Kupanggil Jingga . "Aku bukanlah yang abadi, yang menjadi tontonan khalayak umum sepanjang waktu. Waktuku tertentu, bahkan seiring bergantian dengan satu hal yang tiba-tiba datang, menyegarkan seluruh alam." . Kupanggil Jingga, penyabar yang paling aku kagumi. Tapi kerap dia jarang perduli, sedikit tidak peka atau dia terlalu berlebihan untuk berprasangka baik ? Ah, biarlah, aku pikir itu urusannya. Yang kerap ingin aku tanya adalah seberapa jauhkah, lebarkah, tebalkah, luaskah, kesabaran yang dia miliki. Tak lama, hanya sekitar seperempat jam menjelang kumandang adzan dia muncul mewarnai semesta, dan menyiptakan rasa pada mata, tak jarang kini hati pun berbicara untuk menuliskannya. Dia tak lelah menerima jadwal pertunjukannya, melewati siang yang terik atau bahkan tertutup karena sedari pagi awan enggan beranjak dari tempatnya. Bisa aku anggap pengobat hati yang kerap berputus asa karena kesibukannya seharian penuh ini, bahkan penyejuk pandangan ketika jendela ini tertutup gambar-gambar dunia yang hanya mampu kita genggam dalam kertas saja. Darinya banyak hal yang dapat dipetik maknanya, bahwa yang terlihat indah tak selamanya abadi. Mengingatkan kita agar tak terpana pada hal yang fana, dia pun rela yang cantik rupanya terganti yang hitam pekat warnanya; yang indah dipandangi mata, sekejap hadirnya; lalu yang terik, berkepanjangan temponya. Jakarta 📷: 09 Maret 2018 #writingjourney #nulisyuk #owop6 #wifiregionjakarta #keeponfire #jingga #senja #Jakarta #Indonesia https://www.instagram.com/p/BgGtOTQBLlw/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=9m64y1maphxz












