Perihal: —
Untukmu,
Mungkin kau sedang membaca ini di sela-sela kesibukan, atau mungkin surat ini tidak akan pernah sampai. Tidak apa. Aku hanya perlu menuliskannya.
Aku sering memperhatikanmu dari jauh. Bukan dengan tatapan menghakimi, tapi dengan kekaguman yang sunyi. Aku melihat caramu tersenyum pada kasir, caramu menepuk bahu temanmu, caramu mengangkat telepon dengan suara yang tenang seolah tidak ada badai yang sedang berkecamuk di dalam kepalamu.
Aku ingin kau tahu, aku tidak iri pada kesuksesanmu. Aku tahu kau membayarnya dengan harga yang mahal. Aku juga tidak iri pada lingkaran pertemananmu; aku tahu betapa sepinya berada di tengah keramaian.
Yang aku iri, dan ini terdengar konyol, adalah caramu bernapas.
Napasmu terlihat begitu teratur. Begitu dalam. Seolah kau telah berdamai dengan beban yang kau pikul, sementara aku masih terengah-engah hanya dengan memikirkannya.
Aku selalu ingin bertanya padamu: bagaimana caranya? Bagaimana caranya membangun dinding yang begitu kokoh hingga tak ada satu pun retakan yang terlihat dari luar? Di mana kau sembunyikan puing-puing dari pertarungan kemarin? Apakah kau menyimpannya di kantong celanamu, di dasar cangkir kopimu, atau di keheningan singkat saat lampu merah?
Tolong jangan salah paham. Ini bukan surat keluhan. Ini adalah surat pengakuan. Pengakuan bahwa aku melihatmu. Aku melihat kekuatanmu. Dan di hari-hari saat aku merasa paling lemah, aku meminjam sedikit kekuatan itu hanya dengan melihat punggungmu yang tetap tegap saat berjalan pulang.
Terima kasih, karena tanpa kau sadari, kau telah menjadi mercusuar bagiku, sebuah perahu kecil yang masih takut pada ombak.
Hormatku,
Seseorang yang masih belajar.
Roni. | 5 Agustus 2025













