Humanimal
Gelita semakin meredupkan pelita, suara jangkrik di luar rumah kian sayup-sayup terdengar. Seorang pemuda masih terjaga dari lelapnya tidur di penghujung malam, cucuran keringat membanjiri kening hingga pelupuk matanya. Keheningan kian mendekap gelap dan membuat kondisi mencekam. Isyarat langit semakin membuat gundah qalbu, sesekali samar-samar ayat semesta membisik, nalarnya buram, jiwanya menggeram.
Ia terjaga bukan tuk melangitkan doa-doa, ada cemas yang merasuk jiwa hingga matanya masih terpana pada langit-langit kamarnya. Ketakutan merasuk dalam dirinya, hingga untuk melangkahkan kaki keluar dari bilik kamar yang selama ini menjadi ruang untuk merebahkan lelahnya atau sekadar membekukan keluh yang larut dalam kusut selimut, ia pun tak bisa. Ada hal yang tetiba saja membuat dirinya berkecamuk, menghadirkan perdebatan alot antara rasa dan rasionya.
Rembulan diluar kamarnya tengah membiaskan cahaya kehidupan pada dunia, pada semua ciptaan yang dihamparkan, tapi tidak pada apa yang saat ini ia rasa dan pikirkan. Dalam benaknya, sebuah peristiwa menghadirkan kegelisahan yang menghunus relungnya — mencabik-cabik nuraninya.
”Seonggok kemanusiaan tengah terkapar, dihancur-leburkan oleh nafsu kesombongan yang telah mengakar. Cemoohan, hujatan dan pandangan saling merendahakan terus saja dilayangkan. Kekacauan, kegaduhan, dan penderitaan telah menjelma menjadi ambisi kesenangan, menjadi candu dalam setiap helaan napas. Dan menebas rasa iba tanpa belas.”
Hal ini terjadi karena satu hal, peradaban yang saat ini ia arungi mengubah wajah dunia menjadi tempat keserakahan manusia, tempat dimana manusia tak lagi memupuk kebaikan dan cinta, tempat dimana manusia tak lagi bergandengan tangan untuk saling merajut kemesraan, tempat dimana manusia tak lagi berbagi kasih untuk mengobati pedih, tempat dimana manusia tak lagi memupuk suka untuk menuai bahagia, tempat dimana manusia tak lagi mengindahkan kedamaian.
Tapi kini menjadi tempat dimana kaki-kaki sibuk berjalan, kepala-kepala berkeliaran dengan rutinitas yang membuat mereka lupa tuk berbagi senyum dan tawa bagi sesama. Dilenakan oleh kepentingan dan hasrat untuk saling berebut kekuasaan dan keinginan, dibutakan dan ditulikan oleh keangkuhan dan kebejatan.
Sejatinya kehidupan memang tak pernah lepas dari wajah keberingasan, dan manusialah yang memilih untuk melebarkan kanvas kemudian melukiskan gambaran kekejamannya sendiri. Seorang Filsuf berkebangsaan Inggris yang beraliran empirisme, Thomas Hobbes pernah mengatakan dalam karyanya De Cive bahwasannya manusia adalah “homo homoni lupus. Sebuah kalimat bahasa latin yang berarti “Manusia adalah serigala bagi sesama manusianya.”
Istilah tersebut pertama kali dicetuskan dalam karya Plautus berjudul Asinaria (lupus est homo homini) pada tahun 195 SM yang diinterpretasi bahwa manusia sering menikam manusia lainnya. Manusia yang satu bisa memakan dan mengorbankan manusia lain demi tujuan yang hendak dicapai (kepentingan pribadi). Pernyataan ini menjadi pernyataan yang seakan tak lekang oleh masa, di setiap peradaban hal ini terus dijumpai dan dirasakan oleh manusia.
Manusia yang telah digerogoti oleh hasrat membabi buta dalam dirinya, seakan tidak peduli jikalau perlakuan dan perbuatan yang ia lakukan saat melukai hati orang lain menimpa keluarganya — bahkan dirinya sendiri. Nyaris dapat kita saksikan, hampir di semua bidang kehidupan hukum rimba seringkali digunakan. Manusia bak binatang yang hanya ingin memuaskan hasratnya semata.
Seperti kawanan serigala yang mendengus napas, mencari santapan daging-daging segar yang mereka sayat dengan kuku-kuku dan gigi-gigi tajam. Menghentakkan mangsanya pada nestapa biru dan hitam, karena telah diselimuti angkara murka dan amarah yang sudah lama terpendam. Tidak peduli apakah hasratnya itu melanggar kedaulatan orang lain, merusak ekosistem lingkungan, bahkan menghina aturan Tuhan yang adiluhur.
Tak bisa dipungkiri, dalam menjalani hidup, kekhawatiran terbesar manusia selain kematian adalah tentang bagaimana ia tidak dapat diterima oleh dunia. Sehingga hal ini membawanya untuk melakukan apa saja semaunya, dan ini pun mendatangkan pertanyaan besar.
“Apa yang ingin manusia raih dan sedang mereka cari sebenarnya?”
Tanah dan gunung dikeruk, rumah-rumah kecil disingkirkan, hutan di babat, besi dan beton ditanam untuk gedung-gedung tinggi menjulang. Orang-orang tak berdaya dianiaya, gelandangan ditertawakan, hak jelata dirampas dan harga dirinya hanya dipandang seperti ampas. Yang berkuasa tertawa karena semakin kaya, yang sengsara terpuruk dalam isak tangis karena semakin merana.
Ini hanyalah segelintir femonema pilu dari banyaknya representasi kezaliman yang terjadi dalam realita.
Kita mengenal kesedihan seperti saat kita melihat air hujan, setiap cucurannya bagai air mata yang berlinang. Juga perihal penderitaan yang lahir dalam puing-puing reruntuhan dan pada akhirnya hanya dianggap sebagai sampah buangan. Kehidupan pun kian asing dari muara kepedulian. Dendam dan darah, badik dan bedil, celurit dan api hadir dalam layar sesak kesadaran.
Kekerasan dan kebengisan memang ada dalam setiap kurun, tapi — pada suatu tahap, hal-hal itu bisa saja surut dan berubah jadi legenda. Atau jadi kisah yang akan diceritakan pada zaman-zaman berikutnya, pada generasi-generasi selanjutnya sebagai sebuah pembelajaran.
Mungkin hal ini memang sudah menjadi bagian dari guratan kisah dunia sebagai sebuah memori alami, sebagai sesuatu yang terberi untuk manusia. Seorang filsuf terkemuka asal Slovenia, Slavoj Zizek, pernah mengatakan, “bahwa hidup berasal dari katastrofi, atau bencana besar. Alam semesta bermula dari ledakan besar. Orang lahir ke dunia melalui penderitaan sang ibu. Cinta bukanlah gula kehidupan, namun justru sumber dari rasa sendu.”
Maka manusia perlu untuk melihat guncangan hidup sebagai bentuk kelahiran dari “yang lain”. Bahkan segala sesuatu yang di sekitar kita sekarang ini bermula dari sebuah penderitaan besar yang menimpa kehidupan sebelumnya. Maka guncangan penderitaan bukanlah bagian dari kehidupan, melainkan justru kehidupan itu sendiri.
Dalam hal ini, manusia harus berjuang dalam pengembaraan hidup, menjelajahi belantara makna yang terbentang, hingga ia bisa lebih membangun kesadaran sebagai seorang manusia.
Namun dibalik ini semua, satu hal yang perlu kita renungi, ialah:
"Mengapa kebengisan harus terawat dengan begitu lekat?
Juga hasrat yang kadang membuat kita terpikat pada hal-hal bejat.
Bukankah dunia adalah suatu hal yang fana?
Pada akhirnya kita semua sama saja.
Hanya tumpukan tulang belulang yang nantinya lapuk menjadi debu semesta.
Penderitaan bukanlah suatu hal yang pantas tuk dipentaskan.
Dan membunuh kemanusiaan bukanlah hal yang patut untuk dirayakan!!”
Sehingga kita tak boleh bergeming dan berpaling, hanya membiarkan dan mencari aman atas segala lika-liku penderitaan yang ada di sekitar kita. Kita perlu mengembalikan dan mendekatkan apa yang telah raib dan pupus (humanity), jalan yang tak pernah membedakan bau darah seseorang.
Kembali mendekap pada apa yang pernah lenyap. Saling membasuh, juga mengasuh pada hal yang tak lagi utuh. Jika tidak, kita hanya akan berakhir pada suatu ketiadaan.
Semoga kita lekas berbenah.










