HEY GANG!!
I was working again and made a new mask!
I'm a Cyn fictionkin soo I made a mask of her and for the originality I made her as a CasCat (my original creature species)
seen from United States

seen from United States
seen from China

seen from Canada

seen from United States

seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from Italy
seen from China
seen from United States

seen from United States
seen from China

seen from United States
seen from United States
seen from China

seen from United States
seen from Bulgaria
seen from China
seen from China
HEY GANG!!
I was working again and made a new mask!
I'm a Cyn fictionkin soo I made a mask of her and for the originality I made her as a CasCat (my original creature species)
đ«Itâs Magicalâš
And also:
đââŹBlack cats are not bad luckđ„
Black cats are beautifulâš
Wallpaper Project @lyrical.stars  ⚠Best viewed on iphone.  Set 104: Park Shin Hye Birthday Month Wallpaper Special (Part 2)  - Humanimal VersionÂ
>> ZOO KEEP HER, a self portrait >> i had so much fun painting along and hosting todayâs #21DaysOfArtSA challenge, brainchild of @alice_toich #zookeepher #selfportrait #humanimal #marlenesteyn https://www.instagram.com/p/B-zj3fFJ0Qj/?igshid=b94zypkyn5h9
Humanimal
Gelita semakin meredupkan pelita, suara jangkrik di luar rumah kian sayup-sayup terdengar. Seorang pemuda masih terjaga dari lelapnya tidur di penghujung malam, cucuran keringat membanjiri kening hingga pelupuk matanya. Keheningan kian mendekap gelap dan membuat kondisi mencekam. Isyarat langit semakin membuat gundah qalbu, sesekali samar-samar ayat semesta membisik, nalarnya buram, jiwanya menggeram.
Ia terjaga bukan tuk melangitkan doa-doa, ada cemas yang merasuk jiwa hingga matanya masih terpana pada langit-langit kamarnya. Ketakutan merasuk dalam dirinya, hingga untuk melangkahkan kaki keluar dari bilik kamar yang selama ini menjadi ruang untuk merebahkan lelahnya atau sekadar membekukan keluh yang larut dalam kusut selimut, ia pun tak bisa. Ada hal yang tetiba saja membuat dirinya berkecamuk, menghadirkan perdebatan alot antara rasa dan rasionya.
Rembulan diluar kamarnya tengah membiaskan cahaya kehidupan pada dunia, pada semua ciptaan yang dihamparkan, tapi tidak pada apa yang saat ini ia rasa dan pikirkan. Dalam benaknya, sebuah peristiwa menghadirkan kegelisahan yang menghunus relungnya â mencabik-cabik nuraninya.
âSeonggok kemanusiaan tengah terkapar, dihancur-leburkan oleh nafsu kesombongan yang telah mengakar. Cemoohan, hujatan dan pandangan saling merendahakan terus saja dilayangkan. Kekacauan, kegaduhan, dan penderitaan telah menjelma menjadi ambisi kesenangan, menjadi candu dalam setiap helaan napas. Dan menebas rasa iba tanpa belas.â
Hal ini terjadi karena satu hal, peradaban yang saat ini ia arungi mengubah wajah dunia menjadi tempat keserakahan manusia, tempat dimana manusia tak lagi memupuk kebaikan dan cinta, tempat dimana manusia tak lagi bergandengan tangan untuk saling merajut kemesraan, tempat dimana manusia tak lagi berbagi kasih untuk mengobati pedih, tempat dimana manusia tak lagi memupuk suka untuk menuai bahagia, tempat dimana manusia tak lagi mengindahkan kedamaian.
Tapi kini menjadi tempat dimana kaki-kaki sibuk berjalan, kepala-kepala berkeliaran dengan rutinitas yang membuat mereka lupa tuk berbagi senyum dan tawa bagi sesama. Dilenakan oleh kepentingan dan hasrat untuk saling berebut kekuasaan dan keinginan, dibutakan dan ditulikan oleh keangkuhan dan kebejatan.
Sejatinya kehidupan memang tak pernah lepas dari wajah keberingasan, dan manusialah yang memilih untuk melebarkan kanvas kemudian melukiskan gambaran kekejamannya sendiri. Seorang Filsuf berkebangsaan Inggris yang beraliran empirisme, Thomas Hobbes pernah mengatakan dalam karyanya De Cive bahwasannya manusia adalah âhomo homoni lupus. Sebuah kalimat bahasa latin yang berarti âManusia adalah serigala bagi sesama manusianya.â
Istilah tersebut pertama kali dicetuskan dalam karya Plautus berjudul Asinaria (lupus est homo homini) pada tahun 195 SM yang diinterpretasi bahwa manusia sering menikam manusia lainnya. Manusia yang satu bisa memakan dan mengorbankan manusia lain demi tujuan yang hendak dicapai (kepentingan pribadi). Pernyataan ini menjadi pernyataan yang seakan tak lekang oleh masa, di setiap peradaban hal ini terus dijumpai dan dirasakan oleh manusia.
Manusia yang telah digerogoti oleh hasrat membabi buta dalam dirinya, seakan tidak peduli jikalau perlakuan dan perbuatan yang ia lakukan saat melukai hati orang lain menimpa keluarganya â bahkan dirinya sendiri. Nyaris dapat kita saksikan, hampir di semua bidang kehidupan hukum rimba seringkali digunakan. Manusia bak binatang yang hanya ingin memuaskan hasratnya semata.
Seperti kawanan serigala yang mendengus napas, mencari santapan daging-daging segar yang mereka sayat dengan kuku-kuku dan gigi-gigi tajam. Menghentakkan mangsanya pada nestapa biru dan hitam, karena telah diselimuti angkara murka dan amarah yang sudah lama terpendam. Tidak peduli apakah hasratnya itu melanggar kedaulatan orang lain, merusak ekosistem lingkungan, bahkan menghina aturan Tuhan yang adiluhur.
Tak bisa dipungkiri, dalam menjalani hidup, kekhawatiran terbesar manusia selain kematian adalah tentang bagaimana ia tidak dapat diterima oleh dunia. Sehingga hal ini membawanya untuk melakukan apa saja semaunya, dan ini pun mendatangkan pertanyaan besar.
âApa yang ingin manusia raih dan sedang mereka cari sebenarnya?â
Tanah dan gunung dikeruk, rumah-rumah kecil disingkirkan, hutan di babat, besi dan beton ditanam untuk gedung-gedung tinggi menjulang. Orang-orang tak berdaya dianiaya, gelandangan ditertawakan, hak jelata dirampas dan harga dirinya hanya dipandang seperti ampas. Yang berkuasa tertawa karena semakin kaya, yang sengsara terpuruk dalam isak tangis karena semakin merana.
Ini hanyalah segelintir femonema pilu dari banyaknya representasi kezaliman yang terjadi dalam realita.
Kita mengenal kesedihan seperti saat kita melihat air hujan, setiap cucurannya bagai air mata yang berlinang. Juga perihal penderitaan yang lahir dalam puing-puing reruntuhan dan pada akhirnya hanya dianggap sebagai sampah buangan. Kehidupan pun kian asing dari muara kepedulian. Dendam dan darah, badik dan bedil, celurit dan api hadir dalam  layar sesak kesadaran.
Kekerasan dan kebengisan memang ada dalam setiap kurun, tapi â pada suatu tahap, hal-hal itu bisa saja surut dan berubah jadi legenda. Atau jadi kisah yang akan diceritakan pada zaman-zaman berikutnya, pada generasi-generasi selanjutnya sebagai sebuah pembelajaran.
Mungkin hal ini memang sudah menjadi bagian dari guratan kisah dunia sebagai sebuah memori alami, sebagai sesuatu yang terberi untuk manusia. Seorang filsuf terkemuka asal Slovenia, Slavoj Zizek, pernah mengatakan, âbahwa hidup berasal dari katastrofi, atau bencana besar. Alam semesta bermula dari ledakan besar. Orang lahir ke dunia melalui penderitaan sang ibu. Cinta bukanlah gula kehidupan, namun justru sumber dari rasa sendu.â
Maka manusia perlu untuk melihat guncangan hidup sebagai bentuk kelahiran dari âyang lainâ. Bahkan segala sesuatu yang di sekitar kita sekarang ini bermula dari sebuah penderitaan besar yang menimpa kehidupan sebelumnya. Maka guncangan penderitaan bukanlah bagian dari kehidupan, melainkan justru kehidupan itu sendiri.Â
Dalam hal ini, manusia harus berjuang dalam pengembaraan hidup, menjelajahi belantara makna yang terbentang, hingga ia bisa lebih membangun kesadaran sebagai seorang manusia.
Namun dibalik ini semua, satu hal yang perlu kita renungi, ialah:
 "Mengapa kebengisan harus terawat dengan begitu lekat?
Juga hasrat yang kadang membuat kita terpikat pada hal-hal bejat.
Bukankah dunia adalah suatu hal yang fana?
Pada akhirnya kita semua sama saja.
Hanya tumpukan tulang belulang yang nantinya lapuk menjadi debu semesta.
Penderitaan bukanlah suatu hal yang pantas tuk dipentaskan.
Dan membunuh kemanusiaan bukanlah hal yang patut untuk dirayakan!!â
Sehingga kita tak boleh bergeming dan berpaling, hanya membiarkan dan mencari aman atas segala lika-liku penderitaan yang ada di sekitar kita. Kita perlu mengembalikan dan mendekatkan apa yang telah raib dan pupus (humanity), jalan yang tak pernah membedakan bau darah seseorang.
Kembali mendekap pada apa yang pernah lenyap. Saling membasuh, juga mengasuh pada hal yang tak lagi utuh. Jika tidak, kita hanya akan berakhir pada suatu ketiadaan.
Semoga kita lekas berbenah.
[TRANS] #ParkShinHyeâs in MBC FM4U Kim Shin Young Radio 09012020.
Park Shin Hye shares story about documentary, the donation that she made and her hobbies with #LeeHongKi.
Kim Shin Young remembers Park Shin Hye, who once sent a message on the radio in the past.
Park Shin Hye said, "It was the time I was shooting âFlower Boy Next Doorâ in December 2012 when I sent the message. It was amazing that you actually remembered it. âIâm listening to your radio while Iâm in the car.â This is what I have sent back then. I remember receiving coffee and waffle coupons.â Park Shin Hye also said that she has an interest to be a DJ.
The actress also showed her affection for "Humanimalâ. "It's a documentary about the coexistence of humans and animals. Ryu Seung Ryong, Yoo Hae Jin and Kim Woo Bin also participated. It was not an easy journey, but I enjoyed it. I went to Botswana and Kenya." She also asked to give lots of love for this documentary.
Park Shin Hye commented on why she is working hard to promote this documentary. The actress said, â To be honest I have the most part/share. We have 5 episodes, It will be on air for a month, and I've filmed the most. The seniors are shooting a movie now, and I just finished it a while ago. I'm happy doing it because I don't have many opportunities to meet with viewers and listeners in the offseason.â she said.
Park Shin Hye also talked about being called "King of preparation," she adds, "I have been obsessed with lions for some time. I was searching for animals on SNS and fell in love with lions and cheetahs. Then, "Humanimalâ production called. Iâm being asked, "What kind of animal do you want to do?" I wanted to choose a lion at first, but then I chose an elephant. Thatâs why I did some research and studied it," she said. Park Shin Hye added, "I've been crying a lot during this filming."
In particular, Park Shin Hye donated all of her âHumanimalâ appearance fees to the Elephant Society Without Borders. The actress explains, âI don't know exactly how much I paid for my appearance, but I gave it to the elephant group I went to. I honestly told the documentary team that, â I wasn't concern receiving the appearance fee, I planned to donate it once I receive it.â
Park Shin Hye also talked about her personal life. When asked by Kim Shin Young why people calling Park Shin Hye as "Mrs. Park" on the set, she said, "I filmed a lot of dramas on the SBS. So I kept seeing the director and staff I met/worked with when I debuted. Thatâs why they call me "Mrs. Park" because I have built up my seniority there. Now it is 17 years already.â
The actress also showed her love for bowling. Park Shin Hye said, "Lee Hong-ki loves bowling very much. We have a close friendship. He has worked hard until he joined the army. Iâm not that extended, but when I have time I will contact Lee Hong Ki or friends who like bowling. Or I do it with my family. I learned all the exercise from my dad.â
Lastly the actress said,â Humanimal is indeed a documentary about the coexistence of humans and animals. You can think of it as a serious type of documentary , but it's not that heavy. It could be a story on the other part of the globe but it is a human documentary that can spread the awareness and change of the small perception of our surroundings. I hope a lot of people who watched it will sympathize with me," she said, adding, "Please look forward to it."
Translations may contain inaccuracies.
who gon beat my ass
Celebrating Be Kind to Humankind Week
Here at Farm Sanctuary, we mainly talk about farm animals â rescuing and rehabilitating these animals who experience cruelty on an industrial scale, and educating and advocating on their behalf in an effort to make the world a more compassionate and understanding place.
But who does the rescuing, educating, advocating, and other important work that makes this organization run? Itâs the âhumanimalâ staff members, interns, and volunteers, of course â and these kind, intelligent, thoughtful, talented, caring, resourceful humans are a huge part of what makes our lifesaving work possible (along with the incredible supporters who power everything we do!).
This week is Be Kind to Humankind Week, and while our work primarily focuses on nonhuman animals, we like to think that compassion toward all beings goes a long way toward healing â and working on behalf of others often helps those doing the work as much as those on the receiving end.
For many of us at Farm Sanctuary, this work is a way of inspiring our own lives and giving back to other humans in addition to the animals. Hereâs what a few of our amazing âhumanimalsâ have to say about what this work means to them.
Volunteer Program Coordinator Kameke Brown writes:
âI love Farm Sanctuary.' Even just in this past week, I've heard myself say those words multiple times. 'I love Farm Sanctuary.' But why? As I walk around each sanctuary â reflecting on my experiences visiting Orland, CA; Acton, CA; and Watkins Glen, NY â there is this distinct sense of belonging and community that I feel, seeing each resident of these sanctuaries not as animal-others but as fellow members of a collective 'us.â My journey to Farm Sanctuary and commitment to its mission are grounded in an understanding of 'us' that seeks to reject injustice, inequality, and oppression against any member of that whole â human and non-human. I love Farm Sanctuary because it is a space in which I can embody, embrace, and explore that understanding in compassionate community. It is a space within which I know and believe that we have the potential to create a transformative reality grounded in justice and compassion, for all, that is SO powerful that its reach can't help but be felt beyond sanctuary borders. From Charlottesville to the Bay Area, coast to coast and beyond, there is a simple but profound and resounding desire for a world in which there is truly peace, justice, and equality for all of 'us.â I love Farm Sanctuary precisely because I believe it to be a space and community where that desire can become reality.
Volunteer Program Coordinator Kameke Brown bonds with Panza goat in the sheep barn.