MELIHATMU PATAH SENDIRI
Ada seseorang yang ingin sekali aku bantu dan temani. Seseorang yang sering menawarkan bantuannya kepadaku, yaitu dirimu. Aku memang pengecut, sedikit mengetahui kabar hatimu tapi tak bisa menawarkan bantuan sama sekali. Bahkan menyediakan tempat untukmu berkeluh saja, aku tidak bisa.
Pasti hidupmu berat kali ini, dipatahkan oleh perasaan lalu disibukkan dengan aktivitas akademik demi kelulusan. Rasanya, kesibukan itu bukanlah hal yang buruk, Tuhan telah memberimu kesakitan dan tak membuatmu kebingungan mencari obatnya. Tuhan mengalihkan pikiran sedihmu dengan itu.
Aku tidak tahu bagaimana gambaran kesakitanmu setiap kali kamu melihat seseorang yang mematahkan hatimu. Aku ingat, kala itu aku menanyakan bagaimana perasaanmu saat kenyataan tidak seindah ekspektasimu. Aku bersyukur, katamu. Aku tersenyum dan aku yakin tak akan semudah itu dalam menerima kenyataan ini. Saat kamu mengutarakan janji mengahalalkan, namun kalah dengan seseorang yang bahkan tak memenuhi amanah serta tanggung jawab yang masih terus berlangsung.
Setiap kali aku memandangmu jalan membelakangiku, hatiku merasakan pedih dan iba dalam satu waktu. Aku tidak berharap perasaan ini terbalaskan, melihatmu bahagia saja sudah cukup. Sebab, aku paham bahwa banyak hal dalam dunia ini yang tidak ditakdirkan untukku.
Melihatmu patah sendiri, aku hanya mampu melangitkan doa agar dirimu senantiasa dimudahkan dalam mengobati luka dan menumbuhkan harapan akan kehidupan yang lebih baik di hari depan. Kamu kuat, aku sudah memperhatikan itu semenjak kita pertama kali bertemu. Aku disini, meski bukan untukmu namun turut mendoakan kebaikan untuk hari-harimu. Tak perlu kamu sadari, nanti saja setelah kita selesai dengan diri kita masing-masing.
Selamat belajar dari perasaanmu sendiri, dunia memang tidak selalu baik tapi kadang itu perlu untuk mengarahkan kita kepada hal terbaik yang sudah dipersiapkan oleh-Nya.
Pengagummu, 30 Juni 2022














