Terkadang berjalan pelan membuatmu dapat melihat lebih banyak hal. Tak perlu terburu-buru untuk mencapai tujuan, karena yg terpenting adalah jalan yg kamu tempuh tidak salah..
seen from Brazil
seen from India
seen from France
seen from France

seen from France
seen from Russia
seen from United States
seen from France
seen from United States

seen from United States

seen from Australia
seen from Singapore
seen from South Korea
seen from Israel
seen from China
seen from Senegal
seen from United States

seen from China

seen from Spain

seen from United States
Terkadang berjalan pelan membuatmu dapat melihat lebih banyak hal. Tak perlu terburu-buru untuk mencapai tujuan, karena yg terpenting adalah jalan yg kamu tempuh tidak salah..
Padahal sudah berulangkali bilang pada diri sendiri, "jangan terlalu berharap", "jangan berekspektasi tinggi". Karena ya, memang seringnya, dua hal itu sangat berdekatan dengan akhir yang mengecewakan. Apalagi jika yang menjadi tumpuan harapan itu adalah juga manusia biasa seperti kita.
ya memang ya, sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. :))
“Kamu tidak sendiri” itu tidak tepat. Yang paling tepat adalah Kamu selalu sendiri dan harus mengandalkan dirimu sendiri.
Kamu punya dirimu sendiri, berdiri dikakimu sendiri, dan kamu memutuskan kemana kamu akan pergi.
Kamu tidak punya siapapun dan bukan punya siapapun.
Orang lain hanya datang dan pergi, terkadang sedikit peduli tapi selebihnya? Mereka sibuk dengan masalah mereka sendiri.
Jadi, Kamu milikmu sendiri, andalkan dirimu sendiri.
Tidak apa apa; kamu lahir sendiri, mati pun akan sendiri. Sendiri tidak apa apa.
Review Buku - Stop Fixing Yourself
Buku ini merupakan karya Anthony De Mello yang buku lainnya sempat saya bahas juga, yaitu Awareness, dan di buku ini kita diajak untuk menyadari lebih dalam mengenai apa yang terjadi dengan diri kita dan lingkungan sekitar kita. Mungkin diantara kita sempat ada yang mengalami bahwa kita ingin diterima di suatu kelompok, sehingga kita mati-matian berusaha mengubah diri kita, padahal sesungguhnya hal yang terjadi adalah kita menyakiti diri kita sendiri tanpa kita sadari, kita menjadi demikian karena mendapatkan persepsi yang salah dengan dunia ini, kita berpikir bahwa penerimaan orang lain atau lingkungan akan membuat diri kita bahagia, padahal kebahagiaan yang didapatkan bersifat semu. Sama seperti kebahagiaan semu lainnya, kepemilikan benda bermerek, uang yang banyak, gadget terbaru dan lain sebagainya, kita tentu merasa senang ketika mendapatkan hal-hal tersebut, tetapi dari pengalaman yang sudah-sudah, sebetulnya berapa lama sih kebahagiaan tersebut dapat bertahan? sebelum pada akhirnya kembali kita merasa serba kekurangan dan "Tidak Bahagia".
Buku ini kemudian mengajak kita untuk menyelami diri kita yang sebenar-benarnya dan membantu kita untuk melepaskan jerat ketergantungan terhadap dunia dan lingkungan sosial, karena sebetulnya bahagia atau tidak itu semuanya ada di dialam diri kita sendiri dan bukan bergantung pada orang lain ataupun dunia sekitar kita. Mungkin kita sejak kecil sudah dididik oleh orang tua ataupun sistem pendidikan kita, bahwa dunia itu seharusnya ideal, bahwa segala sesuatu dapat dikendalikan menurut apa mau kita, karena ketidak teraturan akan menimbulkan Chaos dan lain sebagainya, tetapi disadari atau tidak, yang terjadi di dunia ini justru sebaliknya, ketika seseorang atau sekelompok ingin mengendalikan segala sesuatunya, justru akan terjadi konflik, perpecahan dan lain sebagainya, bukannya damai yang didapat, malah justru perpecahan yang terjadi, dalam skala kecil, ketika kita menginginkan sesuatu atau memiliki ekspektasi tertentu terhadap orang lain, apa yang biasanya terjadi justru yang sebaliknya, orang lain tidak memberikan apa yang kita mau dan kita berujung menjadi kecewa, stress depresi, padahal yang salah adalah ekspektasi kita tersebut, karena sesungguhnya apa yang ada di dunia ini tidak bisa mengikuti ekspektasi ataupun kemauan kita, yang bisa kita kendalikan adalah diri kita sendiri dan ekspektasi kita, sehingga kunci utama untuk bahagia adalah jangan memiliki ekspektasi terhadap orang lain ataupun dunia. Terdengar radikal, tetapi sebetulnya ada makna tersendiri yang bisa kita ambil, bukan berarti kita lantas jadi tidak melakukan apapun sama sekali, bukan seperti itu, melainkan ketika kita mendapatkan kesempatan untuk bekerja, berkarya atau melalukan pelayanan sosial, lakukanlah sebaik yang kita bisa, tetapi jangan pernah mengharapkan imbalan, ketika kita bisa melakukan segala sesuatu dengan ikhlas, disanalah kita sebetulnya sudah menjadi lebih dewasa secara mental dan akan jauh lebih berbahagia menjalankan kehidupan ini.
Buku ini tergolong cukup singkat, hanya memiliki sekitar 180an halaman saja, dan setiap bab nya pun sangat singkat, karena tujuan utamanya adalah mengajak kita untuk menyelami kehidupan ini dan diri kita sendiri, mengenali dan mengajak bicara diri kita yang selama ini terkungkung dengan ekspektasi dan tujuan ingin "Bahagia", padahal sebetulnya kebahagiaan itu sudah ada dalam diri kita, hanya kita yang terlalu sibuk dengan ekspektasi terhadap dunia ini. Semoga tulisan saya ini bermanfaat dan selamat membaca!
Ekspektasi
Alhamdulillah it's Friday! Hari ini kembali buka Catatan Keep di HP dan ketemu tulisan lama tentang ringkasan isi kegiatan di salah satu organisasi kampus; Bidik Prestasi. Mau sharing sedikit, semoga ini bisa jadi pengingat untuk kita semua, yaa.
Sebagai pembuka, waktu itu kami diberi pertanyaan, "Gimana ekspektasi kalian untuk hari ini?"
Jawabannya beragam, ada yang berekspektasi ke orang supaya bisa (kerja) lebih maksimal, ada yang berekspektasi supaya suatu acara (bisa berjalan) lebih seru, ada yang bahkan tidak berekspektasi bahwa kejadian-kejadian tertentu bisa terjadi.
REALITA
Silahkan punya mimpi yang tinggi, tetapi jangan lupa bahwa kaki kita masih berpijak di bumi. berekspektasi jauh memang tidak dilarang, hanya saja jangan lupa akan realita.
jika capaian berada diatas rata-rata, sedangkan realita berkata mustahil, maka disitulah ozon keberkahan mengambil peran.
langit tidak pernah menurunkan hujan emas atau perak, maka harus ada usaha atas segala macam harap. Semakin tinggi ekspektasi dan harapan, maka harus semakin siap capek dan bersusah.
Mau sampai kapan kau terus berasumsi dan berekspektasi?
Dan Mau sampai kapan kau terus membuat resolusi tapi masih kismin aksi?
Terima Kasih..
Rasa sakit dan kecewa ini seolah-olah menuntutku akan sikap yang akan semakin acuh dan tidak peduli..
akan aku ungkapkan
aku merasa kecewa..
Selalu merasa lupa akan perkataan ku sendiri perihal ekspektasi..
aku yang selalu berucap jangan berekspektasi, pada akhirnya aku juga yang brekpekstasi..
berekspektasi pada respon..
berekspektasi pada sikap..
berekspektasi perihal perasaan..
Jujur aku adalah manusia perasa..
Disentuh atau disenggol sedikitpun mungkin akan menjadi sebuah harapan atau luka..
Entahlah..
Terima Kasih atas segala kekecewaan ini..
Aku mungkin menjadi acuh agar tidak lagi merasakan luka ini..
sampai kapan?
Sampai benar2 mengerucutkan semuanya
Sampai kamu benar-benar sendirian lagi?
atau sampai semuanya hilang dan merasa tidak berarti?
Atau mungkin, sampai semuanya akan kembali asing dan semua akan datang sebuah kisah yang baru lagi..
Entahlah, aku tidak peduli lagi akan semuanya..
pesan ini ada yang membaca atau tidak..
setidaknya aku bisa merasa lega telah mengungkapkan apa yang aku rasakan lewat tulisan ini..
Sekian.