#GondrongGembel: Mendaki Gunung Marapi - Sumatera Barat (2,891 m dpl)
Di awali dengan perbincanganringan antara gue, Karim, Aji, dan Lorenzo tentang cerita pendaki pertama puncak Everest. Bincang-bincang tak berarah itu akhirnya mengarahkan perbincangan kami untuk mendaki salahsatu gunung yang ada di Sumatera Barat. Kebetulan juga, besok lusa adalah tanggal 17 Agustus. Maka secara mendadak tebersitlah keinginan untuk mendaki sekaligus mengibarkan bendera Merah-Putih di puncak gunung Marapi. Gunung Marapi sendiri termasuk gunung yang sering didaki oleh para pendaki lokal Sumatera Barat maupun pendaki dari luar provinsi, bahkan juga ada beberapa pendaki internasional yang tertarik untuk merasakan sensasi mendaki gunung ini. Gunung Marapi memiliki ketinggian 2,891 mdpl, termasuk ke dalam kawasan administrasi kabupaten Agam. Gunung berjenis Stratovolcano ini merupakan gunung yang aktif di pulau Sumatera.
Setelah perbincangan itu, kami mulai mengontak kawan-kawan lain untuk mengajak ikut dalam pendakian ini. Karena pendakian ini adalah rencana dadakan, membuat yang ikut serta dalam rombongan tak seberapa orang. Karena selain masalah izin dari orangtua, masalah pendanaan juga menjadi kendala bagi beberapa kawan-kawan kami yang lain. Tanggal 16 Agustus pukul 19:00 WIB, kami melakukan meeting point untuk memperbincangan persiapan pendakian. Mulai dari pembagian tugas, pengumpulan dana logistik, barang bawaan masing-masing anggota, dan jam keberangkatan dari kota Padang. Maka diputuskanlah kami berangkat pukul 04:00 WIB tanggal 17 Agustus dengan start point di warung Babe, di depan SMA N 2 Padang.
Gue dan temen-temen ini berasal dari satu perkumpulan di masa SMA. Kami menyebutnya sebagai Babe Brotherhood, yaitu kawan-kawan seangkatan yang sering nongkrong di warung Babe. Dan, kami tidak menganggap Babe Brotherhood sebagai genk, dsb. Kami berangkat mengendarai sepeda motor ngaret satu jam dari jam yang telah ditentukan sebelumnya. Ada delapan orang dalam rombongan ini, yaitu gue, Karim, Ading, Adeza, Nanda, Tania, Devi, dan Aji. Sedangkan Lorenzo berangkat duluan tadi malam bareng temennya yang lain. Alasannya sih katanya dia lebih nyaman mendaki malam hari. Perjalanan menuju kaki gunung Marapi sekitar 1,5 jam. Dan, pukul 07:00 WIB mau tak mau kita sudah harus trekking agar tidak ketinggalan upacara di puncak. Sayang, dalam perjalanan di sekitar Lembah Anai, ban motor gue bocor dan harus ditambal. 15 menit berjalan dengan kondisi ban yang sudah kempes, jasa tambal ban di pinggir jalan yang gue temukan belum satupun yang buka. Perasaan gue makin ga enak, kalo pendakian ini gagal gara-gara gue bisa berabe nih, padahal kan gue yang paling getol ngajakin yang lain. Untungnya beberapa meter setelah air terjun Lembah Anai, ada sebuah tambal ban yang mulai buka. Gue langsung menuju ke sana.
Singkat cerita, akibat tetap dikendarai dalam kondisi kempes, ban dalam motor gue pun jadi sobek dan mesti diganti. Oke, selama nunggu ban dalam diganti, temen-temen cewek yang ikut ini sibuk ber-selfie ria. Gue ga mau kalah, dan gue ikutan juga bareng yang lain. Setelah selesai, kami kembali melanjutkan perjalanan. Karena beberapa kali berhenti untuk beberapa keperluan, kami baru nyampe di tower Marapi sekitar pukul 08:30 WIB. Tower ini merupakan titik terakhir bagi kendaraan bermotor, sekaligus merupakan gerbang awal untuk memulai trekking. Karim yang merupakan mantan anggota Sispala di SMA gue menjadi orang paling berpengalaman dalam rombongan dan mulai mengurus segala administrasi pendakian ini. Kami membayar sebesar Rp 10,000,-/orang sebagai biaya asuransi dan jasa kebersihan, serta parkir Rp 5,000,-/motor. Pukul 09:00 WIB, kami memulai pendakian.
Sebenernya pendakian menuju puncak Marapi ini normalnya cuma memakan waktu sekitar 4-5 jam, dengan estimasi kalo kami berangkat pukul 09:00 WIB, maka akan sampai puncak pada pukul 02:00 WIB. Tapi karena yang mendaki ini rata-rata belum berpengalaman alias baru pertama kali mendaki, kelelahan menjadi faktor utama dalam efektivitas waktu pendakian ini. Ga terhitung lagi berapa kali kami harus berhenti untuk beristirahat dan melemaskan otot. Dua jam perjalanan, kami berhenti untuk makan. Soalnya sejak berangkat dari kota Padang sampai sekarang belum ada satupun dari kami yang makan. Selama kami mendaki, hanya ada beberapa rombongan saja yang sama-sama mendaki seperti kami. Selebihnya adalah orang yang berpapasan dengan kami, mereka mulai turun dari puncak satu persatu. Mendadaknya rencana ini membuat kami harus merelakan tidak ikut serta dalam upacara di puncak. Biasanya kalo 17 Agustus seperti ini, orang-orang mulai trekking malam sebelumnya, seperti yang dilakukan Lorenzo. Tapi kami tetep pantang mundur. Ga kebayang betapa capeknya kawan-kawan lain ketika melihat satu persatu wajah mereka. Entah apa yang ada dipikiran mereka saat itu, mungkin saja rasa menyesal dan kalau tau akan seperti ini mungkin mereka ga bakal mau ikut dalam pendakian ini. Sebenernya trek pendakian di gunung Marapi ini tidak terlalu ekstrem. Juga jalurnya pun sudah cukup jelas. Bagi orang-orang sekitar, gunung Marapi adalah gunung bagi para pendaki pemula. Banyak gunung-gunung lain yang lebih ekstrem dari Marapi ini, seperti gunung Talamau di Pasaman. Tapi yaa karena itu tadi, yang ikut dalam rombongan ini rata-rata mendaki untuk pertama kalinya.
Pukul 15:00 WIB kami masih belum sampai ke puncak. Dan, ga lama setelahnya, ketika hampir memasuki daerah pintu angin, kami berpapasan dengan Lorenzo. Lorenzo yang awalnya berniat menunggu kami sampai ke puncak, memilih untuk turun karena ga tahan menunggu kami yang tak kunjung datang. Setelah ngobrol beberapa saat sambil melepas lelah, kami kembali melanjutkan perjalanan. Singkatnya, kami mencapai puncak pukul 16:30 WIB, yang disambut dengan kabut tebal menyelimuti sekitar. Kekecewaan kawan-kawan bertambah dengan kondisi seperti ini. Apa yang mereka lihat di luar ekspektasi mereka sebelumnya (Maklumlah, pertama kali mendaki. Mereka maunya yang cerah-cerah kaya yang banyak di foto-foto pendaki, gue juga sih sebenernya hehe). Di puncak kami sempat mendirikan tenda, karena cuaca yang sangat tidak bersahabat, sangat dingin, membuat salahsatu anggota rombongan kami kedinginan dan muntah. Maka pukul 18:30 WIB kami memilih turun dari puncak. Dalam durasi sekitar dua jam di puncak, kami sempat makan, beristirahat dan mengabadikan momen selama di sana. Orang-orang pun sudah mulai sepi. Hanya ada beberapa orang yang masih berdiam di dalam tendanya masing-masing. Di puncak, banyak hal-hal menarik yang gue temukan. Salahsatunya ada seseorang yang membawa sepeda ke puncak itu. Gue sempet mikir betapa “payah”nya diri gue yang cuma bawa satu tas doang, udah ngeluh kelelahan dan ngeluh ini-itu semacamnya. Sedangkan orang itu selain bawa sepeda, dia juga bawa tas yang jauh lebih gede dari tas yang gue bawa. Kerennya lagi, sepedanya itu bukan sepeda jenis sepeda lipat. Gue jadi ngerasa minder sekaligus kagum gara-gara melihat betapa kuat dan sabarnya orang tersebut. Selain itu juga ada sepasang suami-istri yang mendaki membawa seorang putri mereka dalam pendakian. Putrinya itu kira-kira masih berusia dua tahun dan diletakkan di bagian atas tas yang disandang bapaknya. Tas carrier yang sudah didesain sedemikian rupa untuk membawa anak. Sungguh menakjubkan keberanian keluarga muda ini!
Kami sampai di tower sekitar pukul 24:00 WIB dan kembali melanjutkan perjalanan menuju kota Padang. Perjalanan turun ga selama perjalanan naik, tapi ketika itu medan yang dilalui makin licin daripada ketika kami naik, malam itupun kabut tebal mengawal perjalanan kami sampai di bawah. Untuk gue pribadi, ini sebenernya merupakan pengalaman pertama juga. Tapi Alhamdulillah gue ga terlalu terkendala secara fisik dan stamina. Bagi gue, gue bener-bener menikmati ketika berada di puncak tersebut. Rasa lelah yang ada selama masa trekking dibayar lunas dengan rasa puas ketika berhasil menginjakkan kaki di puncaknya. Emang, pas trekking menuju puncak gue juga ngomel-ngomel dalam hati. Rasanya ga bakalan mau lagi mendaki di lain waktu. Tetapi, ketika sampai di bawah, pengen banget rasanya kembali merasakan berada di puncak gunung, seakan-akan ada yang memanggil-manggil untuk kembali mendaki ke atas sana. Menikmati keindahan alam dari sang pencipta. Karena jika kita mencintai alam-Nya, maka kita juga akan lebih mencintai pencipta-Nya. Sungguh pengalaman yang berharga bagi gue. Setidaknya, selama pendakian ini gue bisa mengajarkan diri gue terhadap sikap kemandirian, usaha, kerja keras, semangat pantang menyerah, rasa saling menghargai dengan sesama, menghargai alam, dan mencintai sang pencipta.
Suatu saat gue bakal balik lagi ke sini, dan puncak-puncak gunung lain telah siap menanti!