Kehidupan sudah banyak mengajarkanku arti kehilangan, tapi masih belum puas mengujiku dengan sakitnya. Aku benar-benar telah memahami bagaimana paruh hatiku merembes keluar begitu saja. Aku sungguh diajari oleh kehidupan.
Gugur tak pernah menyisakan gembira, aku tak membuat kiasan saat menuliskannya. Calon buah hati yang sempat singgah dalam rahimku pergi begitu saja. Memang baru sebulan lebih dikit, tapi lukanya sama sekali tidak sedikit. Aku masih terisak menceritakannya padahal dalam hati sudah berkata ikhlas.
Keguguran bukan hanya tentang calon debay yang hilang, lebih dari itu. Semua itu tentang; mimpi-mimpi keluarga masa depan: bagaimana rasanya mengasihi, harapan bagaimana kami akan menerapkan pendidikan, atau tentang aku yang kelelahan dan meminta suami yang menimang, mungkin juga tentang kami yang tertawa saat menyaksikan tumbuh kembangnya...
Keguguran adalah tentang kehilangan itu semua. Bukan hanya gumpalan darah yang keluar dari vagina, atau tampak ati ayam yang ikut jatuh saat kram perut melanda. Juga bukan cuma tentang kehilangan morning sickness dan drama-drama menjanjikan lainnya. Hal yang paling perih dari keguguran adalah kehilangan gambaran keluarga yang diangankan setiap pasangan.
Aku bukanlah wanita yang segera mengharapkan hadirnya anak di tengah kami saat awal pernikahan. Tapi menginjak setahun aku diberikan sebuah kandungan, dan ditarik kembali sebelum aku sempat menyadari indahnya memiliki buah hati.
Isakku lebih hebat lagi saat yang kusaksikan adalah tangis lara suami. Pria yang memperjuangkan banyak untukku kini kecewa atas kehilangan. Masih jelas kuingat di kepalaku bagaimana kronologi sedih itu berlangsung. Selain yang kusebut di atas, keguguran adalah tentang lenyapnya harapan orang yang kusayang. Dan itu sungguh menyayat, aku tak mau lagi perih itu hadir di matanya.
Lalu setelahnya aku mendambakan, hal yang tak pernah aku sangka sebelumnya, menginginkan dengan sangat kehadirannya. Dan aku kecewa saat yang tiba adalah bercak merah yang merembes ke celana. Mungkin sampai berbulan-bulan berikutnya rasaku masih sama.
Hingga aku diberikan kepercayaan lagi.
Dan aku terus berharap, dalam sujudku di malam dan siang, tak pernah berhenti meski sekejap. [ ]
Jakarta,
10 Juli 2019













