Antara Buta, atau Terlanjur Menggenggammu
Aku sudah melewati banyak waktu denganmu. Perasaan ini pun sudah melewati banyak siklus terhadapmu. Aku pernah mengabaikanmu, memandangmu sebelah mata, sampai akhirnya menatapmu lalu aku tertawa bahagia, menganggapmu tak menarik lagi, dan terkadang menangis sendirian di antara semua kekecewaan yang pernah terjadi.
Satu masa aku menginginkan perpisahan itu denganmu, lalu masa itu datang padaku. Namun kenangan-kenangan itu tak pernah benar-benar membuatku pergi mangabaikanmu. Aku semakin mencarimu secara diam-diam.
Lalu sesuatu yang ku harapkan kala itu datang. Kau mulai menghubungiku dan aku ingin memulainya kembali. Berharap semua rasa rindu terhadap kenangan-kenangan itu terobati. Lalu kita mencipta lebih banyak kenangan lagi. Lalu aku menggenggam erat kenangan-kenangan itu.
Beberapa orang menggoyahkan keyakinanku terhadapmu. Bukan sekali, kamu terkadang berkali-kali melakukannya. Entah dengan berbagai alasan yang sebenarnya harus aku terima atau bahkan tak seharusnya untuk aku terima. Semua perdebatan itu membuatku ingin mencari pintu keluar dan pergi.
Namun berkali-kali aku tak bisa melakukannya. Kau di ujung pintu selalu menungguku menerima keadaan yang tak pernah kau inginkan ini. Kau selalu menjanjikan bahagia. Bahkan aku terkadang lupa bertanya definisi bahagia yang akan kau berikan.
Tapi aku tetap percaya. Kau akan selalu berusaha. Meski entah kapan. Aku percaya itu akan ada meski perdebatan panjang kita membuatnya terasa hanya angan.
Namun bagaimanapun itu. Aku pikir Tuhan tak pernah bercanda menjodohkan hamba-Nya. Ia tahu mungkin selepas ini kita akan jauh lebih baik dan sadar diri. Aku yakin ada hikmah yang terselip di antara semua yang kita lalui. Jangan menyerah. Sampai nanti kita mengerti hikmah yang ingin Dia tunjukan pada kita.
Bismillahi tawakkaltu 'alallah...














