biasa lah
seen from Belarus
seen from China
seen from China
seen from Netherlands
seen from China

seen from Italy
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from China

seen from Canada

seen from Canada
seen from United States
seen from China
seen from Ukraine

seen from United States
seen from Japan
seen from Australia

seen from Canada

seen from United States
seen from China
biasa lah
It has been a long time
Sudah lama.
Sudah lama ku tak merasakan ini.
LAH NARASI SAMA JUDUL NYA KOK MELOW LOL
Yaudahlah bae.
Gak. Jadi gini. Ada cerita. Baca ya. Gak juga gpapa sih.
Jadi, tadi siang menuju sore tiba-tiba pengen beli cemilan kayak ubi sama buah-buahan (ngemilnya biar gak gendut jadi yg gitu, biasanya mah ayam goreng ngemilnya HA) yah sekalian beli amplop buat bahan ngajar sama cotton bud (buat kuping ini mah bukan buat ngajar). Beli nya di griya tuhkan ada deket rumah, jalan bentar lah.
Ku besarkan (?) niatku ini untuk keluar rumah padahal kalo libur tuh pengennya diem dirumah aja gitu lah, tapi da gimana atuh mau beli sesuatu. Nah pergilah diriku ini setelah minta udit ke babah buat jajan HAHA. Ku berjalan dengan santai dan swag banget gitu kan pake sendal corcs ungu.
Saat melewati SD dekat griya ku mencari tukang takoyaki barangkali nangkring disitu, sedihnya tak ada :( Cuman ada jajanan yang tak kusuka. Yaudah weh ku lanjut. Terlihat lapangan parkir belakang griya yang tidak ramai. Hanya da satu mobil yang sedang terbuka pintunya dan truk yang sedang mengeluarkan barang julanan. Nah si griya ini tuh kan ada pagernya sejenis rantai gitu ya (kebayang gak? klo enggak sini main ke griya nya biar terbayang), padahal si pintu masuknya mah ada lah sebelah sana, tp karena gak mau nguriling yaudah gampang di lengkahin aja tuh rante da rendah kan gampang.
Dengan pedenya ku lengkahin tuh rante. Kanan dulu yang lengkahin kan kalo masuk katanya harus kanan dulu ya. Alhamdulillah si kaki kanin dengan mudahnya ngelengkahin itu rante. Kaki kiri pun ingin mengikuti jejak si kaki kanan, entah kenapa. Eh eh eh, si kaki kiri nyangkut. Gatau si crocs ungunya gatau si mata kaki ini. Lalu..... Ketebak apa yang terjadi?
Ya,
Badan kehilangan keseimbangan bung.
Nyusruk gedebruk guling berdiri.
Kejadiannya begitu cepat secepat kilat sampai yang nyadar kejadian heboh itu cuman orang yang ada di mobil yang terbuka tepat sebelah kejadian terjadi. Padahal dibelakang banyak tukang jajanan nagog depan SD.
Alhamdulillah gak slow motion.
Sungguh.
Kejadian tadi sungguh heboh.
Pas nyusruk mikir harus cepet ngeguling biar si kaki kiri lepas dari jeratan rantai.
Saat mengguling ku melihat orang dalam mobil mencondongkan kepalanya ngecek. Alhamdulillah gak ngomong apa-apa. Diliat aja udah malu komo di sapa gusti.
Ku abaikan rasa sakit.
Ku berdiri dan jalan kembali dengan santai swag seakan tak terjadi apa-apa sesekali lirik ke belakang untuk ngecek ada yang nyadar atau enggak. Alhamdulillah enggak.
Pas agak jauh, baru terasa perih lutut dan telapak tangan yang menahan jatuh supaya gak muka duluan yang bertemu tanah WKWKWKKW
Sudah lama. Ini nih. Sudah lama gak ngerasa konyol maksimal depan umum.
Sudah lama gak ngerasain jatuh bertemu tanah.
Sudah lama gak ngerasain perihnya luka jatuh fisik (biasanya perih luka hati sih////GAK)
Ini kalo temen yang kenal liat pasti udah ketawa...
Ini kayaknya kalo dimasukin ke film komedi lumayan slapstick nya....
Yah klo di video in menarik kayaknya.....
Yah pokoknya mah gitu.
Ini judul so’ inggris tapi isi nya sunda campur gini wkwkkwkw yaudah biarin ya kan udah dibilang isi tumblr ini mah apa aja yang ada di otak.
Sekian cerita jatuh nyusruk guling yang maksimal.
Cetari’s out!
renungan~
aku menolak untuk berpikir bahwa "ketidaksengajaan" itu ada. aku waktu SMA ga perna berdoa. tapi kalau misalkan aku ga berdoa, lalu Tuhan either ga ada / ninggalin aku, berarti every things yang menurut aku "baik" atau "mengejutkan" atau "rejeki" nih semua karena kebetulan saja? karena aku bermain bola pompong dan "kebetulan" aku "beruntung"?
pa iya?
Kamu dan Aku
Kamu memiliki semuanya. Aku pun memiliki semuanya, namun kenapa aku selalu merasa jikalau Tuhan tidak adil kepadaku? Kenapa aku selalu merasa jikalau aku adalah yang terburuk. Kenapa aku tidak bisa menjadi kamu? Kenapa? Kenapa aku malah ingin menjadi kamu? Apakah karena aku tak pernah melihatmu berkeluh kesah? Ataukah karena kamu dengan pintarnya menyembunyikan semua itu? Aku harus belajar. Belajar menjadi seseorang seperti kamu. Yang bahkan tersenyum ketika badai menerpa. Oh kamu, betapa aku ingin menjadi kamu.
Kamu Beruntung
Kamu tidak perlu bingung mencari cara untuk menyembunyikan apa yang kamu lakukan dibelakangku. Kamu juga tidak perlu bingung untuk mencari cara meminta maaf. Kamu beruntung.
Aku mengingat apa yang dikatakan ibu, bahwa perjuangan bukan hal yang main-main. Perjuangan bukan hal yang harus selalu terlihat dan dilihat oleh orang lain. Ketika kamu bisa sabar dan ikhlas, itu sudah merupakan perjuangan. Ibu mengajariku agar selalu memaafkan orang-orang yang telah mengecewakan sebelum tidur. Juga memaafkan kesalahan diri sendiri agar tidak terulang lagi.
Sedangkan ayah, mengajarkan bahwa laki-laki harus tegas. Laki-laki harus bisa mengambil keputusan. Pada keputusan itu, aku harus bertanggung jawab, katanya. Ayah juga bilang laki-laki akan merasa sangat berguna ketika dia sedang jatuh cinta, apalagi ketika wanita yang ia sanjung memberi kepercayaan dan bersedia untuk dijaga dalam hidupnya. Karena ayah bilang ketika laki-laki berani untuk jatuh cinta pada seorang wanita, ia juga harus siap untuk menjaga wanita tersebut.
Sayangnya, kamu terlihat tidak ingin dijaga oleh orang sepertiku. Apa yang kamu lakukan dibelakangku, semoga itu hanya prasangka. Tapi tenang saja, aku masih ingat kata ibu, "selalu coba untuk memaafkan orang-orang yang telah mengecewakanmu".
Iya, kamu beruntung. Kamu beruntung bertemu orang sepertiku.
Judulnya seperti itu saja
...adalah manusiawi sekali perilaku itu. Anggap saja itu manifesto kadar keikhlasan diri. Sedikit banyak kadarnya akan berpengaruh pada bagaimana dirinya menyikapi sebuah takdir. Di sanalah kita melihat siapakah yang sebenarnya kita tuhankan. Ketika cita-cita begitu sulit dicapai, ujung cinta yang begitu panjang, harapan belum sesuai kenyataan, dan hati begitu mudah diguncangkan. Sakit itu pendewasaan...
Celandine, gadis itu, hanya merasakan ketidakadilan.
Ah, semburat cercah merah mulai terlihat di ufuk timur. Celandine harus bergegas—ya, bergegas—sebelum penduduk sekitar menemukannya. Dalam hati ia merutuk ketidaksadaran yang membawa wujudnya sampai ke jalan pertokoan ini. Pertokoan yang terlihat begitu ramai, sama sekali berbeda dengan keheningan malam yang dirasakannya tak lama sebelum ini. Celaka, ya. Celaka. Ia harus cepat mencari tempat untuk bersembunyi sebelum penduduk sekitar mengenalinya. Asal kau tahu; ia terkenal.
Atau setidaknya demikian, sebelum ia memutuskan untuk menumpahkan sekaleng cat putih yang dicurinya dari gudang ke atas rambut panjangnya sendiri.
Kepalanya menoleh cepat ke berbagai arah dalam kepanikan, bingung. Pasangan iris hijau limaunya berputar, bergerak-gerak liar sementara pupilnya semakin mengecil tegang. Namun kepanikan itu tidak berlangsung lama. Yang Mulia Dewi Fortuna berada di pihaknya. Sebuah celah sempit (yang benar-benar sempit, mungkin memang hanya diperuntukkan bagi satu orang saja—jika memang ada yang benar-benar berniat untuk menjadikannya tempat persembunyian) segera ia temukan, letaknya di antara toko buku yang terlihat tua namun terawat dan sebuah butik pakaian pria.
Berhasil menemukan yang ia cari, langkahnya menjadi lebih bertenaga dari sebelumnya. Satu langkah, dua langkah, sedikit lagi—
“Ah! Kau—!”
...
...
...Baca-baca naskah tahun lalu. Kadang gue ga mau percaya kalo gue yang ngetik ini. Iya, buat NaNoWriMo. Judulnya 'Celandine', ga selesai sampai 50k. Yang barusan itu cuma sekian paragraf dari bab satu. Genrenya fantasy, family sama dikit romance. Naoise Marvera dan Conall Chryses gue di AH asalnya dari sini. Cuma beda umur sama latar belakang.
Lanjut/nggak?