Have you read Supernova: The Knight, the Princess, and the Falling Star by Dewi Lestari (orig. Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh, 2001)?
yes
no
I didn't finish it
I've never heard of it
seen from United States
seen from United States
seen from Belgium
seen from Netherlands
seen from United States
seen from Belgium
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from Ukraine
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from United States

seen from Italy
seen from United States
Have you read Supernova: The Knight, the Princess, and the Falling Star by Dewi Lestari (orig. Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh, 2001)?
yes
no
I didn't finish it
I've never heard of it
Stop dividing between what you want and don't want, then stagnate just because you insist on something that really has to change.
Stop judging the good and bad of anything! Because that's not what you live for. You are an Observer, and a Participant.. Not a Judge.
Supernova
"Tidak lama lagi kamu akan berjaya. Jangan sampai rosak di tengah jalan gara-gara kita ikut rasa hati."
- "Apabila sedang berantakan, tidak semestinya mahu mencari pasangan baru, bukan? Sebaliknya rasa cinta kamu harus diperbaharui. Cinta dapat tumbuh sendiri, tetapi bukan jaminan dapat bertahan selamanya, apalagi apabila tidak dipelihara. Kamu faham?"
- 📚 Dee, #PerahuKertas.
gadis musim gugur
ia memahat kisahnya di atas jati
menelusur hidup, menyerupai filsuf
memandang rasi bintang, berbaring
menanam airmata, menangisi hidup
ia mencela dirinya sendiri, korosif
bila dirinya sebuah potongan puisi
mungkin ia 'kan mencari seorang penyair
tapi ia tidak begitu yakin
ia meramu kesedihan di kesendirian
kemudian esok, ia akan berpesan pada fajar
kebahagiaan selama sepuluh dasawarsa
itu pun jika ia bisa hidup begitu lamanya
ia menaruh hidup di kelopak matanya
menyimpan maut di telapak kakinya
oh, bagaimana bisa ia kufur terhadap
hidup yang kaya raya ini, pun semesta
ーqueen oktaviani, 2019.
-----
Halo. Sepertinya saya memang tidak bisa jauh dari blog ini. Maafkan saya, keputusan saya memang sedikit labil. Saya rindu.
“Kugy Karmachameleon, saya cinta, selalu cinta, dan akan terus cinta sama kamu.”
Perahu Kertas 2 (2012) dir. Hanung Bramantyo
Ksatria jatuh cinta pada puteri bungsu dari Kerajaan Bidadari. Sang Puteri naik ke langit.
Ksatria kebingungan. Ksatria pintar naik kuda dan bermain pedang, tapi tidak tahu caranya terbang.
Ksatria keluar dari kastil untuk belajar terbang pada kupu kupu, tetapi kupu kupu hanya bisa menempatkannya di pucuk pohon.
Ksatria lalu belajar pada burung gereja. Burung gereja hanya mampu mengajarinya sampai ke atas menara.
Ksatria kemudian berguru pada burung elang. Burung elang hanya mampu membawanya ke puncak gunung.
Tak ada unggas bersayap yang mampu terbang lebih tinggi lagi. Ksatria sedih, tapi tak putus asa.
Ksatria memohon pada angin. Angin mengajarinya mengitari bumi, lebih tinggi dari gunung dan awan. Namun sang Puteri masih jauh di awang awang, dan tak ada angin yang mampu menusuk langit.
Ksatria sedih dan kali ini ia putus asa.
Sampai satu malam ada Bintang Jatuh yang berhenti mendengar tangis dukanya. Ia menawari Ksatria untuk mampu melesat secepat cahaya. melesat lebih cepat dari kilat dan setinggi sejuta langit dijadikan satu.
Namun kalau Ksatria tak mampu mendarat tepat di Puterinya, maka ia akan mati. Hancur dalam kecepatan yang membahayakan, menjadi serbuk yang membedaki langit, dan tamat.
Ksatria setuju.
Ia relakan seluruh kepercayaannya pada Bintang Jatuh menjadi sebuah nyawa. Dan ia relakan nyawa itu bergantung hanya pada serpih detik yang mematikan. Bintang Jatuh menggenggam tangannya.
“Inilah perjalanan sebuah Cinta Sejati,” ia berbisik, “tutuplah matamu, Ksatria. Katakan untuk berhenti begitu hatimu merasakan keberadaannya.”
Melesatlah mereka berdua.
Dingin yang tak terhingga serasa merobek hati Ksatria mungil, namun hangat jiwanya diterangi rasa cinta. Dan ia merasakannya….”Berhenti!”
Bintang Jatuh melongok ke bawah, dan ia pun melihat sesosok puteri cantik yang kesepian. Bersinar bagaikan Orion di tengah kelamnya galaksi. Ia pun jatuh hati.
Dilepaskannya genggaman itu.
Sewujud nyawa yang terbentuk atas cinta dan percaya. Ksatria melesat menuju kehancuran.
Sementara Sang Bintang mendarat turun untuk dapatkan Sang Puteri. Ksatria yang malang.
Sebagai balasannya, di langit kutub dilukiskan Aurora. Untuk mengenang kehalusan dan ketulusan hati Ksatria.
*gambar: aonekoe
*puisi: novel Supernova Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh by Dewi Lestari
Tiada yang lebih indah dari cinta dua orang di pagi hari. Dengan muka berkilap, bau keringat, gigi bermentega, dan mulut asam... mereka masih berani tersenyum dan saling menyapa ‘selamat pagi’.
(Dee, Filosopi Kopi)
Kita memang tak pernah tau apa yang dirindukan sampai sesuatu itu tiba di depan mata. Kita tak pernah menyadari ketidaklengkapan hingga bersua dengan kepingan diri yang tersesat dalam ruang waktu.-
Dee lestari