Duka Bersama Diam
Duka berselancar secepat ombak perkembangan dunia maya dengan gadget dan sinyal penuh empat bar. Menelisik jauh dalam kemacetan kota besar seperti Bandung ini. Hingga akhirnya memekik dengan suara tajam yang bertarung bersama bebunyian petir di timur cakrawala.
Dukanya terpancar dan diterima semudah itu, semudah kamu menekan klakson saat lampu lalulintas baru saja berubah hijau.
Di pinggir jalan kenangan tiga belas Maret saat ini, aku terjebak bersama segerombol orang dengan isi kepala juga isi gadget yang lebih menarik dari pada bicara. Kami bersembilan, tapi bibir masing-masing mengantup tak beralasan. Kami, seingatku, berencana untuk membahas memori kala berada di suatu sekolah tinggi yang sudah pasti menjadi lelucon paling menggelikan dari pada acara lawak murahan, namun kali ini terpaksa harus menunggu giliran.
Ku sesap teh hangat yang biasanya membantuku meringankan beban bertatap wajah dengan kemacetan sehari-hari, hanya saja kali ini tidak bekerja dengan semestinya. Ku tatap lagi satu persatu wajah teman-temanku, tetap saja mereka tak ada yang balik menatapku. Ku coba mengeluarkan suara untuk menegur mereka, yang keluar hanya angin dan hembusannya terasa dingin.
Ah, aku mau pipis. Segera saja aku beranjak dari duduk ku.
Aku melangkah. Ringan.
Melirik seorang teman yang paling dekat dengan tempatku tadi.
Mereka menyebarkan kepedihan, keprihatinan, kesedihan, dan juga........wajahku pada masing-masing tulisan.
Duka memang sangat cepat bergerak dalam sepi yang paling perih saat kehilangan. Ini adalah kisah tentang dukaku, barangkali juga duka mereka yang ada bersamaku sedari tiga puluh menit berselancar dalam kebisuan. Ini kisah tentang dukaku, bersama mereka yang tak bergerak meskipun hanya menguap. Tapi ini juga kisah tentang kebisingan kepalaku, yang sulit sekali untuk ku minta untuk sedikit diam.
Kemudian mereka saling menguatkan.













