Why We Think The Things We Think
Dunia menyimpan banyak pertanyaan dan manusia selalu berupaya menemukan jawaban yang memuaskan yaitu jawaban yang sesuai dengan pengalaman indrawi yang ia dapatkan.

seen from United States

seen from Netherlands

seen from Malaysia

seen from Lithuania

seen from United States

seen from India
seen from China
seen from Bangladesh
seen from United States
seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States

seen from Germany
seen from United States
seen from Germany
seen from China
seen from Lithuania
seen from China

seen from China
seen from China
Why We Think The Things We Think
Dunia menyimpan banyak pertanyaan dan manusia selalu berupaya menemukan jawaban yang memuaskan yaitu jawaban yang sesuai dengan pengalaman indrawi yang ia dapatkan.
Apa Itu Pengalaman Spiritual?
Definisi yang Selalu Gagal
Pengalaman mistik atau pengalaman spiritual tidak pernah sama antara satu orang dengan orang lain atau antara satu keyakinan dengan keyakinan lain atau paling tidak tidak ada kemungkinan untuk mengonfirmasi kesamaannya atau juga perbedaannya. Penyebabnya adalah pengalaman tersebut non indrawi hingga tidak ada standar baku tentang persamaannya dan perbedaannya dengan pengalaman orang lain. Karena itu, juga tidak mungkin mengukur kekeliruan atau kebenarannya.
Contoh pengalaman spiritual adalah pengalaman “menyatu dengan Tuhan” atau “menyatu dengan alam semesta”. Menyatu tidak mesti berarti ada “penggabungan” dua entitas atau “penyerapan” satu entitas oleh entitas lain. Bisa saja menyatu itu lebih merupakan sebuah “kontak” sehingga hamba tetap hamba dan Tuhan tetap Tuhan sebagai entitas yang tidak menyatu, hanya berhubungan secara intensif.
Karena melampaui pengalaman indrawi, maka pengalaman spiritual tidak mudah didefinisikan. Objek (jika bisa disebut begitu) dari pengalaman spiritual memang juga bukan objek indrawi biasa. Pengalamannya tidak indrawi dan objeknya juga tidak indrawi, namun hasil dari sebuah pengalaman spiritual adalah sebuah pengetahuan. Tentu saja pengetahuan di sini bukan pengetahuan indrawi pula karena realitas yang menjadi “objek” juga tidak dapat diakses melalui persepsi indra biasa.
Pengalaman spiritual benar-benar personal sehingga bahkan mereka yang mengakui bahwa pengalaman seperti memang ada pun tetap mengalami pengalaman spiritual yang tidak sama satu sama lain. Meski demikian, bisa saja sebuah definisi disepakati bersama dengan catatan bahwa pengalaman masing-masing orang tetap tidak pernah sama.
Saking personalnya sebuah pengalaman spiritual, maka bahkan terjadi tanpa media apapun. Indra sesungguhnya adalah media yang mengantarai antara “subjek” yang mengalami dan “objek” yang dialami. Pengandaiannya adalah bahwa jika ada semacam media sebagai alat, maka alat tersebut bisa dipakai juga oleh orang lain dank arena itu, bisa didiskusikan kebenarannya. Karena pengalaman spiritual adalah tanpa media, maka sering pula disebut “pengetahuan melalui partisipasi” dan juga “pengetahuan melalui kehadiran”.
Salah satu bentuk pengalaman spiritual adalah kesadaran (subjek) akan (objek) Tuhan yang menghasilkan kesadaran lanjutan tentang ketergantungan subjek sepenuhnya kepada Tuhan. Dalam hal ini, tampak ada dua entitas, yaitu subjek dan objek. Namun bisa juga ada bentuk berbeda yaitu kesadaran subjek sebagai entitas yang tidak kekal. Pada yang kedua ini, yang ada hanya subjek dan tidak ada objek.
Kisah Pengalaman yang Juga Selalu Gagal
Setelah terjadi pengalaman spiritual, ada semacam problem tersendiri bagi yang mengalami dan hendak memberikan semacam konseptualisasi atau pengisahakan atas pengalamannya tersebut. Sekali lagi, problem itu ada karena pengalaman tersebut tidak indrawi dan “objek”-nya pun tidak indrawi. Bagaimana tidak menjadi problem tersendiri jika sebuah pengalaman yang melampaui indra hendak dikisahkan dalam bentuk yang harus tunduk kepada indera seperti bahasa, kosa kata, dan ungkapan yang seluruhnya hanya bisa dipahami jika direlasikan dengan realitas indrawi.
Agama biasanya didefinisikan lewat teologinya yang memang selain dihadirkan untuk menjelaskan agama itu sendiri juga dihadirkan untuk membedakan satu agama dengan agama lain. Bahkan pembedaan adalah inti dari setiap agama dan persamaan adalah nista bagi agama. Tentu yang dimaksud adalah teologinya, juga ritualnya. Pembedaan terus-menerus dihembuskan dengan alasan untuk menghindari kekafiran karena persamaan berarti kekafiran.
Pengalaman spiritual tidak terlalu hendak membedakan dirinya dengan yang lain karena pengalaman spiritual memahami bahwa memang tidak mungkin ada pengalaman yang sama karena pengalaman selalu personal. Bagaimana mungkin pengalaman yang personal disamakan dan juga bagaimana mungkin dibedakan?
Pengalaman spiritual sesungguhnya adalah pencapaian yang tidak hanya tentang kesadaran semata, tetapi juga tentang bagaimana cara hidup dipengaruhi olehnya. Pengalaman spiritual bukan hanya peristiwa sesaat tetapi berlangsung secara kontinyu dalam kehidupan sehari-hari dan berpengaruh terhadapnya. Pengalaman spiritual selalu menekankan kepada kesadaran “ketergantungan mutlak”. Bukankah itu bukan teologi? Bukankah itu menjadi inti agama-agama?[]
Pandangan Plato ,Tentang Dunia Ide Dan Dunia Indrawi.
[ad_1]
Idea-idea Sumbangsih Plato yang terpenting adalah pandangannya mengenai idea. Pandangan Plato terhadap idea-idea dipengaruhi oleh pandangan Sokrates tentang definisi. Idea yang dimaksud oleh Plato bukanlah ide yang dimaksud oleh orang modern. Orang-orang modern berpendapat ide adalah gagasan atau tanggapan yang ada di dalam pemikiran saja. Menurut Plato idea tidak diciptakan oleh…
View On WordPress