Masa tua
Masa tua sesepi itukah? Saat anak-anak yang kau besarkarn sepenuh jiwa, yang kau peras keringatmu hanya demi mereka, yang kau abdikan seluruh hidupmu untuk membahagiakan mereka, satu persatu meninggalkan rumah. Entah untuk berkeluarga, atau untuk bergulat meraih asa.
Tubuh yang renta, daya fisik yang tak lagi sama seperti saat muda, berbagai penyakit yang semakin akrab menyapa, anak-anak yang kini jauh di mata, ditambah kabar duka dari teman-teman seusia, yang satu-persatu pulang menghadap Tuhannya. Takut dilupa, tak lagi jadi prioritas utama, takut maut tiba-tiba memelawa. Sederet kecemasan yang tiap hari mengganggu pikiran dan hati mereka. Sedang lisan mereka tak pernah berani merapalkannya lewat kata-kata.
Saat ayah-ibu semakin tua, mereka jadi lebih perasa, lebih sensitif katanya. Ingin menyapa lewat wa saja, takut mengganggu kesibukan anak-anaknya. Padahal setiap waktu yang dinantikan adalah kabar dari anak-cucu tercinta. Tiap hari bertanya-tanya apakah mereka baik saja. Pada akhirnya yang dilakukan adalah, video lama diputar berulang-ulang hingga berkurang rasa rindunya. Juga ribuan doa yang tak pernah ada putusnya. Kiranya hanya doa saja senjata terakhir mereka untuk mengusir rindu nestapa. Bagaimanapun orang tua tetaplah sama. Kasih sayangnya tak terkira pun tak lekang oleh masa. Doanya tak pernah alpa menyapa, mengetuk pintu langit di sela-sela purnama. Menghujani anak-anaknya dengan cinta.
Sedangkan kita sebagai anak seringkali lupa. Menganggap semuanya biasa saja. Seringkali tak peka, alpa melihat gurat kecemasan di wajah mereka. Pikiran dan perasaan mereka yang sebenarnya.
Telfon ibumu sekarang, juga sering-seringlah pulang, rindu mereka meradang, menanti anak yang tak kunjung datang.
















