Jelajahi Semarang dengan layanan bus dari Joglosemar. Cek jadwal bus & ketersediaan kursi di redBus yuk!
https://m.redbus.id/perjalanan/joglosemar
seen from United States
seen from United States
seen from Latvia

seen from Australia
seen from Netherlands
seen from United States

seen from United States

seen from Australia
seen from China
seen from United States
seen from Latvia
seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Latvia

seen from Australia

seen from Latvia
seen from Australia
seen from United States
seen from United Kingdom
Jelajahi Semarang dengan layanan bus dari Joglosemar. Cek jadwal bus & ketersediaan kursi di redBus yuk!
https://m.redbus.id/perjalanan/joglosemar
#AIMYoga #Yoga Pagi (24/01/2018) di #Jogjakarta persembahan #AnandKrishna Centre #Joglosemar
Menhub Tegaskan Bandara Kulonprogo Aman dari Tsunami
Menhub Tegaskan Bandara Kulonprogo Aman dari Tsunami
YOGYAKARTA – Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, menyatakan Bandara baru Kulonprogo yang tengah dibangun saat ini sudah dirancang dengan memperhatikan kondisi lingkungan, sehingga aman dari ancaman bencana, termasuk tsunami.
Untuk memastikan keamanan bandara internasional yang berada di kawasan pantai selatan DIY itu, pihaknya bahkan mengaku telah melakukan uji simulasi bila terjadi tsunami.…
View On WordPress
・・・ 10 Destinasi Pariwisata Dapat Branding Baru JAKARTA – Pemerintah merilis branding baru bagi 10 destinasi pariwisata utama Indonesia untuk mendorong kinerja pariwisata nasional. Menteri Pariwisata Arief Yahya merilis branding baru tersebut bersamaan dengan pameran potensi daya tarik wisata budaya, alam, dan daya tarik wisata buatan dengan tema The New Chapters of Indonesia, Rabu (14/6/2017). Kesepuluh destinasi dengan branding baru itu yakni Bandung (Jawa Barat), Great Bali, Great Jakarta, Great Kepri, Joglosemar (Jogja-Solo-Semarang), Coral Wonders (Wakatobi-Bunaken-Raja Ampat), Medan, Makassar, Lombok dan Banyuwangi. Menurutnya, branding baru ini sebagai upaya untuk menyelarasakan sub brand (branding destinasi) dengan masterbrand (Wonderful Indonesia). Hal ini diperkirakan dapat memperkuat positioning dari master-brand dan menciptakan sinergi antara pusat dan daerah. “Sarana dan prasarana pendukung pariwisata di 10 destinasi utama ini yang paling siap sehingga akan mudah di-brandinguntuk meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara,” ujarnya. Adapun, target kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia tahun ini sekitar 15 juta dan naik menjadi 20 juta pada 2019. Kesiapan 10 destinasi utama dengan branding baru tersebut terutama menyangkut unsur atraksi, aksesibilitas dan amenitas (3A). Unsur 3A ini akan mempermudah wisatawan berkunjung ke masing-masing destinasi untuk menikmati fasilitas, sarana akomodasi, maupun atraksi unggulan yang ada di daerah tersebut. Dia memberi contoh untuk wisata bahari yang dimiliki Wakatobi, Bunaken, dan Raja Ampat di-branding sebagai Coral Wonders. Sumber : m.bisnis.com/industri/read/20170614/12/662755/10-destinasi-pariwisata-dapat-branding-baru #VisitJateng #Joglosemar #Borobudur via @disporaparjateng • • •
Yang sabar yang nantinya beruntung :)
SEMANGAT SEMANGAT SEMANGAT! HAHAHA! GAS POL!
#AnandKrishnaQuotes #AnandKrishna #AnandAshram #Quotes #quoteoftheday #Jakarta #Ubud #Bali #Joglosemar #Indonesia #Kutipan #Inspirasi
Cerita Mei '98
Ini cerita rusuhnya tahun 1998 sejauh yang saya ingat dan rasakan. Nggak banyak memang yang saya ingat karena saat itu masih 5 tahun, masih bocah buat mengerti apa yang sedang terjadi.
Saat ‘98 posisi kami (Saya, Titus, dan mama) di Delanggu karena mama harus menyelesaikan studi masternya, sedangkan papa bekerja di Surabaya. Delanggu adalah sebuah kecamatan kecil di Kabupaten Klaten - Jawa Tengah, antara Jogja dan Solo. Kami tinggal di rumah kakek bersama dengan om dari papa. Rumahnya terletak di pinggir jalan, seberang gereja katolik, strategis karena dekat pasar, stasiun, dan hanya berjarak 100m dari jalan lintas propinsi (Jogja-Solo).
Mei ‘98. Saya lupa tepatnya tanggal berapa, hari apa. Malam itu saya hendak tidur dan sekilas saya mendengar kakek meminta mama untuk menjadwal ulang bimbingan tesisnya tapi mama menyayangkan kesempatan bertemu profesornya. Saya nggak paham apa artinya, tapi yang saya tahu saat itu hanya besok pagi ketika saya bangun untuk bersiap ke sekolah mama sudah berangkat ke Jogja untuk kuliah. Dan benar, paginya ketika bangun mama sudah nggak ada. “Sudah ke Jogja”, kata Mbak Sum, pengasuh saya.
Nggak seperti biasanya, pagi itu semua pintu rumah masih tertutup, padahal biasanya ketika saya bangun pintu rumah yang sangat lebar (bagian depan rumah tadinya digunakan untuk bejualan meubel sehingga pintunya punya bukaan besar untuk memajang dagangan) sudah dibuka. Kakek bilang hari ini sekolah libur. Saya nggak percaya. “Lho masa kalau libur bu guru nggak ngomong kemarin,” pikir saya. Masih ngotot, saya mandi dan berseragam kemudian diantar Mbak Sum ke sekolah yang cuma nyebrang jalan. Iya, TK saya berada di belakang kompleks gereja.
Begitu keluar rumah saya merasa ada yang ganjil. Semua pintu rumah tertutup. Tidak ada tanda-tanda aktivitas seperti biasanya diluar. Bahkan gerbang gereja yang biasanya dibuka juga ditutup, artinya sekolah libur. Nggak ada gerobak jajanan di trotoar. Mas-mas tukang bakso yang biasanya sudah siap-siap mau buka warung juga nggak kelihatan. Simbah-simbah becak yang biasa mangkal di trotoar depan rumah juga nggak ada. Di sebelah rumah saya ada toko bangunan, pemiliknya seorang kakek etnis Tionghoa yang saya tidak ingat namanya. Pagi itu ada beberapa kertas bertuliskan “Wong Jowo” dan “Pribumi” di pintu tokonya. Saya masih nggak paham maksudnya. Ternyata kertas dengan tulisan yang sama tertempel di hampir semua rumah, termasuk rumah saya. Bahkan ada beberapa rumah yang tulisannya dibuat di diding, pintu, atau jendela dengan cat.
Semakin siang jalanan jalanan depan rumah makin ramai, tapi bukan aktivitas warga ataupun pasar tumpah kliwonan seperti biasa, tapi iring-iringan orang berjalan membawa bendera ataupun rombongan motor dengan knalpot yang buat Titus nangis nggak berhenti karena berisik. Saat itu Titus berumur belum setahun. Mereka berteriak, memukul barang. Saya masih nggak paham apa teriakan yang dilantangkan. Saya nggak paham bendera-bendera apa yang dibawa, tapi saya tahu itu bukan bendera Indonesia dan belakangan saya tahu bahwa yang diteriakkan adalah,, “Cino diobong”, dan beragam sumpah serapah.
Saya masih ingat obrolan kakek bersama beberapa sesepuh sekitar, “Mbak Siok, Mbak Susi wis ora ning omah e to? Tokone wis dikunci? Wis ora opo-opo, wis aman berarti”. Mbak Siok dan Mbak Susi, mereka bersaudara. Tiga perempuan bersaudara sebenarnya. Mereka tinggal bersama, tidak menikah dan membuka toko kelontong di dekat rumah kakek. Saya nggak tahu mereka di mana saat itu dan mengapa mereka diharapkan sudah tdak di rumahnya, tapi terlalu berat juga buat saya buat memahaminya saat itu. Kemudian kakek menyuruh saya ke kamar dan meminta Mbak Sum merebus air dan membuat teh banyak-banyak, serta mengisi penuh semua bak mandi dan ember. Jaga-jaga katanya. Entah jaga-jaga untuk apa, toh para tamu sesepuh sudah mendapat suguhan yang sepertinya cukup.
Saya yang ingin tahu apa yang terjadi beberapa kali nyelonong ke ruang tengah, berharap paham yang sedang terjadi dan bertanya-tanya kapan mama pulang.
Diluar semakin gaduh. Tiba-tiba saya melihat kepulan asap hitam yang nampak dari dalam rumah saya yang tidak beratap. Pekat dan tinggi. Berasal dari sebelah kanan rumah. Akhirnya saya tahu bahwa toko bangunan itu dibakar, tapi si kakek tidak ditemukan, sepertinya sudah menyelamatkan diri sebelumnya. Tidak hanya toko bangunan sebelah rumah yang dibakar, dijalanan juga terdapat beberapa ban maupun barang lainnya yang menyala-nyala. Tidak ada yang tampak berusaha memadamkan api. Orang-orang sibuk melempat batu kearah toko, atau menonton dari pintu rumah masing-masing.
Saya teringat mama. Saya panik. Mbak Sum mulai sesenggukan. “Ibumu sebentar lagi sampai rumah, ditunggu di dalam saja,” kata kakek.
Suara dari jalanan makin ramai. Lewat mengintip saya lihat banyak orang membawa berbagai barang, mulai sepeda, radio, kipas angin, karung beras, kardus makanan, dll. Belakangan saya tahu, mereka menjarah toko dan isi rumah Mbak Siok serta beberapa toko di dekat pasar. Mereka mulai berdatangan ke rumah. Meminta makan dan minum. Akhirnya saya tahu maksud kakek menyuruh Mbak Sum merebus banyak air dan membuat teh. Dari dalam saya melihat gelas plastik yang disajikan tidak mereka gunakan. Mereka langsung meminum dari botol, bahkan ceret. Saya jijik melihatnya.
Saya mencuri dengar kalau kendaraan sepanjang Jogja-Solo diberhentikan. Apapun kendaraannya dilarang melintas. Mama masih di Jogja! Saya panik.
Hari mulai gelap tapi lampu rumah belum dinyalakan. Mati lampu ternyata. Titus beberapa kali menangis dan nggak lepas dari gendongan Mbak Sum. Saya panik. Mau nangis, tapi saya tahan-tahan. “Sudah jadi kakak nggak boleh cengeng,” itu yang saya pikirkan.
Akhirnya mama sampai rumah. Entah naik apa tapi saya melihatnya jalan kaki, tidak naik becak seperti biasanya. Ternyata bus yang mama tumpangi diberhentikan di Prambanan dan mana meminta tolong boleh diikutkan truk tentara sampai Delanggu. Awalnya tentara menolak ditumpangi dan menyuruh mama tetap di Jogja saya, tapi mama bersikeras harus pulang karena masih punya bayi yang butuh ASI. Cerita ini baru saya ketahui saat saya lebih besar. Akhir SD atau SMP mungkin.
Saya sudah tenang. Malam itu kami tidur dalam gelap. Sampai beberapa hari setelahnya suasana masih sepi. Sekolah masih libur, asap hitam masih terlihat dari beberapa bangunan sisa dibakar. Beberapa toko tebuka pintunya dan tampak berantakan. Pecahan beling dan potongan kayu tampak di jalanan. Lonceng gereja yang biasanya berbunyi tiap jam tidak terdengar. Mbak Siok dan saudaranya beberapa kali datang dan menginap di rumah. Mereka menangis tanpa henti dan saling berpelukan sambil menggenggam rosario. Saya tidak tahu dimana kakek pemilik toko bangunan, yang saya tahu beberapa tahun kemudian kakek membeli tanah yang diatasnya masih ada puing sisa terbakar, membongkarnya, dan menjadikannya bagian dari halaman Gedung Ganeca milik keluarga besar.
Saya tahu, berkaitan dengan Pilkada Jakarta belakangan suasana jadi kurang kondusif. Karena satu dan lain hal teman-teman saya terutama yang beretnis Tionghoa teringat bagaimana mereka bersembunyi ketika kejadian '98 ini. Saya sendiri yang seorang Jawa (dengan sedikit Bugis) dan cucu dari seseorang sesepuh di lingkungan masih merasakan ketakutan dari suasana mencekam itu. Entah mereka bagainana rasanya.