Ramadan Day 2: “Aduh! Covid-19 Ada Disebelahku”
Bayangkan, baru sejam yang lalu kamu asyik ngobrol dengan temanmu. Duduk sebelahan. (Mungkin) jaraknya satu meter kurang sedikit.
Duaaarr, tiba-tiba sejam yang mengubah hidupmu ini datang. Temanmu tadi, yang ngobrol denganmu, baru saja pulang ke kosnya, lalu ditodong untuk dites rapid oleh ibu kosnya (anak ibu kos itu dokter), hasilnya adalah positif Covid-19 (rapid tes ambil sampel darah dari ujung jari). Iya, dia positif tanpa gejala. Badannya terasa baik-baik saja. Dia cuma pembawa. Pasti menyakitkan baginya mengetahui hal ini.
Iya, itu semua nyata. Kejadian.
Dari yang tadinya aku mulai agak longgar tak memikirkan corona, tiba-tiba status saat itu otomatis jadi ODP. Ora Duwe Prei. Canda. Orang Dalam Pemantauan maksudnya.
Selanjutnya: Baik, mari tenang dulu tubuhku sayang
Bukan hanya aku yang DEG.. dengar kabar itu. Orang satu kantor yang kemarin makan sama dia, ngobrol sama dia, pergi sama dia, memel sama dia, gumush gumush sama dia, meeting sama dia, OTOMATIS LANGSUNG BOTAK DONG, GARA-GARA MIKIR KERAS :((
Flashback: Aku bekerja di perusahaan media. Selama wabah, kami tidak work from home. Tapi ya gitu, resiko juga :)
ODP tentu gak bisa berkeliaran. Begitu tau kabar ini, separuh orang kantor langsung meluncur menuju tempat screening untuk rapid tes di salah satu RS rujukan.
Aku? Kebagian yang besok pagi dong.
Pulang ke rumah udah adem panas. Bener-bener mau masuk rumah itu udah menyemprot diri dengan desinfektan. Semua pakaian langsung di rendam dulu di air sabun.
Mandi kayak orang gila, pakai shampo dan sabun dari ujung rambut atas sampai telapak kaki bawah. Isolasi diri di kamar sendiri.
Gak mau ketemu siapapun. Gak bisa tidur semalaman. Badan adem panas deg degan, meskipun tetap berusaha tenang dan berdoa. Allah Allah Allah... Begitu saja terus yang teringat.
Memang berat sebenarnya tetap positif thinking disaat yang bisa terjadi banyak kemungkinan ini. Dari yang tadinya badan baik-baik saja, tiba-tiba terasa ‘agak panas’, nafas tiba-tiba terasa berat. Aduh.. jangan-jangan......
Hushhhhh, ada Allah yang nolong.
Begitu caraku tetap positif.
“Tapi tadi kan dia pakai masker waktu ngobrol. Kita gak bersentuhan kok. Jarak kita lumayan, ..dekat huhuhu. Bagaimana kalau aku yang carrier. Iya, tidak ada yang disalahkan akan penyakit ini. Kita sudah sama-sama berusaha untuk menjaga diri.”
Disaat seperti ini, memang yang paling dibutuhkan adalah imun yang harus tetap kuat. Jangan panik karena hanya akan membuat drop. Berusaha berfikir positif saja, karena keajaiban dari Tuhan itu ada. Memang yang paling ampuh sebagai booster di saat seperti itu adalah doa. Lalu yakin dengan seyakin-yakinnya jika doa itu dikabulkan Tuhan. Ini posisinya sudah urgent. Tuhan itu, maha baik, kok!
“Ya Allah, berikan berkah di bulan Ramadan ini. Jadikan kami semua selalu sehat, agar kami bisa menikmati ibadah di bulan ini dengan khusyuk dan tenang. Begitu pun nanti di hari-hari selanjutnya.”
“Ya Allah maafkan kami, hambamu yang banyak dosa tapi permintaannya berlebihan. Tapi, kepada siapa lagi kami bisa meminta dan berharap? Selain hanya kepada-Mu.”
“Ya Allah berikan kami kesadaran diri, jika semua ini teguran bagi kami, yang sedang jauh dari mengingatmu. Jadikan semua ini adalah introspeksi buat kami, dan lebih berhati-hati lagi dalam menyikapi wabah ini.”
“Ya Allah jadikan kami hambamu yang selalu bersyukur, bisa melewati semua ini. Maafkan kami yang angkuh dan sombong. Kuserahkan semua kepadamu, kami hanya bisa memohon dan semoga engkau berkenan mendengar doa kami, hambamu yang ingin selalu kau tolong dalam segala urusan dunia dan akhirat.”
Malam itu terasa panjang. Mata terpejam, tapi pikiran tetap melayang-layang. Kekuatan itu tiba-tiba datang. Hati berangsur angsur tenang. Tapi malam tetap saja panjang. Tuhan sedang beri peringatan. “Ampuuun,” pekik kami kencang.
Ps: Tulisan ini ditulis di hari ke tiga, setelah keadaan sudah tenang.