Melukis lupa dengan tinta rindu
Ketika dunia memintaku untuk melupakanmu, aku justru memilih untuk menulis seribu cerita tentangmu. Kata-kata itu kupercayakan kepada dedaunan yang berdesir, kubisikkan kepada angin yang berlalu, bahwa melupakan seseorang sepertimu bukanlah perkara yang mudah.
Melupakanmu bagaikan mencoba menguras seluruh air di samudra dengan kedua tangan kosong. Meski permukaan tampak kering, jejak-jejak asin masih tertinggal di setiap sudut hati, meninggalkan rasa yang tak akan pernah hilang sepenuhnya. Kehilangan dan kerinduan telah menjadi doa yang tak pernah berhenti mengalir dari bibirku. Namun, dalam keheningan malam yang panjang, aku bertanya-tanya: apakah kembali masih layak untuk diharapkan?
Rindu datang seperti badai yang tak terduga, mengobrak-abrik setiap sudut hatiku hingga aku hampir menyerah. Dalam keputusasaan itu, aku berlutut di hadapan fajar yang redup, memohon kepada waktu yang seakan membeku, agar memberiku kekuatan untuk terus melangkah. Segala rasa yang mengalir ini telah kubungkus dengan hati-hati, seperti hadiah yang menanti waktu yang tepat untuk dibuka. Mungkin suatu hari nanti, kau akan membuka bungkusan itu dan menyadari bahwa aku masih di sini, masih menunggumu dalam kesunyian yang tak berujung.
Dan dalam penantian itu, aku belajar bahwa cinta sejati bukanlah tentang memiliki, melainkan tentang tetap mencintai meski dalam jarak dan waktu yang memisahkan kita.



















