, memfasilitasi berbagai persiapan untuk memenuhi persyaratan, termasuk biaya persiapan bahasa, pelatihan dan workshop, yang barangkali menjadi pertimbangan mereka (para reviewer) untuk menerima saya yang sebenernya enggak pinter-pinter amat ini. Tapi, bukan sekadar balas budi juga. Ada “titik temu” antara nyaman dan menantang yang tidak bisa dijelaskan, melainkan hanya bisa dirasakan. Jadi, demikian, saya tidak bisa tinggal di Depok. Dan itu sebenarnya sah-sah saja, toh rejeki Allah bukan hanya di Bumi Depok kan? :) Dan izinkan kami untuk menjalankan apa yang ada di depan mata. Saya menuntaskan apa yang menjadi janji saya di rencana setelah studi, dan suami saya menuntaskan apa yang menjadi harapannya dulu, menjadi tim riset inti bersama supervisornya.
“Kalau ujung-ujungnya Long Distance Marriage, ngapain nikah deh?”
Menerima pertanyaan ini berkali-kali, saya hanya tersenyum manis (kalau sanggup), tapi tak jarang saya tersenyum tidak simetris. hehe. Realitanya, saya jatuh cinta sama Muhammad Aldo Setiawan, ternyata dia juga. Daripada perasaan ini berlarut pada muara yang tak menentu, dan atas izin Allah, ternyata orangtua kami memberikan ridha untuk kami menikah, sebelum berangkat sekolah. Keputusan kami pada saat itu sangat kuat, meski ketika dijalani tidak mudah. Tidak apa-apa, semoga dengan bertemunya separuh agamanya, separuhnya lagi bisa dijalani dengan ketaqwaan. LDM bukan hal yang mudah, dan tentu bukan pilihan prioritas pada pasangan manapun rasanya. Tapi, mbok yo mengertilah kawan, tidak semua jalan hidup setiap orang sama dan berjalan ideal. Bahkan mungkin apa yang kita anggap ideal juga belum tentu secara keseluruhan berjalan sempurna. Pahami bahwa beberapa hal dalam rencana hidup pasangan suami istri yang tidak bisa dijelaskan secara gamblang, dan tentunya kesempatan untuk menjalankan peran-peran lain yang sudah dipertimbangkan bersama. Jadi, daripada bertanya kenapa, lebih baik didoakan saja mudah-mudahan ada waktu dimana kami dapat memperjuangkan mimpi bersama secara raga dan jiwa. Aamiin.
“Kamu udah hamil kah? kok perutmu besar?”
“Kamu nunda ya?”
Dua pertanyaan ini semakin menguatkan saya bahwa ada pertanyaan-pertanyaan yang hadir dalam pikiran kita, atau hadir melalui mulut orang lain, yang tidak perlu dijawab, atau ditunda dulu jawabannya, sampai Allah memberikan isyarat. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini pula yang semoga jadi bekal bagi saya maupun suami untuk selalu mengasah kepekaan, ngati-ati. Tapi juga selalu berusaha berpikir lebih luas: ah iya, barangkali bentuk perhatian orang bermacam-macam, tidak selalu sama. Senyumin saja. :)
Bulan depan, insyaAllah suami saya pulang. Deg-deg annya sudah dari sekarang. Sayangnya saya kurang pandai mengutarakan ke-deg-degan saya tiap mengingat sebentar lagi dia pulang, mungkin malah dia mengira saya punya gangguan afek datar. Hehe, tenang, mas. Aku sedang mempersiapkan sesuatu. Begitu juga mas Aldo disana, semoga ikhtiar-ikhtiar kita menuju titik temu yang sama dan tentunya mendapat ridha-Nya. Hidup di Surabaya mungkin menjadi hal baru buatmu, dan mungkin tak mudah. Tapi, untuk petualangan yang rutenya belum tahu bakal kemana ini, kenapa tidak dijalani pelan-pelan dulu saja? Tidak apa-apa, semua orang selalu punya titik “start” nya masing-masing. Ya, barangkali bulan depan menjadi awal bagi saya dan suami saya menghadapi realita hidup bersama di Indonesia. Sekali lagi, semoga Allah ridha. Aamiin.
Gambar 1. Burung lagi merenung di Leeds city centre
Semangat menentukan tempat berteduh ya :”)
Kuat, kuat, kuat!, sesuai janji-Nya, bersama kesulitan, terdapat kemudahan. Yap, bersama, bukan sesudah.
Akhirnya, tiba juga di penghujung tahun 2019. Rasanya baru kemarin merasakan awal tahun baru yang begitu ramai dengan kembang api di Groningen, Belanda. Dinding-dinding apartemen ikut bergetar tiap dentuman kembang api. Jujur, saat itu saya ketakutan di rumah karena bunyinya lebih mirip seperti bunyi peperangan daripada perayaan. Alhamdulillah saat itu saya di rumah saja, kalau di luar, mungkin telinga saya bisa sakit.
Dengan ingar bingar yang begitu meriah di awal tahun 2019, sekarang tiba saatnya momen refleksi tahunan: Bagaimana perjalanan 2019 ini?
Tiap orang akan punya jawaban masing-masing, dengan pengalaman psikologis yang variatif. Begitu juga dengan saya. Saya masih mengingat jelas bagaimana 1 Januari 2019, terbangun di pagi hari dengan suhu -1 derajat, kedinginan dan begitu lemas. Saya berusaha membuka laci di sebelah kasur saya, masih tersisa vitamin D. Ya, saya terbiasa minum vitamin D selama kuliah di Belanda, terlebih di saat winter sinar matahari sangatlah jarang. Kurang terpapar sinar matahari menyebabkan tubuh mudah lemas, tulang-tulang rasanya lentur seperti sosis. Hehe. Begitu juga dengan suasana hati, rasanya gloomy, seperti cuaca yang hampir selalu mendung dan hujan yang awet.
Oh ini toh yang sempat dikatakan gejala Seasonal Affective Depression Disorder. Ngga apa-apa, gejala, hanya tanda-tanda, bukan berarti aku depresi kan? toh saya bukan aliran self-diagnose. Ngga apa-apa, penyesuaian tubuh terhadap cuaca saja, semua akan baik-baik saja.
Saya bangkit dari kasur dan menyalakan lampu. Terlihat tumpukan buku dan jurnal-jurnal berserakan. Welkom mijn 2019. Selamat datang 2019-ku, rasanya tak ada yang berbeda. Semua berjalan semestinya, masih diikuti dengan jadwal buku yang harus segera dituntaskan dan harus segera bikin jadwal dengan professor untuk ujian lisan. Masih berkutat dengan puluhan jurnal yang harus direview dan dikritisi.
Dear Valina, tidak apa-apa, buku-buku dan puluhan jurnal adalah keniscayaan bagi orang-orang yang sedang menempuh studi lanjut. Ngga hanya kamu saja lho yang pusing, yang capek, yang mungkin level stresnya lebih tinggi dari kamu. Jadi gapapa, lanjutkan saja. Yang mungkin agak beda, mungkin ya, mereka lebih rapih, jadi bereskan ya. Sesuai mata kuliah, biar kamu ndak bingung kemrungsung kalau mau belajar tapi bahan belajarnya tercampur aduk kayak gitu. Semangat ya.
Baik, kurang lebih begitu 1 Januari 2019-ku. Membuat teh hangat dan ngemil maicih (maicih adalah keripik singkong yang dijual di toko Asia namanya Amazing Oriental, 600 meter dari apartemen yang saya tempati). Belajar, teh, kopi, cemilan, lumpia, sepertinya jadi teman dekat saya kala itu. Menyempatkan waktu untuk voice call atau video call dengan suami, tentu, tapi memang tidak terlalu lama karena setelah itu saya harus kembali berkutat dengan materi, begitu juga dia yang berkutat dengan project akhir semesternya.
Tapi nuansa sendu-sendu tadi hanya sebentar, karena pertengahan Januari, ketika saya dinyatakan lulus hampir semua mata kuliah yang saya ambil di blok pertama dan blok kedua meski dengan nilai pas. Kenapa hampir lulus? karena saya masih harus belajar satu ujian lisan mata kuliah. Tapi ngga apa-apa, bisa belajar bareng kan? :) Ya, suami saya akan datang ke Belanda. Antara menyebalkan dan manis, ia sengaja tidak memberi tahu saya kapan datang.
“Pokoknya ditunggu aja” katanya.
Suami saya ternyata berkolaborasi dengan penghuni apartemen yang lain untuk membukakan pintu dan seketika ia mengetuk pintu kamar saya di tanggal 17 Januari 2019 setelah subuh. Sesuai ekspektasi, saya kaget. Tapi ada yang tidak berjalan sesuai ekspektasi, karena saya sebel, kamar masih berantakan, sprei baru saja dicuci, begitu juga pakaian saya yang masih dijemur. Ya meski kesel banget dan mau ngomel-ngomel (seperti naga berapi), saya tetep sayang kok sama suami saya.
Makasih ya mas, atas surprise-nya, setidaknya hal itu jadi salah satu highlight di Januari 2019 ku. Kadang hal-hal konyol, menyebalkan, rangkaian keteledoran kita, ngambek-ngambekan waktu lagi jalan-jalan itulah yang semakin menguatkanku bahwa kamu adalah orang yang tepat yang Allah kirim buatku. Marriage life is never easy, we know it before we decide to get married. :)
Memasuki bulan kedua 2019, drama thesis saya dimulai. Sudah bermasalah sejak penentuan deadline pengumpulan thesis yang menurut saya tak masuk akal. Tapi akal manusia kan memang begitu, ia tak akan menandingi kuasa Allah. Ketika beberapa orang mengatakan kemungkinan memperpanjang masa studi adalah sangat besar, saya memutuskan tetap melangkah. Meskipun tidak jarang saya mengungkapkan kecemasan saya pada suami saya, pada kakak saya, mungkin mereka sampe jenuh ya.
“wes to dilakoni ae ta kak. kamu itu kebanyakan cemas, inget Allah kak” Begitu kata Mbak @avinaninasia.
Drama thesis cukup menguras pikiran dan sedikit membuat mental saya berantakan. Jujur, saya sempat sering ngecek berapa harga tiket pulang Amsterdam-Jakarta karena saking sempat hampir putus asa. Perilaku impulsif ngecek harga tiket ini meningkat drastis dari bulan Februari sampai awal April. Tapi, Qadarullah ngga pernah jadi pulang karena saya sadar diri biaya pulang pergi akan lebih mahal daripada biaya hidup sebulan yang saya dapat dari beasiswa. Jadi ya, selalu berusaha menguatkan diri sendiri, selalu yakin Allah sedang menguji sesuai kapasitas hamba-Nya, dan nggak ragu untuk mencari bantuan pertolongan psikologis, bila dibutuhkan. Rasanya blok ketiga adalah blok terberat saya (periode Februari sampai April), karena saya masih ada mata kuliah Clinical Intervention and E-Health, menangani kasus klien (dewasa) yang memiliki latar belakang dan value yang berbeda (klien saya berasal dari Jerman), dan harus kuis tiap pekan dan jika gagal harus ada tugas laporan tambahan (yang tentu akan menambah beban saya di blok empat jika saya tidak lulus mata kuliah ini).
Tapi, toh, kamu sudah sampai disini, Valina. Allah tidak pernah mengajarkanmu hidup instant. Kau juga pernah berkali-kali gagal, sejak kecil bahkan. Kamu bukan diajarkan untuk hidup mudah. Tapi Allah menuntunmu bahwa bersama kesulitan, terselip kemudahan. Kemudahan itu penafsirannya luas sekali, ia tidak hanya berupa solusi nyata, namun bisa berupa pikiran yang jernih dan ketenangan hati.
Seketika kuteringat salah satu doa nabi Musa yang tertulis dalam surat cintanya Allah (QS. Thaha: 25-28):
“Ya Allah, ya Tuhanku lapangkanlah untukku dadaku, mudahkanlah untukku urusanku, uraikanlah simpul pengikat lisanku, agar mereka memahami perkataanku”
Di akhir Maret 2019, alhamdulillah saya bisa sedikit bernafas lega. Laporan magang telah selesai dikumpulkan, supervisor thesis mengizinkan untuk move on ke tahapan results (meski dibuka dengan “but you need to rewrite some parts of your introduction”, tapi ngga apa-apa, yang penting beliau memberikan ridho untuk saya melangkah ke dua bab terakhir, results dan discussion). Beliau juga menyampaikan bahwa kemungkinan saya memperpanjang studi akan sangat besar bila saya tidak memperbaiki kualitas academic writing saya. Cukup sedih mendengarnya, tapi lebih baik menelan pil pahit, untuk sembuh.
Ya Allah, jika memang saya harus memperpanjang studi, berikanlah kami rezeki yang cukup, untuk menuntut ilmu, untuk menebarkan berkah yang Engkau titipkan pada kami. Sampai pada titik ini, sebenarnya saya masih percaya tak percaya Engkau kirim saya ke negeri kincir angin, yang sehari-harinya harus mengharuskan saya berbahasa inggris, mata pelajaran yang cukup sering remidi saat SMP dan SMA. Allah, terima kasih atas kesempatan yang diberikan, terima kasih untuk selalu mendidik hamba-Mu yang terkadang merasa lemah, padahal aku sedang bersandar pada yang Maha Kuat.
Blok III perkuliahan berakhir di akhir Maret, sehingga sejak awal April alhamdulillah saya sudah benar-benar fokus dengan thesis saya. Hebatnya Allah, di tengah kejengahan thesis yang sempet jalan di tempat, saya diberi kesempatan mengikuti kajian keluarga muslim bersama Ustadz Fauzil Adhim di Utrecht. Beliau membahas tentang perspektif beliau tentang Long Distance Marriage, dan beliau cenderung kurang sepakat jika LDM dijadikan long-term plan. Karena bagi beliau, sakinah mawaddah warrahmah tidak dapat tercapai secara optimal ketika berjauhan secara raga. Beliau juga mempertimbangkan kondisi psikologis elemen keluarga, tidak hanya pasangan, melainkan juga anak-anak mereka. Namun penyampaian beliau cukup bijaksana, beliau memahami bahwa ada kondisi-kondisi tertentu yang mengharuskan pasangan untuk berjauhan, dan semoga Allah selalu menjaga perjanjian yang kokoh itu.
Saya tersenyum simpul. Bahasa yang dibawakan Ustadz Fauzil cukup membuat saya belajar berdamai dengan kondisi LDM yang harus saya jalani saat itu, dan saat ini. Hebatnya Allah, ketika saya sedang kangen-kangennya sama suami saya (nah reaksi kangen ini macam-macam bentuknya: kadang nangis, kadang malah marah, atau berusaha membunuh waktu dengan menghabiskan sepanjang hari di perpustakaan buat belajar dan berujung stres), ternyata pekan ketiga April 2019, suami saya menghabiskan jatah Spring Holidays. Alhamdulillaah, saya segera merencanakan untuk jalan-jalan, karena jujur selama saya studi, saya jarang sekali jalan-jalan seperti orang-orang yang istiqomah posting hasil travellingnya di media sosial. Tapi kalo agendanya silaturrahim pasti insyaAllah akan saya usahakan, terlebih pemilu 2019 yang membuat saya terjebak dalam lautan manusia (7000 WNI) di Den Haag. Selebihnya, saya lebih nyaman jika jalan-jalan bersama suami saya. Liburan musim semi kali itu, alhamdulillah akhirnya bisa piknik ke kebun tulip Keukenhof, yang dulu hanya saya lihat brosur di awal-awal saya datang ke Belanda.
Salah satu hal yang cukup berkesan di bulan Mei-Juni adalah ketika diberi kesempatan oleh Allah untuk berpuasa 18 jam di negeri kincir angin. Awal-awal puasa, jujur lemes banget. Saya merasa kaki saya nggak napak di lantai. Saking lemesnya. Hahahaha. Karena itu, saya coba mengurangi aktivitas saya, terutama aktivitas thesis. Saya tidak terlalu berekspektasi akan berjalan mulus, namun mau tak mau, saya harus menggeser jadwal tidur saya setelah waktu duha sampai zuhur jam 15.00, baru saya mulai beraktivitas. Karena selama 18 jam berpuasa, lima jam golden time (jam 22.00 malam -03.00 pagi) ini saya gunakan sebaik-baiknya untuk menulis thesis. Ya, alhamdulillah bekerja dengan cara seperti ini cukup bisa menyeimbangkan hak dan kewajiban yang keduanya harus sama sama dipenuhi. Idul Fitri 1440 H ini adalah idul fitri pertama saya sebagai istri, sekaligus idul fitri pertama saya jauh dari keluarga. Saya tidak pernah merasakan hiruk pikuk pulang kampung karena sejak SD-Kuliah, aktivitas saya tidak jauh-jauh dari Gresik dan Surabaya. Saya dan mas Aldo melaksanakan shalat Id bersama komunitas Muslim di Groningen. Alhamdulillah, saking banyaknya WNI, kami mengadakan sendiri di hall, sehingga khutbahnya bisa dalam bahasa Indonesia.
Yang menarik di bulan Mei adalah, saya dan teman-teman program master setahun mulai membicarakan soal ekspedisi apa yang paling aman untuk pulang kampung. Perbincangan ini semakin intens di bulan Juni karena saya memutuskan untuk ikut pengiriman barang di bulan Juli dari gudang ekspedisi (Rotterdam), sehingga 21 Juni barang-barang harus sudah siap untuk dirikim, sementara 20 Juni saya harus sidang thesis.
Tidak terasa ya, akhirnya merasakan momen-momen mempersiapkan kembali ke Indonesia, bersamaan dengan persiapan sidang thesis. Jujur saya tidak menyangka bisa bertahan sampai pada titik ini. Benar pesan kakak saya dulu, ternyata setahun itu begitu amat sangat cepat.
Bulan ke-sembilan, saya merasakan angin “pulang” semakin berhembus. Antara sedih dan bahagia. Antara lega dan khawatir. Tapi semoga syukur selalu berada diantara keduanya, sebagai penyeimbang dan pengingat bahwa segala suka dan duka datangnya memang dari Allah.
Saya sempat bertanya-tanya dalam hati, ini teman-teman yang bisa jalan-jalan rutin ini ngatur waktunya gimana sih? Setelah saya refleksikan dalam ilmu yang saya pelajari, tiap orang ternyata punya strategi regulasi emosinya masing-masing. Ada manusia yang bisa bisa bekerja penuh dan memilih waktu liburannya untuk istirahat di rumah. Ada juga manusia yang meluangkan weekend untuk jalan-jalan, lalu menghabiskan weekdays gila-gilaan dengan materi kuliah. Ada juga yang seperti saya, yang memilih menuntaskan dulu segala kewajiban studi saya, dan liburan di sekitar Belanda-Jerman (yang tidak terlalu membuat saya capek) ketika memang deadline benar-benar terpenuhi. Jika saya mengkhianati deadline saya, artinya saya harus menuntaskan itu terlebih dahulu meski terlambat. Saya sempat merasa kesal ketika supervisor saya memberikan batasan waktu maksimal 7 Juli 2019 untuk pengumpulan naskah akhir, sementara teman-teman seangkatan saya ada yang sampai akhir Agustus. Ternyata, hikmah-Nya adalah saya bisa menghabiskan hampir 4 purnama di Inggris, tempat suami saya menjalankan studi. Ya, begitu saya submit tugas akhir saya, saya segera packing dan meninggalkan Belanda untuk waktu yang tidak bisa saya pastikan kapan. Memang thesis sudah terkumpul, tapi saya tidak tahu keputusan supervisor saya. Yang saya rencanakan adalah, kalaupun harus extend, saya akan menyelesaikan thesis saya di Inggris atau bahkan di Indonesia karena saya sudah tidak ada tanggungan mata kuliah lagi. Ya, terima kasih Ibu supervisor yang telah mengizinkan saya untuk saya berlibur lebih awal dibanding teman-teman saya :)
Kalau diingat-ingat kembali, bisa menghabiskan 3.5 bulan hidup di Inggris bukanlah sesuatu yang saya rencanakan. Meski ketika ditanya orang-orang, “Habis ngumpulin thesis mau langsung nyusul suami kan?” Jawaban saya selalu, “InsyaAllah, doanya ya”. Barangkali doa dari teman-teman yang menanyakan saya itulah yang membuat Allah mengetuk pintu hati saya, menjadikan “mampir ke Inggris” sebagai salah satu rencana yang saya perjuangkan dalam 2019 saya, sebagai salah satu alternatif bila saya harus memperpanjang masa studi, sehingga bisa lebih menghemat bila tinggal bersama. Ya, 14 Juni 2019 saya mengurus Visa UK, dan alhamdulillah beberapa jam setelah saya submit tesis saya, tiba-tiba ada pos dan visa saya jadi! Tepat 11 Juli 2019, saya pindahan ke Inggris. Sementara sebagian barang-barang saya rapikan ke dalam satu koper besar dan saya tinggal di Belanda. Harapannya, akan saya ambil saat wisuda. Ya, hidup bersama suami saya di kota Leeds adalah pertama kalinya kami tinggal bareng, dan drama “kaget-kaget” an yang saya pelajari di Psikologi Keluarga itu pun akhirnya saya rasakan. Hehehe, namanya juga proses mengenal seumur hidup. Sehingga, wajar sekali terjadi naik turun, konflik, ketidaksesuaian, namun yang paling penting adalah bagaimana kami berdua mengembalikan permasalahan pada alternatif solusi, bagaimana kami terus beradaptasi (terutama saya dan hiruk pikuk sebagai istri yang di rumah, mengatur jadwal masak, mengatur jadwal mandi karena shared bathroom, mengatur jadwal nganter makan siang ke kampus mas, ngatur jadwal cucian dan masih banyak hal lainnya yang cukup menantang untuk seorang Valina). Menantang bukan tak menyenangkan, saya jadi belajar masak yang aneh-aneh, setelah bertahan hidup selama 9 bulan di Belanda dengan rebusan sayur, bumbu pecel persediaan dari Indonesia, aneka telor, dan sesekali catering Bu Rini ketika saya bersitegang dengan deadline. Saya semakin sadar, menikmati proses adalah kunci kebahagiaan. Semoga Allah jaga hati saya dari perasaan tergesa-gesa. :”)
16 Juli 2019. Tepat setahun pernikahan kami.
Setahun long distance marriage memang memberikan pesan, betapa berharganya kebersamaan tiap detiknya. Hari itu, tak ada seremoni seperti kebanyakan. Semua berjalan normal. Sarapan bersama dengan masakan saya yang mohon dimaklumi😂. Mas Aldo juga masih harus ke kampus untuk meeting dengan supervisornya. Lalu kami jalan kaki keliling kota untuk belanja kebutuhan pokok. Tapi kebersamaan itulah yang mungkin jadi hadiah dari Allah setelah setahun berjauhan sementara pasca menikah 16 Juli 2018. Alhamdulillaah ala kullihaal. Setahun terlewati bersama, semoga kita terus dihujani berkahNya, hingga kita tak mampu lagi menghitung usia pernikahan kita. Aamiin ya mujibas sailiin.
Ternyata, salah satu kado pernikahan dari Allah, selain nikmat sehat dan nikmat kebersamaan, adalah hasil akhir tesis saya keluar di sore hari, di tanggal 16 Juli 2019. Kalau kata mbak Anin, cocoklogi saya kumat. Tapi memang Allah sedang berkolaborasi dengan semesta. Alhamdulillah saya lulus. Nilainya memang tidak fantastis, namun saya akan selalu belajar mengapresiasi apapun hasil yang saya terima sebagai ketetapan Allah. Ya, ketika saya berencana menyisihkan sebagian tabungan saya untuk proses perpanjangan studi, Allah justru mengizinkan saya untuk lulus tepat waktu, dan wisuda di tanggal 6 September 2019, bulan yang sama seperti saya wisuda sarjana dulu. Alhamdulillah a’la kulli haal. :)
Masa-masa kehidupan saya di Inggris sepertinya tidak kalah asyik, bahkan mungkin lebih asyik , karena saya dipertemukan dengan teman-teman yang sangat baik hati. Suami saya tergabung dalam grup tahsin pekanan, dan kami (para istri dari geng tahsin) juga ikutan hadir, namun kami di lantai atas, belajar mendongeng. Hehehe. Obrolan-obrolan ringan inilah yang membuat saya mengenal mereka lebih dekat, terlebih mengenal diri saya sendiri, oh ternyata saya memang ngga terlalu bisa banyak bicara ketika berada di tengah-tengah orang. Tidak apa-apa. :) Yang jelas, nyonya-nyonya tahsin ini adalah candu, saya bisa belajar banyak hal, belajar parenting, belajar masak, belajar seputar rumah tangga dan manajemen konflik, seru pokoknya. Bahkan ketika saya pulang, ada salah satu diantara mereka, Mbak Fuan, yang memberikan kenang-kenangan. Juga sahabat-sahabat mas Aldo yang mengajak kami makan di rumah mereka sehari sebelum saya berangkat (Mas Hizbul-Mbak Tyas, Budi-Tara). MasyaAllah mau nangis kalo inget kebaikan-kebaikan mereka, semoga Allah selalu melindungi mereka, memberkahi kehidupan rumah tangga mereka. Aamiin
Kalau idul fitri kami merayakan di Belanda, Idul Adha 1440 H dan perayaan kemerdekaan Indonesia yang ke-74 alhamdulillah bisa dilaksanakan di kota tempat suami saya sekolah, Leeds. Saya jadi rajin masak gule, bukan karena saya mahir, melainkan saya kecanduan ekspresi suami saya ketika melahap masakan saya. Walau saya ragu masakan saya enak. He he. Makasih ya, mas.
Agustus 2019 adalah bulan yang berkesan bagi saya, terlebih suami saya. Qodarullah, ia berhasil menyelesaikan studinya. Saya tentu sangat bersyukur bisa menemani di saat-saat kritis, yaitu saat deadline pengumpulan naskah disertasi (kalau di Inggris tugas akhir master namanya disertasi), dan saat sidang VIVA. Rasanya masih ingat, ia merelakan pulang ke Inggris sehari sebelum ujian akhir semester, dan tak sampai 24 jam sudah kembali ke Belanda. Meskipun saya tidak bisa menghadiri wisuda mas di bulan Desember 2019, saya bersyukur diberi kesempatan Allah menemani submission dan sidangnya. Itu jauh lebih esensial, menurut saya. Tapi tetep, kami siasati untuk sewa toga sebelum saya pulang, supaya bisa merekam kenangan dengan lebih baik.
Allah, terima kasih telah melancarkan studi suami saya. Kuatkan kami selalu untuk menghadapi tiap ujian-ujian-Mu, baik ujian yang menimbulkan reaksi emosi bahagia, maupun sedih.
September Ceria, Milik kita bersama.
Lagu September Ceria nya Vina Panduwinata saya putar di awal September 2019, bukan ritual, hanya hal yang selalu aja terpikirkan ketika memasuki bulan September. Kegiatan di bulan September ini adalah tafakur alam, sekaligus jalan-jalan farewell. Setelah saya wisuda, kami merencanakan untuk menyempatkan berkunjung ke belahan bumi Allah lainnya. Alhamdulillah, meski tidak bisa terangkum sempurna disini, perjalanan 3-27 September ini begitu berkesan, terutama proses saling mengenali pasangan. Emosinya sempurna, masyaAllah. Dari terkesima melihat lukisan-Nya di Santorini (Yunani), menyusuri pulau Santorini naik motor, ketawa-ketawa, cincin pernikahan mas yang menyatu di lautan Santorini, salah mesen kamar di Pisa, tas (berisi dompet, hape, visa, paspor dan kartu kredit) yang sempat hilang di Pisa (Qodarullah ketemu di Restaurant depan menara Pisa, utuh seisinya), menemui penjual yang menawarkan barang dagangannya, “magnet kulkas, satu euro lima biji” di sepanjang taman sekitar Menara Eiffel, menelusuri Girona hingga Malaga menggunakan mobil, menyaksikan saksi bisu kemegahan kerajaan Andalusia, di sepanjang kota Alhambra, Cordoba, dan Malaga, hingga koper yang sempat tertinggal di bis kota London. MasyaAllah Subhanallah. Emosi yang campur aduk selama travelling sebulan itu membuat saya sadar bahwa paket kehidupan selalu komplit, yaitu kesulitan dan kemudahan yang hadir dan tidak saling meniadakan. Dalam kondisi-kondisi krisis, saya justru merenungi sekaligus mensyukuri kehadiran Muhammad Aldo Setiawan sebagai suami saya. Allah tidak pernah salah pilih. InsyaAllah, saya akan selalu belajar untuk bisa mengimbangi kebaikan mas Aldo. Meski kadang kepolosannya dalam beberapa hal kadang membuat saya sedikit kesal, tapi bisa jadi saya lebih banyak kekurangan. Terima kasih telah saling membersamai, mas :)
When October came,
Oktober 2019 adalah bulan terakhir saya menikmati keindahan Eropa. Saya melihat notifikasi e-mail dari LPDP bahwa tiket kepulangan saya telah disetujui, saya akan pulang tanggal 10 Oktober 2019, dari Amsterdam menuju Surabaya, Transit di Doha dan Jakarta. Travelling terakhir yang saya jalani sambil merefleksikan setahun terakhir adalah naik bis dari Leeds ke Amsterdam. Perjalanan 12 jam yang sangat tepat untuk saya berkontemplasi. Menyadari tiket pulang ke Indonesia di depan mata, setelah berencana pulang berkali-kali namun Allah gagalkan. Tapi saya tidak bisa berbohong, saya sedih akan meninggalkan Eropa, terlebih harus LDM lagi dengan suami saya yang harus melanjutkan kontrak magang sampai Desember 2019 dan baru pulang insyaAllah pertengahan Januari 2020.
Hari-hari di Indonesia pun dimulai sejak 11 Oktober 2019. Menikmati matahari yang menyengat, menikmati suhu di atas 35 derajat setiap harinya, menikmati transportasi umum yang jadwal kedatangannya kadang sulit diprediksi, ya, saya kembali beradaptasi, tapi tidak membutuhkan waktu yang lama karena memang saya sudah terbiasa dengan itu semua sejak kecil. Setiap harinya, saya melakukan perjalanan pulang-pergi Gresik-Surabaya, dengan menggenggam doa : semoga bisa selalu menikmati waktu saat ini, here and now, semoga bisa memberi manfaat kepada sekitar dengan tetap menjadi diri sendiri. Aamiin.
Ya, rasanya semua baru kemarin menikmati suara peperangan kembang api tahun baru 2019, menikmati jatuh bangun masa studi, hari ini sudah sampai pada penghujung tahun, 31 Desember 2019.
Kalau boleh menoleh sejenak ke belakang, 2019 rasanya begitu warna-warni. Ada bahagia, ada luka. Ada pencapaian, ada juga kegagalan. Ada jawaban, namun pertanyaan juga semakin bertambah.
Rasanya terlalu singkat jika dirangkum dalam muhasabah tahunan yang biasa disebut refleksi akhir tahun. Namun, menariknya di tahun 2019 ini saya jadi belajar, bahwa mensyukuri hidup ternyata tidak pilih kasih terhadap segala jenis situasi yang kita hadapi.
Ada banyak cara merefleksikan pengalaman kita. Kadangkala kita perlu menepi, tapi tidak jarang refleksi justru ditemukan di saat kita bertukar pikiran dengan orang-orang terkasih/ orang yang kita percaya. Ini yang sangat terasa nyata di tahun 2019. Pertemuan dengan orang-orang baru selalu mengajak saya untuk merefleksikan hidup, selalu ada nasehat yang Allah selipkan lewat pertemuan. Ya, belajar terbuka dan menerima bahwa kita butuh bantuan orang lain juga menjadi salah satu poin refleksi 2019 saya.
Ah iya, penerimaan. Sekali lagi, pesan terbaik di tahun 2019 adalah belajar untuk menerima. Menerima bahwa ada hal-hal yang berjalan sesuai rencana, bahkan lebih baik dari rencana. Menerima bahwa tidak selamanya realita berjalan sesuai dengan rencana ideal. Tapi disitulah rencana cadangan bekerja. Menerima bahwa tiap orang punya strategi kopingnya masing-masing. Inget banget awal tahun 2019 lalu apartemen begitu sepi karena semua orang berlibur (travelling). Sementara saya berlibur bersama reading lists, kopi, kopi, dan kopi. Sesekali bersepeda ke stasiun untuk bisa main piano gratis dan berinteraksi dengan orang tak dikenal yang seringkali ikut bersenandung. Jadi cara menanggulangi stres tiap orang tidak sama, dan itu tidak masalah. Self-talk "Ngga apa-apa, tiap orang punya waktunya sendiri. Makasih Valina, sudah berusaha sebaik yang kamu bisa, alhamdulillah" juga jadi salah satu obat terbaik untuk menguatkan diri sendiri. Menerima diri sendiri, sepaket kelebihan dan kekurangannya. Menerima diri sendiri untuk terus belajar dari orang lain, tapi bukan untuk menjadi orang lain. Menerima bahwa dalam dua belas bulan purnama ini diiringi satu paket hidup yang bernama kesulitan dan kemudahan. Menerima bahwa dalam kondisi seburuk apapun, perpanjangan tangan Allah bisa hadir lewat siapa saja, bahkan mungkin dari orang-orang tak terduga. Semoga selalu jadi pengingat untuk selalu bersikap baik, kepada siapapun. Menerima bahwa jauh dari siapapun menjadi momen terbaik untuk berkontemplasi, menikmati alam, menikmati kesunyian. Jarak menjadi momen refleksi untuk merakit pertemuan yang lebih baik.
Selamat belajar menerima, sekaligus Menerima bahwa ada Dzat yang Maha Tunggal dan Maha Kasih yang juga sedang mengupayakan skenario terbaik untuk semesta, termasuk kita. Mungkin ada pertanyaan hidup yang belum kunjung terjawab, tidak apa-apa, simpan saja sampai kita temukan jawabannya dalam perjalanan berikutnya, atau bahkan dalam perjalanan napak tilas setahun terakhir.
Selamat refleksi,
selamat mensyukuri,
selamat berekspresi,
dan selamat memulai eksekusi mimpi di tahun 2020. InsyaAllah.
The Role of Creativity in Coping with Stress and Depression
In recent years, mental health challenges such as chronic stress and depression have become increasingly prevalent, affecting people across all ages, cultures, and social backgrounds. The fast pace of modern life, constant exposure to information, social pressures, and uncertainty about the future place a heavy emotional burden on individuals. While psychotherapy and medical treatment remain essential pillars of mental health care, there is growing recognition of complementary approaches that support emotional resilience in more personal and accessible ways.
One such approach is creativity. Activities such as painting, writing, music, and other forms of artistic expression are no longer viewed merely as hobbies or leisure pursuits. They are increasingly understood as meaningful tools for emotional regulation, self-expression, and psychological recovery. Creativity offers a unique space where emotions can be explored safely, without judgment or the need for perfect outcomes. For many individuals experiencing stress or depression, this creative space becomes a refuge, a way to reconnect with themselves and restore a sense of inner balance.
Unlike structured therapeutic interventions, creative expression allows the mind to move freely, encouraging authenticity and emotional honesty. This freedom is particularly valuable for people who struggle to articulate their feelings verbally or feel overwhelmed by intrusive thoughts. Through creativity, emotions find form, movement, and meaning, creating opportunities for insight, relief, and healing.
Understanding the emotional impact of depression and stress
Depression and stress affect not only emotional well-being but also cognitive function, physical health, and daily functioning. Chronic stress keeps the body in a prolonged state of alertness, disrupting sleep, concentration, and emotional regulation. Depression, on the other hand, often manifests as persistent sadness, loss of interest, low energy, and feelings of worthlessness or disconnection.
These conditions can trap individuals in cycles of negative thinking, emotional numbness, or internalized distress. In such states, traditional verbal communication may feel exhausting or insufficient. Creativity offers an alternative channel, one that bypasses intellectual analysis and speaks directly to emotional experience. By engaging the senses and imagination, creative activities help interrupt ruminative thought patterns and provide moments of relief from emotional heaviness.
Importantly, creativity does not require artistic skill or talent to be effective. The value lies in the process, not the final product. Whether through simple sketches, free writing, or abstract expression, the act of creating becomes a form of emotional release and self-care.
Creativity as a bridge between inner experience and expression
One of the most powerful aspects of creativity is its ability to translate internal emotional states into external forms. When individuals are unable to describe how they feel, creative expression offers a language beyond words. Colors, shapes, metaphors, and narratives allow emotions to surface in ways that feel safer and more manageable.
This externalization of emotions can reduce emotional intensity and create psychological distance, making feelings easier to observe and understand. Seeing one’s emotions reflected in a drawing or written piece can foster self-awareness and compassion, rather than self-criticism. Over time, this process supports emotional integration, helping individuals make sense of their experiences instead of suppressing or avoiding them.
Creativity also encourages authenticity. Unlike social interactions, where individuals may feel pressure to perform or conform, creative expression offers a private and non-judgmental space. This freedom is especially important for those dealing with depression, where self-doubt and fear of judgment often act as barriers to communication.
The neuroscience behind creative expression and emotional relief
Scientific research increasingly supports the psychological benefits of creative activities. Engaging in creative expression activates multiple areas of the brain associated with emotion, reward, and cognitive flexibility. Studies have shown that creative engagement can reduce levels of cortisol, the hormone most closely linked to stress responses.
When individuals immerse themselves in creative tasks, the brain often enters a state of focused attention commonly referred to as “flow.” In this state, awareness of time diminishes, self-critical thoughts quiet down, and attention becomes anchored in the present moment. This experience mirrors aspects of mindfulness and has been associated with reduced anxiety and improved emotional regulation.
Creativity also stimulates the release of neurotransmitters such as dopamine, which plays a key role in motivation, pleasure, and reward. For individuals experiencing depression, where motivation and enjoyment are often diminished, this neurochemical response can provide a sense of accomplishment and emotional uplift. Over time, repeated engagement in creative activities may contribute to improved mood stability and self-esteem.
Painting and visual arts as tools for emotional processing
Visual arts such as painting, drawing, and collage are particularly effective for emotional exploration. The use of color, texture, and movement allows individuals to express complex feelings without relying on verbal explanation. Visual creativity can be deeply intuitive, often revealing emotions that may not yet be fully conscious.
For people experiencing stress, visual art encourages slowing down and focusing on sensory experiences. The physical act of painting or drawing can be grounding, helping to regulate the nervous system and reduce physiological tension. For those with depression, visual creation can restore a sense of agency and purpose, even during periods of emotional numbness.
Importantly, visual art does not need to be representational or aesthetically pleasing to be therapeutic. Abstract forms often provide greater freedom, allowing emotions to emerge organically. Many individuals report feeling calmer, clearer, and more connected to themselves after engaging in visual creative activities, even for short periods.
Writing and Expressive Language as Emotional Release
Writing is another powerful creative tool for managing stress and depression. Expressive writing, journaling, and storytelling allow individuals to explore their thoughts and emotions in a structured yet flexible way. Writing helps organize internal experiences, transforming emotional chaos into coherent narratives.
Research suggests that expressive writing can reduce symptoms of depression and anxiety by enabling emotional processing and cognitive restructuring. When individuals write about their experiences, they gain perspective, identify patterns, and develop greater emotional clarity. This process can reduce the intensity of distress and promote psychological resilience.
Writing also offers privacy and control. Individuals can express thoughts they may not feel comfortable sharing with others, without fear of judgment. Over time, this honest self-expression can foster self-acceptance and emotional insight, strengthening one’s ability to cope with future stressors.
Other creative modalities and their therapeutic potential
Beyond painting and writing, many other forms of creativity support mental well-being. Music, dance, theater, and crafts engage both the body and the mind, creating opportunities for emotional release and physical expression. Movement-based creative activities, in particular, can help release stored tension and reconnect individuals with their bodies.
These creative modalities are often incorporated into structured interventions such as art therapy and expressive arts therapy, which are used in clinical settings worldwide. Under professional guidance, creative expression becomes a therapeutic dialogue, helping individuals explore trauma, regulate emotions, and rebuild a sense of identity.
Even outside formal therapy, engaging in creative activities within daily life can enhance emotional resilience. Regular creative practice encourages curiosity, playfulness, and flexibility, qualities that are often diminished during periods of stress or depression.
Creativity as a complement to mental health care
While creativity is not a substitute for professional mental health treatment, it serves as a valuable complementary approach. When integrated alongside psychotherapy or medical care, creative expression can deepen therapeutic work and support long-term emotional well-being.
Creativity empowers individuals to take an active role in their healing process. It shifts the focus from symptom management alone to personal meaning, self-discovery, and growth. This sense of participation can be especially important for individuals who feel powerless or disconnected due to depression.
Moreover, creative activities are accessible and adaptable. They can be practiced at home, individually or in groups, and adjusted to suit personal preferences and energy levels. This accessibility makes creativity a sustainable and inclusive tool for mental health support.
Personal meaning and the human experience of creativity
Beyond scientific explanations, the impact of creativity is deeply personal. Many individuals describe creative expression as a lifeline during difficult periods, a way to transform pain into something tangible and meaningful. The act of creating can restore a sense of identity, reminding individuals that they are more than their symptoms.
Creativity fosters connection, both internally and externally. Sharing creative work can create bonds with others, reduce feelings of isolation, and promote empathy. Even when creativity remains private, it strengthens the relationship one has with oneself, encouraging self-compassion and understanding.
In this sense, creativity is not only a coping mechanism but a form of emotional nourishment. It allows individuals to engage with life more fully, even in the presence of hardship.
Creativity as a lifelong resource for emotional well-being
Creativity plays a meaningful and multifaceted role in coping with depression and stress. Through painting, writing, and other forms of artistic expression, individuals gain access to powerful tools for emotional regulation, self-awareness, and psychological relief. Creativity supports the nervous system, fosters emotional expression, and provides moments of calm and purpose amid emotional challenges.
As part of a holistic approach to mental health, creativity reminds us that healing is not only about treatment but also about connection, meaning, and self-expression. By embracing creativity, individuals can cultivate resilience, deepen their understanding of themselves, and discover new ways to navigate life’s emotional complexities.
In a world that often prioritizes productivity and performance, creativity offers something profoundly human: a space to feel, to express, and to heal.
Read the full article
Exploring the science-backed benefits of therapeutic writing for mental health, including neurological mechanisms, clinical protocols, and practical guidelines.Clinical research demonstrates how structured writing practices can significantly improve mental health outcomes across various conditions.The Science Behind Therapeutic JournalingRecent studies in the Journal of Clinical Psychology have demonstrated that regular writing practice can reduce symptoms of anxiety by up to 47% and depressive symptoms by 38% over 12 weeks (Smyth et al., 2018). Dr. James Pennebaker, pioneer of expressive writing research at University of Texas, explains: Writing about emotional experiences creates cognitive shifts that literally rewire how the brain processes trauma.Neurological MechanismsfMRI studies show journaling activates the prefrontal cortex while decreasing amygdala activity - the perfect storm for emotional regulation. A 2021 Harvard Medical School study found just 15 minutes of daily writing increases gray matter density in these regions within 8 weeks.Clinical Protocols for Different ConditionsFor Trauma RecoveryThe National Center for PTSD recommends a specific protocol: Write continuously for 20 minutes about your deepest emotions regarding the traumatic event, doing this for 4 consecutive days. This method shows 72% reduction in intrusive memories according to their 2020 clinical trial.For DepressionA 2019 study in Advances in Psychiatric Treatment found gratitude journaling combined with cognitive restructuring prompts was more effective than SSRIs for mild-to-moderate depression (63% response rate vs 51%).Comparative EffectivenessMeta-analysis of 146 studies (University of Michigan, 2022) reveals:- Expressive writing: Best for trauma processing- Reflective writing: Most effective for anxiety- Gratitude journaling: Superior for depression- Write consistently (3-5x weekly)- Time sessions (15-30 minutes ideal)- Combine methods (e.g., gratitude + expressive)- Review periodically to track progress
Read the full article
I’m humbled as they come… BUT sometimes I have to remind people that there’s a “Dr.” In front of Keiaha Wizzart, and a “PhD” following that coma!#MyPriceIsMyPrice #ExSTARdinaryPublishing #Write4MySoul #ExpressiveWriting #AuthorKeishaStarr #DrWizzart https://www.instagram.com/p/CjVTxSluzeK/?igshid=NGJjMDIxMWI=