Ada satu masa ketika aku mencintai seseorang dengan begitu utuh—tanpa syarat, tanpa jeda, hampir tanpa menyisakan ruang untuk diriku sendiri. Aku mempelajari dunianya, menerima luka-lukanya, memahami diamnya, bahkan mencintai sisi-sisi dirinya yang mungkin dipilih orang lain untuk ditinggalkan. Aku ada, bukan hanya saat hidupnya baik-baik saja, tetapi juga ketika semuanya terasa runtuh.
Aku kira cinta sebesar itu akan cukup. Cukup untuk membuat kita saling memilih, berulang kali.
Namun ternyata, kehilangan aku adalah pilihanmu. Bukan karena aku pergi, melainkan karena ada seseorang lain yang diam-diam masih tinggal di dalam hubungan kita. Padahal, aku tidak pernah berniat meninggalkan. Aku selalu ingin tetap tinggal, tetap bersama, tetap menjadi rumah, bahkan di saat paling sulit sekalipun.
Kini aku hanya sibuk merapikan sisa-sisa rasa yang belum sempat benar-benar kulepaskan. Bukan aku tak ingin pergi, aku hanya belum selesai. Belum selesai memahami bagaimana semuanya bisa berubah secepat itu. Belum selesai meyakinkan diriku bahwa apa yang pernah kita miliki ternyata tidak selama yang kubayangkan.
Kadang aku masih bertanya tentang semua hal yang dulu pernah kamu beri. Apakah itu benar-benar nyata, atau hanya tampak indah karena aku terlalu percaya? Jika memang nyata, mengapa kamu bisa menyakitiku sedalam ini? Namun jika itu hanya ilusi, mengapa rasanya tetap tinggal begitu lama di dalam hati?
Yang paling menyakitkan bukan melihatmu bahagia, melainkan menyadari bahwa aku masih berdiri di tempat yang sama, sementara kamu sudah melangkah jauh tanpa pernah menoleh lagi.
Dan mungkin, pada akhirnya aku akan benar-benar pergi. Bukan karena aku berhenti mencintai, melainkan karena aku akhirnya mengerti: tidak semua yang kita jaga sepenuh hati ditakdirkan untuk tetap tinggal.