Menanam Benih Syukur
“What you focus on expands, and when you focus on the goodness in your life, you create more of it. Opportunities, relationships, even money flowed my way when I learned to be grateful no matter what happened in my life.”
-Oprah Winfrey
Tidak sedikit hal dalam hidup ini yang kalau mau dikeluhkan, akan sah-sah saja. Misalnya, meluangkan waktu satu setengah sampai dua jam perjalanan menuju tempat kerja, dengan transportasi umum yang kedatangannya tidak bisa diprediksi. Atau, suatu ketika kita sudah meluangkan waktu membereskan ruang tamu dengan susah payah, karena ada kawan lama yang berkabar ingin main ke rumah. Setelah ditunggu, ternyata tak ada kabar, ia tidak jadi datang. Dan masih banyak lagi hal-hal lain yang berpotensi menghadirkan rasa kecewa, letih, atau barangkali kesal. Namun, seringkali saya (atau kita) mengabaikan hal-hal yang terkesan sederhana yang terjadi setiap harinya. Hal-hal yang terkesan biasa karena seolah-olah merupakan rutinitas harian, padahal itu semua merupakan ketetapan Allah yang sepatutnya kita syukuri.
Robert Emmons dan Michael McCullough (dalam Shahar, 2010) melakukan penelitian tentang kebersyukuran. Mereka mengajak para subjek penelitian untuk menulis setidaknya lima hal yang mereka syukuri. Respons dari subjek penelitian ini ternyata variatif, mulai dari orang-orang terdekat seperti keluarga, hingga para idola. Penelitian ini memberikan sebuah kesimpulan bahwa meluangkan waktu beberapa menit setiap harinya untuk menyatakan rasa syukur atas berkahnya hidup ternyata berdampak luas daripada kelompok kontrol (kelompok yang tidak mendapatkan perlakuan/permintaan untuk menulis/mengungkapkan rasa syukurnya). Salah satu dampak positifnya adalah kondisi emosi yang lebih stabil, indeks kebahagiaan yang meningkat, memiliki tekad yang semakin kuat, energik dan lebih optimis. Tidak hanya itu, ternyata rasa syukur juga mengantarkan seseorang untuk bersikap lebih murah hati dan cenderung peka dalam hal memberikan dukungan kepada orang lain.
Jadi, hal-hal apa sajakah yang mampu membuat kita bersyukur? Hal-hal apa yang patut kita apresiasi dalam hidup kita?
Setiap harinya Allah tebarkan benih-benih syukur dalam jiwa kita. Setiap kita terbangun di pagi hari dan menikmati satu lagi berkah hidup. Alhamdulillah ala kulli haal.
Naik angkot Gresik-Surabaya, oper angkot dua kali dan terjebak dalam kemacetan diiringi dengan asap kendaraan dan suhu diatas tiga puluh tiga derajat. Barangkali Allah sedang mengajarkan nikmat kebersamaan dengan pengguna transportasi umum lainnya yang juga merasakan hal yang sama. Oh ya, satu setengah jam hingga dua jam perjalanan mungkin bisa dimanfaatkan untuk membaca buku, mengaji, atau mungkin tidur bila perlu istirahat.
Ibarat teka-teki, selalu ada jawaban-jawaban Allah yang terselip dalam ruang hidup kita. Memang tidak semua jawaban bisa langsung di hadapan mata. Kadang perlu dicari, ditelusuri, atau bahkan cukup dirasa. Bisa jadi jawaban itu tidak muncul dalam kehidupan saat ini, melainkan di episode kehidupan kita berikutnya.
Meskipun demikian, penerimaan terhadap rasa sedih dan kecewa juga perlu dilakukan. Tidak dipungkiri, reaksi awal dari sebuah peristiwa yang mungkin terjadi di luar ekspektasi kita sebagai manusia, adalah hal yang wajar, normal, dan manusiawi. Menerima bahwa kita sedih, menerima bahwa kita kecewa, atau menerima bahwa kita kesal akan membuat diri kita lebih lega dari pada menolak atau menyangkal perasaan itu. Terima, hadapi, ambil nafas panjang dan lanjutkan perjalanan. Sembari perjalanan, kita refleksikan lagi ada makna apa di balik segala peristiwa yang terjadi pada diri kita, sambil terus mengendapkan hati dan melangkah. Tentu, menjalankan apa yang saya tulis tidak semudah merangkainya dalam kata-kata. Namun, tulisan ini semoga kelak jadi self-reminder bagi diri saya sendiri. Semoga teman-teman yang membaca juga bisa belajar menerapkannya. Selamat Berupaya! :)
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.”
QS. Al-Baqarah: 152
Gresik, 22 Desember 2019
@valinakhiarinnisa
















