Apakah Kau mengira bahwa terluka karna cinta akan dirasa seseorang yang berpacaran saja di zaman ini?
Tidak, seseorang yang katanya mencintai dalam diam juga berpotensi terluka tanpa kau ketahui, selayaknya ia yang mencintai diam-diam, rupanya Ia juga bisa terluka diruang sunyinya itu—realita yang sama-sama menyesakkan.
Bahkan Ia yang tak sempat memiliki itu, bisa jadi menanggung derita juga ketika di hadapkan dengan kehilangan, kehilangan harapan, kehilangan kendali atas diri yang sudah terlanjur meletakkan harap secara berlebih.
"Mengapa bukan Aku yang Ia pilih?"
"Tuhan harusnya Aku menerimanya (pacaran) saat itu"
"Tuhan, harusnya Aku lebih berani mengakui"
Pertanyaan-pertanyaan bodoh yang membuatnya merutuki diri, sebab terlalu pengecut dihadapan cinta, namun bukan, bukan sepenuhnya tak memiliki keberanian untuk mengakui, tapi ada prinsip dan keyakinan bahwa jalan cinta tak selalu melalui pacaran.
Ia tau, ia berusaha memahami itu berulangkali, namun apalah daya, ternyata patah dan luka kadangkala membawanya pada labirin nestapa yang tak ada ujungnya.
Lalu kadangkala penyesalan dan juga ketakutan merengkuhnya secara bersamaan, menyesali sebab telah kehilangan kesempatan (kesempatan bersama pada ia yang didamba, kesempatan merengkuh cinta dengan lebih nyata, merasakan rasa yang katanya 'Bahagia')
Namun di sisi lain ia juga takut menyalahi ketentuan cinta yang telah Tuhan tetapkan,
"Memangnya benar akan bahagia bila besama?"
"Apakah tidak ada perpisahan?
"Apakah itu benar-benar kokoh dan bertahan?"
"Tidak, pada akhirnya yang tak ditakdirkan akan selalu menemukan caranya untuk terlepas dari genggaman"
Ia yang tak disatukan, barangkali memang bukan takdir yang tersematkan.
Disela-sela luka dan derita yang menyesakkan jiwa, sebetulnya Ia memahami bahwa takdir yang tuhan tetapkan tidaklah bermakna sia-sia, kendati cinta ataupun rasa yang ia punya melukai jiwa.
Seseorang yang teramat ia kagumi dalam sunyinya itu telah memilih jalannya sendiri, jalan yang bukan kearahnya, seseorang itu rupanya memiliki cintanya sendiri, cinta yang bukan melihat ke matanya, meski disunyi ia meratap sedih, namun ia juga bersyukur, bukankah itu juga tanda dari Rabb-Nya?
Bahwa mungkin seseorang yang Ia kasihi setulus hati bukanlah seseorang yang ditakdirkan untuk mencintainya, barangkali dibelahan bumi yang tak ia ketahui, sudah Allah pilih seseorang lain yang akan mencintainya dengan setulus hati.
"Semoga, semoga Tuhan mengkaruniakan Ia seseorang yang mencintainya, dan juga dicintainya"
Betapa sakitnya jika hanya salah satunya, sungguh, kadar ketahanannya belumlah mampu jika harus merasakan hanya salah satunya saja.
Dan semoga Cinta yang indah menemukan jalan dan cara yang lebih indah, lebih tertata dengan aturan-Nya. Pacaran bukanlah jalannya, ada aturan dan cara cinta seharusnya sebagaimana ketetapan Allah, mencintai bukan tentang bahagia semunya saja, tetapi mencintai menjadi jalan menemukan cinta-Nya.
(Maka apakah pantas ditempuh dengan menyalahi aturan-Nya)
Meski tidak berpacaran juga berpotensi kecewa, dan nestapa, tapi alangkah baruntungnya seseorang itu, meski ia direngkuh cinta dengan hebatnya, rupanya ia mampu menjaga cintanya, tidak melanggar, tidak menyalahi aturan, tetap mempertahan prinsip yang ia yakini bahwa jalan cinta bukan hanya melalui pacaran.