Kitten Peek Embroidery Designs

seen from Canada
seen from United States

seen from United States
seen from China
seen from T1
seen from China

seen from United States
seen from United States

seen from China
seen from United States

seen from Singapore
seen from Honduras
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Singapore
seen from United States

seen from United States
seen from United States
Kitten Peek Embroidery Designs
Berdiam : Memeluk Damai
Bising mendesing suara kendaraan di perkotaan yang mencekik jalan raya kini tergantikan. Keadaan dunia kembali mencekam dilanda oleh riuh kecemasan dan ketakutan. Jejak-jejak polutan yang mengendap dalam paru-paru, kini seakan terkesampingkan oleh wabah pembawa kematian.
Sebagian manusia tetap saja beradu kebencian dibawah teriknya pancaran mentari. Sebagian lagi tidak sengaja berpapasan dalam sunyi yang menyenyap mendekap gelap dalam relung hati. Sisanya, tumbang lebih dulu dipencudangi oleh ego yang menginfeksi diri.
Sudah beberapa bulan kini, publik digemparkan oleh fenomena pandemi Covid-19 yang melanda hampir seluruh penjuru dunia, Ini bukanlah kali pertama atau kedua dunia di serang oleh wabah penyakit sehingga menghadirkan kemelaratan biologis yang mengundang banyak tangis.
Jauh sebelum Covid-19 menyerang, sejarah telah mencatat sebuah wabah penyakit yang dikenal dengan istilah The Black Death, sebuah wabah penyakit yang diterjemahkan dari bahasa Latin atra mortem dengan gejala kulit menghitam yang dialami oleh penderita, sehingga wabah penyakit ini disebut Maut Hitam.
Black Death merupakan pandemi yang disebabkan oleh bakteri yersinia pestis yang pada saat itu melanda Eropa pada pertengahan akhir abad ke-14 dan membunuh sepertiga hingga dua pertiga populasi Eropa dan menyebar ke beberapa penjuru dunia. Selain itu dalam catatan sejarah kelam sebagaimana yang disampaikan oleh Prof. Yuval Noah Harari dalam bukunya Homo Deus, maut hitam bukanlah peristiwa tunggal, Epidemi-epidemi yang lebih dahsyat terus melanda belahan dunia, pada kisaran abad ke-15 hingga abad ke-19, cacar dan tipus menjadi momok yang sangat menakutkan dalam kehidupan.
Epidemi terus membunuh puluhan juta jiwa sampai memasuki abad ke-20 diantaranya Flu Spanyol yang terjadi pada kisaran tahun 1918 hingga 1920, virus ini menginfeksi hampir 500 juta orang. Selanjutnya wabah penyakit terus menjadi kecemasan, pada tahun 2002/2003 wabah SARS melanda, flu burung pada tahun 2005, flu babi pada tahun 2009/2010, dan virus Ebola yang menyerang pada tahun 2014.
Di penghujung tahun 2019 hingga memasuki awal tahun 2020, wabah penyakit menakutkan kembali melanda, hal ini tentulah menghadirkan banyak polemik di berbagai aspek kehidupan. Mulai dari kekhawatiran yang kian hari semakin menyelimuti perasaan karena jumlah pasien yang positif terjangkit wabah dan angka kematian masyarakat terus meningkat, hingga terpaan badai gangguan kesehatan mental akibat himbaun untuk social distancing yang turut menghadirkan depresi bagi beberapa orang yang tidak terbiasa berdiam diri dirumah.
Penerapan social distancing atau self quarantine (mengisolasi diri) sementara waktu dengan tidak berkumpul dalam keramaian dan menjaga jarak dengan hanya tinggal dirumah dianggap sebagai salah satu solusi terbaik untuk menekan penyebaran wabah ini. Namun hal demikian, ternyata menjelma menjadi kondisi yang berkecamuk dikarenakan himbauan yang disampaikan ditafsirkan sesuai selera individu ataupun faksi.
Memang menjadi suatu hal yang tidak bisa dihindari, sebagian orang merasa tak hidup jika tak berada dalam keramaian, apalagi pola interaksi yang terus-menerus dilakukan oleh orang-orang dalam kehidupan sosial telah membawanya pada sebuah rutinitas dan ambisi.
Tanpa orang lain, kehidupan bagai tak memiliki daya, juga tak ada ruang untuk menuang hasrat yang membara. Karena terkadang, saat manusia dilanda rasa lapar, matanya kian tajam dan meliar, amarahnya terbakar ingin menghajar, hingga orang-orang disekitarnya terkapar. Begitupun tatkala merasa haus, beringasnyapun kian pupus. Dan hal ini, mustahil dilakukan ketika hanya berdiam dan membisu.
Kehidupan telah membawa manusia pada sebuah peradaban yang asing dari makna “berdiam”. Sehingga aktivitas yang bersinggungan dengan perenungan, menyendiri untuk membangun kemawasan diri, hingga bertafakkur di era digital seperti sekarang ini adalah hal yang menjenuhkan, bahkan terkadang dianggap tidak menghadirkan manfaat.
Dari hal ini, mungkin kita memang perlu mempelajari gramatika berdiam. Ada sesuatu yang pernah disebut oleh Ivan Illich dalam secarik tulisan usang Goenawan Muhammad sebagai “the eloquency of silence”. Yakni kefasihan dari diam. “Kata-kata dan kalimat terdiri atas diam yang lebih bermakna daripada bunyi.” Baginya, bahasa adalah ibarat seutas tali kebisuan, bunyi hanya menjadi simpul-simpulnya. Bahasa adalah ibarat sebuah roda: yang menjadi pusat adalah kata-kata yang terucapkan — tapi yang membentuk roda adalah justru ruang kosong diantara itu.
Begitupun pada tindakan, selalu saja ada yang luput tak terhiraukan. Tindakan merupakan sebuah upaya aktualisasi potensi diri atau perealisasian nilai-nilai hidup (self actualization), penghayatanlah yang memberikannya makna dalam rangka pemenuhan diri (self fulfillment). Dalam hal ini kita seringkali kehilangan arah dalam memerhatikannya.
Hidup memang tak hentinya diterpa derita. Setiap hembusan nafas yang terasa, selalu saja menghadirkan selaksa cerita. Di saat keadaan yang mencekam seperti sekarang ini, kecemasan masih menjadi momok pada hirarki tertinggi perasaan dalam kehidupan, memburamkan nalar manusia dalam menafsirkan tanda-tanda tak terjamah. Juga, menjadi teman setia di setiap langkah — di sepanjang sejarah.
Saat serangan pandemi seperti sekarang ini, merasa lelah memang hal yang manusiawi, namun memilih larut adalah hal yang perlu di evaluasi. Himbauan untuk berdiam diri dirumah, bukanlah sebuah langkah untuk mengurung diri atau menutup mata terkait dengan problematika yang dialami oleh dunia saat ini. Isolasi diri pun bukan untuk membuat manusia saling memandang dingin karena tak sedang berjalan beriring.
Dalam diam pun mungkin kita bisa kembali tuk berdamai dengan diri sendiri, menggali arti pada setiap tumpukan keluh yang tengah terasuh. Kembali ke rumah untuk berbenah, merawat jiwa yang sedang terluka, juga kembali mempererat kebersamaan yang telah terbabat.
Bukankah kebahagian hadir pada hal-hal yang membutuhkan ketenangan?
Lalu mengapa kita tak membuka ruang sejenak tuk berdiam, berdiam bukan berarti membatu, keadaan yang mencekam pun pasti akan berlalu, dan ketahuilah setiap jiwa membutuhkan jeda, tuk bercurah rasa dengan Sang Pencipta. Karena dengan merasakan, kita lebih bisa memaknai keikhlasan.
Surat Untuk Senja.
hai, apakabar?
akhir-akhir ini aku tak kunjung menemukan kamu disana.
habis dari mana? pergi mencari apa?
kelihatannya selalu suram bahkan menangis.
kamu lelah yaa?
atau bingung?
tak apa, kadang hidup memang se bercanda itu.
menjadi seseorang yang di banjiri cerita sedih memang, tidak mudah.
tak sekali dua kali, terbawa arus suasana.
tak sekali dua kali, ikut putus asa.
tapi tolong, jangan berhenti.
cahaya yg terbiaskan dikala petang itu terkadang mampu meringankan beban hati.
tak sedikit orang yang menikmati setiap detiknya, bersamamu.
walaupun hanya sebentar, kamu mampu membebaskan jiwa yang terperangkap.
kamu mampu mewarnai hari yang kelabu.
tolong, jangan bosan.
jangan bosan mendengarkan keluh kesah yg disampaikan.
jangan bosan mengusap air mata yang jatuh.
jangan bosan, berada disini.
tolong, jangan pergi.
kemarin-kemarin mungkin langit masih kelabu, dan kamu sedang bersembunyi.
kamu mungkin butuh waktu untuk sendiri
tak apa.
tapi, jangan lupa untuk kembali.
jangan lupa untuk tetap disini.
mungkin ini, cara tuhan mendewasakan kamu.
mungkin ini, cara tuhan menjadikan kamu bermanfaat bagi sekitar.
mungkin ini, cara tuhan mencintai kamu.
jadi, jangan menyerah disini.
masih banyak orang yg menggantungkan harapan baiknya untuk kamu.
masih banyak orang yg butuh kamu.
masih banyak orang, yg mendoakan dan selalu ada untuk kamu.
kamu tidak sendirian, wahai senja.
skali lagi aku tegaskan,
jangan lupa untuk kembali, pulang.
—shbrnd
BELOVED
Senja selalu bersama dengan jingga. Senja tak ada, Jingga pun tak akan hadir.
Kebersamaan mereka tak dapat terpisahkan, hingga dahulu sang waktu mencoba memisahkan mereka , tetapi mereka kembali dipersatukan dengan takdir.
Walaupun sekejap kebersamaan mereka, Jingga selalu merasa bahagia. .
Jika kegelapan telah datang, walau sedetik pun jingga tak bisa membuat senja untuk tetap singgah. Seketika Keindahan Senja dan Jingga menghilang tak tersisa.
Jika suatu hari Jingga tak bisa bersama Senja, Jingga tak bisa lagi menemani Senja, tak usah khawatir karena waktu yang kau butuhkan untuk menunggu kedatangan gelap sama seperti saat Jingga masih di samping mu. begitu singkat ~
Taken Photo 📷 : Studio Wilayah Kab. Pangandaran, Pantai Hiu.
Tragedi Lembayung
Oleh: Ariyani Jingga
Pukul 17.30
Sore meredup
Namun masih menyisakan pertanda bahwa ia masih hidup
Sementara itu, jutaan kerdil daun petai cina tidur mengatup
Jutaan lainnya jatuh tersungkur
Setelah sebelumnya terlibat pertengkaran hebat dengan fohn
Seorang penyair duduk di tepi jendela
Kacamatanya tebal
Rambutnya dipukul rata oleh putih
Namun tangannya yang dipenuhi kusut itu
Masih sanggup memegang sebatang bolpoin
Serta selembar kertas yang rupa-rupanya berwarna coklat muda
Dahinya mengerut
Matanya tajam mengikuti ujung bolpoin yang menari-nari dengan tenangnya
Badai telah berhenti
Namun tiba-tiba
Langit, tanah, dedaunan, manusia, dan udara berubah warna menjadi lembayung
Ini bukan kesengajaan, ini adalah bukti kekuasaan
Seorang ibu memukul anaknya yang terlalu lama menatap langit
“Masuk! Nanti matamu sakit”
Sementara ibu lainnya memukul anaknya yang tidak mau menatap langit
“Magrib! Ke masjid, salat!”
Seorang anak laki-laki mengumandangkan azan
Tangannya dengan cepat menutup pintu-pintu dan jendela
Mencegah para musuh manusia yang nyata masuk ke dalam rumah
Tanpa sekali pun mengucapkan assalamu’alaikum
Ia pun beranjak dari kursi tua
Meletakkan rekaan yang telah usai ia rangkai
Mengambil air wudhu, sarung, dan kopiahnya
Menjemput ketenangan
Memenuhi panggilan Tuhan
Tegal, 27 Juli 2017
1.49 p.m.
07/07/2017
Humanimal
Gelita semakin meredupkan pelita, suara jangkrik di luar rumah kian sayup-sayup terdengar. Seorang pemuda masih terjaga dari lelapnya tidur di penghujung malam, cucuran keringat membanjiri kening hingga pelupuk matanya. Keheningan kian mendekap gelap dan membuat kondisi mencekam. Isyarat langit semakin membuat gundah qalbu, sesekali samar-samar ayat semesta membisik, nalarnya buram, jiwanya menggeram.
Ia terjaga bukan tuk melangitkan doa-doa, ada cemas yang merasuk jiwa hingga matanya masih terpana pada langit-langit kamarnya. Ketakutan merasuk dalam dirinya, hingga untuk melangkahkan kaki keluar dari bilik kamar yang selama ini menjadi ruang untuk merebahkan lelahnya atau sekadar membekukan keluh yang larut dalam kusut selimut, ia pun tak bisa. Ada hal yang tetiba saja membuat dirinya berkecamuk, menghadirkan perdebatan alot antara rasa dan rasionya.
Rembulan diluar kamarnya tengah membiaskan cahaya kehidupan pada dunia, pada semua ciptaan yang dihamparkan, tapi tidak pada apa yang saat ini ia rasa dan pikirkan. Dalam benaknya, sebuah peristiwa menghadirkan kegelisahan yang menghunus relungnya — mencabik-cabik nuraninya.
”Seonggok kemanusiaan tengah terkapar, dihancur-leburkan oleh nafsu kesombongan yang telah mengakar. Cemoohan, hujatan dan pandangan saling merendahakan terus saja dilayangkan. Kekacauan, kegaduhan, dan penderitaan telah menjelma menjadi ambisi kesenangan, menjadi candu dalam setiap helaan napas. Dan menebas rasa iba tanpa belas.”
Hal ini terjadi karena satu hal, peradaban yang saat ini ia arungi mengubah wajah dunia menjadi tempat keserakahan manusia, tempat dimana manusia tak lagi memupuk kebaikan dan cinta, tempat dimana manusia tak lagi bergandengan tangan untuk saling merajut kemesraan, tempat dimana manusia tak lagi berbagi kasih untuk mengobati pedih, tempat dimana manusia tak lagi memupuk suka untuk menuai bahagia, tempat dimana manusia tak lagi mengindahkan kedamaian.
Tapi kini menjadi tempat dimana kaki-kaki sibuk berjalan, kepala-kepala berkeliaran dengan rutinitas yang membuat mereka lupa tuk berbagi senyum dan tawa bagi sesama. Dilenakan oleh kepentingan dan hasrat untuk saling berebut kekuasaan dan keinginan, dibutakan dan ditulikan oleh keangkuhan dan kebejatan.
Sejatinya kehidupan memang tak pernah lepas dari wajah keberingasan, dan manusialah yang memilih untuk melebarkan kanvas kemudian melukiskan gambaran kekejamannya sendiri. Seorang Filsuf berkebangsaan Inggris yang beraliran empirisme, Thomas Hobbes pernah mengatakan dalam karyanya De Cive bahwasannya manusia adalah “homo homoni lupus. Sebuah kalimat bahasa latin yang berarti “Manusia adalah serigala bagi sesama manusianya.”
Istilah tersebut pertama kali dicetuskan dalam karya Plautus berjudul Asinaria (lupus est homo homini) pada tahun 195 SM yang diinterpretasi bahwa manusia sering menikam manusia lainnya. Manusia yang satu bisa memakan dan mengorbankan manusia lain demi tujuan yang hendak dicapai (kepentingan pribadi). Pernyataan ini menjadi pernyataan yang seakan tak lekang oleh masa, di setiap peradaban hal ini terus dijumpai dan dirasakan oleh manusia.
Manusia yang telah digerogoti oleh hasrat membabi buta dalam dirinya, seakan tidak peduli jikalau perlakuan dan perbuatan yang ia lakukan saat melukai hati orang lain menimpa keluarganya — bahkan dirinya sendiri. Nyaris dapat kita saksikan, hampir di semua bidang kehidupan hukum rimba seringkali digunakan. Manusia bak binatang yang hanya ingin memuaskan hasratnya semata.
Seperti kawanan serigala yang mendengus napas, mencari santapan daging-daging segar yang mereka sayat dengan kuku-kuku dan gigi-gigi tajam. Menghentakkan mangsanya pada nestapa biru dan hitam, karena telah diselimuti angkara murka dan amarah yang sudah lama terpendam. Tidak peduli apakah hasratnya itu melanggar kedaulatan orang lain, merusak ekosistem lingkungan, bahkan menghina aturan Tuhan yang adiluhur.
Tak bisa dipungkiri, dalam menjalani hidup, kekhawatiran terbesar manusia selain kematian adalah tentang bagaimana ia tidak dapat diterima oleh dunia. Sehingga hal ini membawanya untuk melakukan apa saja semaunya, dan ini pun mendatangkan pertanyaan besar.
“Apa yang ingin manusia raih dan sedang mereka cari sebenarnya?”
Tanah dan gunung dikeruk, rumah-rumah kecil disingkirkan, hutan di babat, besi dan beton ditanam untuk gedung-gedung tinggi menjulang. Orang-orang tak berdaya dianiaya, gelandangan ditertawakan, hak jelata dirampas dan harga dirinya hanya dipandang seperti ampas. Yang berkuasa tertawa karena semakin kaya, yang sengsara terpuruk dalam isak tangis karena semakin merana.
Ini hanyalah segelintir femonema pilu dari banyaknya representasi kezaliman yang terjadi dalam realita.
Kita mengenal kesedihan seperti saat kita melihat air hujan, setiap cucurannya bagai air mata yang berlinang. Juga perihal penderitaan yang lahir dalam puing-puing reruntuhan dan pada akhirnya hanya dianggap sebagai sampah buangan. Kehidupan pun kian asing dari muara kepedulian. Dendam dan darah, badik dan bedil, celurit dan api hadir dalam layar sesak kesadaran.
Kekerasan dan kebengisan memang ada dalam setiap kurun, tapi — pada suatu tahap, hal-hal itu bisa saja surut dan berubah jadi legenda. Atau jadi kisah yang akan diceritakan pada zaman-zaman berikutnya, pada generasi-generasi selanjutnya sebagai sebuah pembelajaran.
Mungkin hal ini memang sudah menjadi bagian dari guratan kisah dunia sebagai sebuah memori alami, sebagai sesuatu yang terberi untuk manusia. Seorang filsuf terkemuka asal Slovenia, Slavoj Zizek, pernah mengatakan, “bahwa hidup berasal dari katastrofi, atau bencana besar. Alam semesta bermula dari ledakan besar. Orang lahir ke dunia melalui penderitaan sang ibu. Cinta bukanlah gula kehidupan, namun justru sumber dari rasa sendu.”
Maka manusia perlu untuk melihat guncangan hidup sebagai bentuk kelahiran dari “yang lain”. Bahkan segala sesuatu yang di sekitar kita sekarang ini bermula dari sebuah penderitaan besar yang menimpa kehidupan sebelumnya. Maka guncangan penderitaan bukanlah bagian dari kehidupan, melainkan justru kehidupan itu sendiri.
Dalam hal ini, manusia harus berjuang dalam pengembaraan hidup, menjelajahi belantara makna yang terbentang, hingga ia bisa lebih membangun kesadaran sebagai seorang manusia.
Namun dibalik ini semua, satu hal yang perlu kita renungi, ialah:
"Mengapa kebengisan harus terawat dengan begitu lekat?
Juga hasrat yang kadang membuat kita terpikat pada hal-hal bejat.
Bukankah dunia adalah suatu hal yang fana?
Pada akhirnya kita semua sama saja.
Hanya tumpukan tulang belulang yang nantinya lapuk menjadi debu semesta.
Penderitaan bukanlah suatu hal yang pantas tuk dipentaskan.
Dan membunuh kemanusiaan bukanlah hal yang patut untuk dirayakan!!”
Sehingga kita tak boleh bergeming dan berpaling, hanya membiarkan dan mencari aman atas segala lika-liku penderitaan yang ada di sekitar kita. Kita perlu mengembalikan dan mendekatkan apa yang telah raib dan pupus (humanity), jalan yang tak pernah membedakan bau darah seseorang.
Kembali mendekap pada apa yang pernah lenyap. Saling membasuh, juga mengasuh pada hal yang tak lagi utuh. Jika tidak, kita hanya akan berakhir pada suatu ketiadaan.
Semoga kita lekas berbenah.
Lembayung (2024) | Movie | Movies Dock
Watch Lembayung (2024) | Movie | Movies Dock Movie Online If you’re looking for Lembayung (2024) | Movie | Movies Dock movie, you’re in the right place. On Movies Dock we cover story, cast and trailers so you can decide what to watch next. 🎬 Title: Lembayung Story: Arum and Pica, who wanted to complete their internship at Lembayung hospital, had to face mysterious terror from a woman satan who…