Balas Dendam Paling Elegan
Berhubung banyak yang review positif sama drakor ini, saya coba tonton Itaewon Class. Dan gimana tun?
Hmm.. Ada sedikit kesamaan sama motivasi diri sendiri. Saat nonton dan setelahnya, saya mikiiir banget. Saya cerita dulu kesamaannya.
Dulu, saat awal kuliah saya pernah di posisi sakit hati karna "diinjak" oleh kata-kata seorang teman di jurusan, yang sebetulnya saat itu kenal pun enggak karna baru ospek. Yang intinya adalah meremehkan. Empat tahun kenal, dan saya mencoba mengatur gemuruh sakit hati itu, hahaha rapih emang kalo soal menyembunyikan sesuatu mah. Dan pernah juga merasa sakit hati oleh beberapa teman pas direndahin karna golongan miskin alias anak Bidikmisi. Lucu memang hidup ini. Beberapa orang cuma menilai Bidikmisi itu beasiswa bagi si miskin, bukan beasiswa bagi si prestasi. Menganggap bahwa kita benalu. Tapi saya dan teman-teman senasib berusaha sabar, gak pernah berani macem-macem. Bukan karna gak punya nyali buat melawan, tapi saya sendiri punya cara lain untuk membalas. Waktu itu saya cuma nulis dan saya yakini dalam hati, bukan hari ini, jangan hari ini. Sabar, kamu kuat. Selalu kencangkan sabuk yang kuat, tujuan saya di sini, kuliah tepat waktu karna negara yang bayarin. Dan saya punya utang budi sama negara. Ok sip, ok skip. Btw, makasih loh sama Pak SBY berjasa banget di jaman saya. Hehe.
Lalu kemarin, dia (yang tak ingin kusebut namanya, haha canda candaaa) datang untuk minta bantuan. Boro-boro ngobrol, komunikasi di WA pun belum pernah.
Saya cerita ke ibu tentang orang ini dan saya bilang (sambil tarik napas, karna sakit hati itu sangat sangat susah hilangnya gaes), "kalau saya gak dididik dgn baik sama Mamah, mana mau bantu orang yang pernah nyakitin hati, cuekin aja, blokir sekalian. Tapi sayangnya selama ini Atun gak dididik gitu sama Mamah, Allah juga gak akan suka kalo Atun balas dgn cara yg Atun mau. Ah gimana sih Mah, gagal kan mau balas dendam hahaha"
Kata ibu yang buat saya tenang seketika dan merasa malu, syukur kalo kamu udah bisa berpikiran gitu, pembalasan terbaik atas perilaku orang lain yang menyakiti kita itu cuma ada satu cara buat balasnya, berbuat baik.
Jawaban itu nambah kekuatan banget. Sekarang ada yang nyakitin hati selalu nyoba nguatin hati, yuk balas sama hal baik apa ya.. (wooo ini tak mudah sodaraa)
Sampai pas nonton episode demi episode Itaewon Class ini, saya nangis sesenggukan. Haha aduh lebay sih. Ya, sakit hati meluap lagi. Muncul kembali setelah bertahun-tahun reda. Tapi untuk kali ini, merasa plong. Banyak pelajaran baru yg saya dapet dari drama ini.
Kau tak perlu meyakinkan orang lain soal siapa dirimu. Ya kata ini nancep banget. Iya ya, ngapain juga kita butuh pengakuan dari orang. Toh mau kita miskin atau kaya, orang gak pengen tahu prosesnya. Dan orang hanya tahu akhir dan hasil. Gak perlu juga memperlihatkan ketar ketirnya kita kaya apa di masa berjuang. Toh tiap hari juga buat saya adalah hari-hari perjuangan.
Aku tak mau goyah oleh siapapun atau situasi apapun. Aku ingin membuat keputusan sendiri dalam hidupku. Iya kadang, eh sering sih. Keputusan yang kita ambil, atas dasar orang lain. Gengsi, menuruti apa kata orang, ikut-ikutan, dsb. Bukan atas kemauan diri sendiri. Tumbang sebelum menang. Beda ya tolong tun, antara pasrah dengan menyerah. Seringnya kita menempatkan menyerah di awal.
Dan dari drama ini juga saya bisa lihat sosok dua Ayah yang berbeda karakter dan cara mendidik anak-anaknya yang beda 180°. Hasil didikan Ayah yang luar biasa akan menghasilkan anak yang luar biasa juga. Dan didikan yang salah, tentu akan menerima akibatnya. Banyak belajar juga gimana harusnya jadi orangtua yang bener, yang bisa menumbuhkan prinsip anaknya, membantu kepercayaan diri anaknya, dan saling bangga baik sebagai Ayah ataupun anak. Luar biasa banget pelajarannya. Calon Ayah dan Ayah cik sok naronton gera.
Perjuangan Park Saeroyi dari kedai kecil dan akhirnya jadi waralaba dan jadi bisnis makanan nomor 1 di Korea Selatan. Wah keren lah gila gilaaa! Yang lagi butuh semangat kudu nonton deh. Perhatiin deh, ah ini mah semuanya berjuang, tiap peran di drama ini memperjuangkan apa yang jadi tujuan masing-masing.
Ya begitulah harusnya balas dendam paling elegan. Tanpa perlu banyak tenaga untuk melawan. Mohon maaaaf banget sama teman-teman yang selama kenal sama saya dan banyak tersakiti. Gak dipungkiri kita sering gak sadar sedang melukai hati orang. Sekali lagi, mohon maaf. Mari hidup tenang dan damai. Lalu, jadi hikmah bersama.