Lelah Menjadi Orang yang Jujur
Rasanya begitu lelah ya, berjuang di atas sebuah kejujuran. Terlebih, ketika orang-orang yang awalnya menggenggam erat seakan mulai jenuh dan mulai menghilang satu demi satu.
Dirimu yang dahulu dianggap, kini bukan lagi siapa-siapa. Dilupakan, digunjingkan bahkan mungkin ditertawakan.
Padahal apa yang kamu perjuangkan bukanlah permainan, bukan pula sebuah kedustaan. Tapi begitulah... Tak semua orang betul-betul peduli, melainkan hanya ingin melihat pertempuran siapakah pemenangnya.
Siapa yang benar seakan tidak lagi penting, melainkan siapa yang mampu tetap bersinar.
Sayangnya, hantaman ujian membuatmu kini menarik diri. Lantas, yang berdusta seakan tak tahu malu malah kian tinggi memanen puji.
Ya, kamu tersudutkan di sudut yang sepi seorang diri, lagi.
Kau tau, memang begitu melelahkan ketika kita diinjak-injak oleh orang lain. Tapi, ketahuilah, sebagaimana kita yang lelah berjuang di atas kebenaran, mereka yang berdusta pun merasa lelah.
Lelah karena harus terus memakai topengnya dan harus sigap berganti topeng agar hakikat diri mereka tak tersingkap.
Mereka lelah menjadi orang lain demi disukai dan demi menjaga eksistensi dirinya.
Mereka terlihat bahagia, nyatanya bahagia mereka adalah racun baginya. Bagaimana tidak? Mereka harus terus berupaya menjaga agar topeng-topeng mereka tidak terlepas. Mereka harus pandai-pandai mengambil hati orang lain agar pujian dan sanjungan itu tak terhenti.
Sejatinya, kita semua sama-sama lelah. Tapi tentu lelah dalam hal yang berbeda.
Inilah kehidupan dunia, yang terkadang seakan tak adil, tapi ketahuilah keadilan itu akan terus ada dan ditegakkan-Nya dengan penuh kesempurnaan. Pasti.
Jadi, jangan pernah lelah menjadi orang baik yang terus menggenggam teguh kejujuran, yang mana hal itu sebuah harta berharga yang kian punah.
—SNA, Ruang Untukku #36
Ahad, 19-09-2021 | 21.11
Venetie Van Java








