Tersisa Hal Sederhana
Mungkin, ada banyak sekali kenangan yang ingin kau lupakan. Hal yang sederhana sampai yang rumit. Seperti tanda baca kurung buka dan titik dua pada pesan yang kutuliskan dobel saat aku merasa bahagia, kamu sangat hafal itu aku. Untuk hal yang sedemikian remeh mungkin butuh mati-matian kamu usahakan untuk hilang dari ingatan. Terlebih ada pesan-pesan lain yang datang dengan tanda baca yang sama mesti tidak serupa. Bukankah cukup menyiksa? Aku tahu karena aku melakukan hal yang sama.
Kita melakukan hal-hal sederhana, selalu sangat sederhana dan terlalu banyak hal sederhana. Yang ternyata justru sulit kuatasi. Sesederhana kebahagiaan yang muncul saat membaca kalimat “me tooo”, huruf “o” yang diketik tiga kali. Namun serumit ketika membaca kalimat “me too” milik orang lain dan yang kuingat justru kamu. Kini, banyak hal yang sama sekali tidak sederhana bahkan rumit, kelewat pelik.
Aku mudah melupakan makan malam di tempat mewah yang kita lakukan saat perayaan hari spesial. Aku mudah melupakan kado mahal yang katanya impian. Aku berterima kasih atas hal-hal yang berlebihan yang malah mudah kulupakan. Namun lebih banyak terima kasih pada semua hal sederhana yang nyatanya tidak mudah hilang. Jika benar-benar harus melupakan, mungkin aku memilih untuk tidak melakukan hal apapun yang sama dengan orang lain, karena ingatan-ingatan ini mungkin hanya bisa ditepikan, tapi tidak dihilangkan.
Terima kasih untuk hal-hal sederhana yang rumit. Terima kasih atas peristiwa-peristiwa berlebihan yang mudah.
Ririnsetya June, 23.

















