Teman Lama Lupa
Pernah punya teman yang dulu akrab sekali?
Main bareng, curhat sudah seperti aibku aibmu, tak pernah telat mengucapkan selamat ulang tahun tepat pukul 00.00, makan dan nonton film bersama, duduk sebangku, menertawakan orang lain sama-sama, saling menyiapkan pundak untuk menenangkan masalah, atau cuma jalan-jalan bersama.
Tapi bertahun bahkan berpuluh tahun kemudian, kita sudah seperti orang yang tak saling mengenal. Bukan karena pertengkaran, bukan karena tak sayang, tapi karena lama tak bertemu. Lama hingga terasa asing. Tak ada yang dibahas. Mungkin cuma berteman di media sosial. Itupun tak pernah saling sapa, mungkin sama-sama takut tak dianggap.
Misalnya,
Ada teman sebangku yang dulu sangat dekat, tak bisa dipisah. Sekarang si dia penampilannya berubah lebih sempurna dari dulu. Saling follow ig, tapi menyapa ‘Hy apa kabar’ saja tak pernah. Mungkin sudah tak seperti dulu, jadi kita menganggap dia orang berbeda. Begitu pula dia menganggap kita.
Ada teman dekat. Saling follow ig. Ulang tahun kemarin kita ucapkan usai lihat story-nya. Tapi dia tak membalas, meskipun ‘teman masa kininya’ direspons satu persatu.
Ada dua orang sahabat yang dulu begitu manis. Kita saling berpisah. Hingga waktu mempertemukan kita lagi. Tapi semua berbeda. Dua orang itu kembali dekat. Sedang kita tak lagi dilirik mereka. Pikirnya kita orang yg berbeda. Untung saja saat salah satu dari mereka ada yang menikah, sahabat yang satunya lagi yg mengantar undangan ke tempat kita. Katanya ‘Ini undangan dari sahabatku, kamu diundang’ hehe pedih ya :)
Cukup,
Mungkin kita harus sadar diri. Mungkinlah kita yang tak pernah memberi kabar. Kita yang tak peduli orang-orang di masa lalu. Kita yang sok sibuk saat diajak bertemu, hingga mereka bosan dan tak mau lagi mengajak kita. Mungkin kita yang memang benar-benar berubah. Atau mungkin itu hanya sama-sama ego kita, rasa malu dan sungkan kita, untuk duluan membuka kenangan lama, untuk duluan menyapa, untuk duluan mengingatkan bahwa kita pernah sedekat nadi.
Sahabat,
Apa kabar?
Kalau kau mau mengingat aku, dan menyapa aku, atau memeluk aku, aku masih sehangat orang yang kau kenal dulu. Meski kau dan aku sama-sama canggung, tapi aku tak se naif yang kau fikirkan. Meski kita akan kaku, tapi percayalah, aku tetap merindukan kisah kita, meski kadang samar-samar kuingat bagaimana senyumanmu dulu. Tapi terima kasih, sudah menjadi kepingan puzzle dari rantai kehidupan yang luar biasa. Maafkan sobatmu yang kini hanya jadi serpihan kaca dalam hidupmu. Jika kau ingat aku, tolong peluk aku, jangan beri ampun :)













