Sejenak lalu aku ingin kembali kesini. Membuka tumpukan surat penuh kalimat lara. Ku tak mau bermain dua muka. Biar dukanya kutulis disini, sukanya kau rengkuh disana. Meski harus dengan pribadi lain. Sesak? Tak apa. Aku mulai kebas dengan derita itu. Hehehehikhikhikhik.
dan seketika gerimis tangis pelan luruh disudut bilik ini












