Food hacks #1
Belajar gizi 6 tahun, gak mungkin gak terpengaruh gaya hidup (termasuk pemilihan makanan), setidaknya bagiku.
Siang ini aku makan mie instan. Ya, mie instan itu tidak haram, kata siapa gak boleh? wkwk. Coba liat bungkus mie instan, bukan mie doang kan yang di mangkok? ada sayur, ada telur, bahkan ayam/daging sapi. Itu lah konsepnya, mie itu pengganti nasi, pas dimakan tetap (harus) ada sayur dan proteinnya.
Mie instan itu isinya bukan cuma karbohidrat, tapi ada penambahan vitamin-mineral (misal zat besi), yang gak dimiliki beras biasa di pasaran (#lesson no 1). Inget ya disini konteksnya mie instan yang ber-merk, yang ada label gizinya. Kalo mie ayam yang produksi sendiri gimana? FYI, terigu ber-merk sudah ada penambahan zat gizi, khususnya zat besi (#lesson no 2).
Karna kapasitas lambung ku sedikit, aku biasa masak 1/2 bungkus mie plus sawi hijau dan putih 1 piring. Hari ini aku pilih sawi hijau lebih banyak karna sayuran hijau daun itu tinggi vitamin A dan zat besi (#lesson no 3).
Lebih baik sayuran itu dicuci sebelum dipotong, karna kalo dipotong dan kena air (apalagi di rendam), vitamin-vitamin nya larut di air (#lesson no 4). Jadi kamu cuma dapet serat-nya aja nanti.
Dari kecil, aku dibiasakan mengganti air rebusan mie dengan air panas baru, tapi pas tadi mau ganti air, lah kan sawi hijau-putih banyak vitamin larut air juga (vitamin B kompleks, C) jadi vitamin-vitamin itu pasti luruh di air rebusan, oke gak perlu dibuang, kita pakai air yang sama sebagai kuah (#lesson no 5).
Aku juga tambahin telur ceplok goreng. Kok ga direbus sekalian? gak suka wkwk, ini preferensi aja ya. Yang pasti, telur itu mesti mateng, kalo gak mateng? gak bisa dicerna usus. Protein itu lebih gampang dicerna dalam bentuk yang udah rusak (kena panas, mateng, dll), jadi kalo masih utuh, kasian ususnya (#lesson no 6). Jadi yang masih suka nelen telur mentah, please educate yourself.
11 Maret 2021















