Dunia Tanpa Women’s March?
Jutaan orang di Amerika Serikat kembali turun ke jalan di kota-kota AS menuntut hak-hak perempuan dalam unjuk rasa besar bertajuk Women’s March. Barangkali buat orang awam, ajang ini (juga seperti di Jakarta pada 2017) nampak seperti parade perempuan membawa poster warna-warni. Hanya ikut-ikutan, hanya seru-seruan. Namun isinya lebih dari itu.
Figure 1: Ribuan orang berunjuk rasa di New York, utamanya mengutuk pelecehan seksual terhadap perempuan. Unjuk rasa juga mengkritik kebijakan imigrasi dan pemerintahan Presiden Trump secara umum. (Naratama/VOA)
Jika saya dilahirkan sebagai perempuan, pasti hidup saya akan sepenuhnya berbeda. Barangkali saya tidak diutamakan untuk kuliah karena orangtua saya menganggap pendidikan tidak penting buat saya, dan juga saya diharapkan akan berakhir jadi ibu rumah tangga. Barangkali saya akan dituntut bisa memasak, menjahit, dan mengasuh anak – karena hanya itulah harapan yang ada di benak masyarakat.
Kalau pun saya bekerja, tidak semua bidang pekerjaan menilai saya berdasarkan kemampuan. Jadi peneliti, apalagi ilmu-ilmu eksakta, barangkali hanya mimpi. Belum lagi gaji yang lebih rendah ketimbang laki-laki. Dan, oh, tidak dipercaya jadi pemimpin? Tidak kaget. Semuanya jadi lebih berat karena pekerjaan menjadi beban ganda. Jika pulang ke rumah, saya harus mengurus anak karena suami saya tidak mau melakukannya.
Figure 2: Ibu saya bekerja di Departemen Penerangan pada 1980-an sambil membesarkan dua kakak saya.
Dalam kehidupan sehari-hari, orang-orang mengomentari baju yang saya enakan. Masyarakat mendikte saya harus pakai atau jangan pakai baju tertentu, tanpa memperhatikan kehendak saya. Kalau lewat gang sempit bisa disiul-siul oleh orang ganjen. Kalau orang ganjen itu berbuat kurang ajar--misalnya memegang tubuh saya tanpa izin--malah saya yang dibilang gatel.
Semua hal di atas tidak saya alami sebagai laki-laki. Saya bisa menyebutnya keberuntungan. Padahal sebetulnya saya diuntungkan oleh patriarki, di mana laki-laki dianggap lebih unggul dari perempuan. Di mana perempuan harus berjuang dua kali lipat hanya untuk mendapatkan yang laki-laki terima cuma-cuma. Inikah dunia yang kita dambakan?
Mereka yang mengalami beban ganda itu bukan hanya perempuan di Amerika Serikat. Mereka adalah orang-orang terdekat di sekitar kita: teman-teman perempuan, kolega, bibi, saudara, juga ibu kita sendiri. Hak mereka diinjak, hidupnya dipersulit, supaya laki-laki berdiri lebih tinggi. Bukankah ada yang salah dengan itu semua?
Figure 3: “Perempuan yang berdaya harus memberdayakan perempuan lain,” tulis poster yang saya pegang. Poster milik teman saya, Michelle Winowatan, mahasiswa pasca-sarjana New York University, dalam Women’s March di New York. (foto: Michelle Winowatan)
Itulah kenapa saya ikut Women’s March baik di Jakarta pada 2017 dan New York pada 2018. Sebab saya tahu sudah terlalu lama dibuai, diberi tipu daya, akan segala kemudahan dalam hidup yang ternyata mengorbankan orang lain. Sudah saatnya perempuan dihormati sejajar, berdampingan, dengan laki-laki.
Saya memimpikan suatu masa ketika Women’s March tidak dilaksanakan. Bukan karena tidak penting, namun karena kesetaraan memang sudah tercapai. Yakni ketika semua orang—perempuan, laki-laki, siapapun—bisa menghormati, berkolaborasi, dan berkompetisi secara adil tanpa melihat gender atau jenis kelamin lagi.[]
Rio Tuasikal
@riotuasikal

















