RINDU TAK KASAT MATA
Pa, kangen sangat, pa...
Kalimat pertama yang tertulis di buku hariannya itu, masih tertahan untuk dilanjutkan sisanya. Terlihat tangannya sedikit gemetar, lambat laun ia mencoba menggerakkan tangannya, menorehkan kembali tulisannya itu.
Sungguh tak terasa, sudah belasan tahun engkau berpulang, pa. Bagaimana rumah barumu di sana? Apa papa sudah bertemu dengan mama? Apa papa sudah ketemu juga dengan adik yang paling ganteng kalau kata mama? Pertanyaan itu hanya mampu bertengger di pikiranku, pa. Tak mampu kudengar jawabannya darimu lagi.
Kadang, gak tahu sama siapa lagi bercerita tentang semuanya. Kadang merasa capek menghadapi diri sendiri ini, pa. Diri ini terlalu rapuh tanpamu, pa. Sudah terlalu lama kita berpisah jauh. Suaramu sudah lama menghilang dari telinga, parasmu sudah lama pergi, kalau tidak sering-sering menengok fotomu, hampir-hampir wajahmu hilang dari lukisan pikiranku.
Pa, seperti yang mungkin engkau bisa lihat, aku di sini terus mencoba untuk baik-baik saja. Setelah mama turut berpulang, kembali ke jalan awal itu lebih dahsyat tantangannya. Kepergian papa, turut membawa rasa berani itu tarik ulur. Benteng di depan sungguh tebal dan tinggi. Terkadang, overthinking menggenggam erat pikiranku. Bolehkah ku pinjam ketangguhanmu, pa?
Seiring berjalannya waktu, pelan-pelan mulai terbiasa menjalani kehidupan sehari-hari tanpamu. Hidup juga harus tetap berlanjut, bukan pa? Ritme yang terkadang ironi ini, tak jarang selalu dihadirkan hal-hal indah walau itu sederhana. Tak jarang pula dihadirkan hal-hal yang terkadang bukan yang diminta, tapi justru yang dibutuhkan. Tetap bisa waras, bisa ketawa “haha hihi”, bisa duduk dan menulis seperti ini pun sudah jadi anugerah, pa.
Pa, di awal aku bilang kalau kadang aku gak tau mau bercerita kepada siapa tentang apapun. Benar, pa. Terkadang, semuanya terasa menumpuk. Kadang hanya bisa menangis, marah, emosi guna menutupi rasa sedih yang sedang dirasa. Sampai akhirnya bertemu dengan ini, aku bisa menuangkan segala macam perasaan lewat tulisan ini, termasuk rasa rinduku padamu, pa.
Ternyata, rindu tak kasat mata ini tak mudah, pa. Sebaliknya, rasa rindu ini akan terus ada menemani. Aku memohon kepada Allah agar rasa rindu ini bisa sampai kepadamu. Walau waktu bersamamu sebentar, namun kenangan dan pelajaran hidup darimu terus membekas di sanubari.
1 Oktober, aku rayakan hari lahirmu dengan mendoakanmu, semoga dirimu tetap berada dalam cinta dan kasih sayang-Nya. Pa, terus bahagia di sana, ya.
Selesai.
Dia letakkan pulpen yang ia pakai untuk menulis di samping kertas tulisan itu, lalu dia keluar dari kamarnya menuju ruang makan. Ia kembali bercengkerama dengan adiknya, dengan tetap menyimpan rasa rindu di lubuk hatinya yang paling dalam.













