Bagian 3 - Harga Mati . Kau tahu, apa yang membuatku kesal dua malam lalu? Aku. Aku yang terlalu marah hingga menumpahkan seluruh kekesalanku padanya, pada Kara. Ia hanya ingin menenangkanku. Bahkan, salah satu ban becaknya tampak gembos akibat mengejarku yang bertingkah layaknya anak kecil. Aku marah, Mas, marah. Gundik-gundik itu sengaja memanasiku. Mereka bertingkah dengan jelas bahwa pembantu sepertiku tak patut menerima welas asihmu. Mereka beranggapan bahwa aku wanita pembawa sial, tak tahu diuntung. Namun, kekesalanku memuncak kala kau tetap bergeming, seolah semuanya bukan masalah. Para wanita itu tetap berteriak aku si jalang pengejar tukang becak kesayangan kampung Dalang. Persetan, Mas. . Aku menyadari bahwa menjadi wanita sial sepertiku takkan sanggup menemani dirimu. Namun, mereka tak mengerti apa yang kumengerti. Kau sudah jatuh cinta padaku dan dirimu hanya ingin menjagaku dari lontaran-lontaran keji dari mulut sampah mereka. Sayangnya, mereka tidak akan pernah belajar untuk memahami. Otaknya saja di dengkul Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat untuk mengenalmu, bukan pula masa yang sulit untuk kulewati. Hanya saja, aku sedang meradang memikirkan bapakku di kampung sana. Belum lagi antek-antek Pak Darmo yang masih saja menggangguku. Berpuluh-puluh surat juga terus menghujaniku. ‘Kapan pulang?’, atau ‘kapan Bapak dikirimi uang lagi, Nak?’ atau pertanyaan lainnya. Jengahku menumpuk. Aku ingin mati, pikirku saat itu. . “Apa lagi yang kau pikirkan, Ra? Takkah itu jahat, memperkosa otakmu sendiri demi beberapa tetes airmata Sudahlah, aku minta maaf,” potong pria berkulit sawo matang ini tiba-tiba. “Maaf karena apa, mas?” “Karena kau masih saja menepi untuk bersedih hati.” “Maafkan aku, Mas” “Tak apa. Tidurlah. Esok hari penting kita tiba. Takkan kuberi sedikit pun toleransi untuk ini.” “Harga mati?” tanyaku. “Ya, takutku akan mati. Tetap seperti ini.” . Malam kembali menemani. Kami tahu, besok bukanlah hari yang mudah. Bukan berarti kami akan menyerah. . (bersambung) . #30haribercerita #30hbc19 #30hbc1903 #cerpen #hargamati https://www.instagram.com/p/Bsf6urjFNPW/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=1fqvpc0ukne1k