Pendamping Wisuda
16 Agustus 2021 (amat teramat late post yak) tiba-tiba Sepupuku namanya Bagus ngechat yang kurang lebih bunyinya “kak bisa gantiin bunda hadir diyudisium abang gak kak” yang saya langsung iyakan walau dengan sopan anak ini menanyakan dulu ketersediaan waktu.
Bagus adalah salah satu sepupu yang punya soft spot dalam hidup saya, mencoba mencari kayaknya pernah nulis tentang dia tapi gak ketemu. Dulu dia ini bawel banget sampai saya ga sanggup menghadapi kebawelannya (kami selisih kurang lebih 10 tahun) dengan suka mengulang-ulang dialog film. Perubahan saya berubah jadi sayang sama ni anak satu ini setelah melihat dia menangis dan ternyata di moment wisuda dia menangis lagi (bukan nangis karena di lulus dengan revisi yak) :’)
Biasanya ketika dia nangis saya akan sok-sok menjadi kakak sepupu yang tegar menyembunyikan tangisnya dalam peluk sambil saya sembunyi nangis juga. Tapi, hari itu 18 Agustus 2021 kami menangis bersama dan menertawakan moment tersebut, yang ada dibenar saya kala itu ada dua hal “gini kali ya rasanya orang tua bisa melepas anaknya wisuda” sama “aduh ini haru banget, anak ini udah gede”.
Jadi hari itu si Bagus seneng banget ngabarin kalau bundanya bisa hadir tapi berhubung udah ngundang dan aku minta link akhirnya ikut jointlah dalam google meetnya. Kita masih guyon dichat becanda-canda mulai dari ngomentarin statement dosennya yang bilang si Bagus tukang demo dan mengiklaskan kepergiannya dengan “alhamdulillah yang tukang demo sudah pergi”, ngomentarin teman-temannya yang pidato udah kayak award (jadi tiap mahaisiswa dapat giliran), ngomongin rencana masa depan antara kerja di Jawa atau beasiswa lanjut studi.
Tibalah giliran tanteku diminta untuk memberikan kesan pesan, tante dengan bahasa sederhana dengan suara yang serak-serak gitu bilang “Terimakasih sudah mendidik anak saya, terimakasih sudah menerima anak saya yang jauh dari batam dengan hangat” dan seketika chat kami buyar dengan masing-masing kelihatan mata berkaca-kaca, karena saya dan Bagus tau seberapa susahnya perjuangan Tante/Bunda untuk menyekolahkan Bagus karena salah satu alasan khawatir Bagus kalau Bundanya gak bisa hadir adalah karena Tante/Bundanya bekerja sebagai Pembantu Rumah Tangga.
Dan akhirnya giliran Bagus, awalnya dia masih becanda bilang “kak kok bunda nangis sih hhe kan bagus jadi malu”. Lah pas giliran dia malah nangis kejar banget mulai dari makasih ke orang tua, dosen, dan teman-temannya. (kalau diingat-ingat dan ini juga sambil ngetik aku masih agak kerasa haru birunya). Inilah moment tangis ketiga yang sampai buat Dosennya bilang “waduh yang cewek-cewek pasti nyesel baru tahu karakter Mas Bagus ternyata lembut begini”, Bagus sendiri sudah kembali ke dunia nyata dan chat ke saya “Kak, maluuu”.
Terima Kasih dari sekian banyak sepupu masih mempercayakan saya dan menanggap saya sepupu yang baik untuk sharing. Demikian lah moment berbahagia Bagus yang sekarang lagi menikmati masa revisi, perbaiki CV, dan jalan-jalan karena Desember dia udah harus pulang ke Batam sebagai anak sulung (Please, kurang-kurangin naik gunungnya, ngebolangnya, dan ngerokoknya walau bilangnya cuman lagi rapat atau minta/diajak teman karena saya masih suka ngeles bilang ke keluarga besar kalau bagus gak ngerokok dan boros). Semoga Sukses Bagus, bisa membahagiakan Bunda dan Adik-adik :)














