Kautsar
"Kenapa kamu menganguminya?" tanyamu malam itu.
Kantuk tak lagi menyerangku. Meski pahit obat sudah ku tegak.
Aku harus tidur!
Sudah hampir 48 jam tanpa tidur yang cukup. Kepala terasa berat. Rasanya, menjaga keseimbangan saja sesusah itu. Tapi mata ini tak juga terpejam. Terlebih setelah terpantik dengan diskusi bersama orang yang sama.
Perasaan takut, cemas, benci, hingga mati rasa bercampur aduk. Gundah karena rindu dan tidak ingin kehilangan berperang dengan ego yang memuncak dan perasaan cukup lelah untuk kembali tersakiti.
Kenapa hati serumit ini?
"Ste, kamu di sana?" tanyamu?
Aku tergagap. Ah ya, ada kamu.
"Kenapa kamu mengaguminya?" ulangmu.
"Apa?" tanyaku balik.
"Kautsar..."
"Surat? Atau orang?" godaku.
Teringat adik kelasku jaman SMA. Namanya sama dengan surat yang kusuka. Perjuangan hidupnya pun indah. Bagaimana tidak? Berbelas - belas tahun dia melawan kanker otak yang menggerogoti tubuhnya. Sakit kepala berulang. Kehilangan kesadaran. Perubahan emosi. Seperti sudah menjadi camilan sehari - hari untuknya. Tapi senyum itu, selalu mengembang. Selalu tenang. Selalu terlihat bahagia.
Mungkin Ibunya sudah merasa, bahwa kelak putranya akan mampu menjadi pria yang pandai bersyukur; mengucap syukur untuk kenikmatan sekecil dan sesederhana mungkin yang ia miliki. Mungkin juga sebagai doa, agar putranya mampu menjadi kuat dan sabar menghadapi jalan hidupnya.
Bahwa setelah kesedihan akan selalu ada kebahagiaan.
Kau tergelak. Kau mungkin belum tahu, aku semudah itu mengagumi. Namun tak mudah jatuh hati. Kecuali sekali.
"Lupakan." katamu.
Seolah tak mau membahas lebih jauh. Mungkin karena memang tak mau tahu. Mungkin juga takut cemburu.
Situbondo, 30 Desember 2017
Stella maris











