Berwisata ke Dalam Dirimu
Kita sering berjalan ke luar, tapi pernahkah kita benar-benar bertualang masuk ke dalam diri kita sendiri?
Barangkali itulah masalahnya, kenapa jalan-jalan kita, traveling dan penjelajahan kita tidak menambah iman dan menyuburkan syukur. Soalnya mata kepala diajak melihat keindahan, tapi mata hatinya tidak dihidupkan untuk mentasbihkan denyut tadabur.
Anak muda seperti kita memang sedang suka-sukanya diajak jalan kemana saja. Gunung kita daki, pantai kita datangi sembari menulis caption "Vitamin Sea" yang rada-rada alay, desa-desa di dataran tinggi kita singgahi, dan sungai-sungai jernih kita terjuni.
Namun ternyata, kita tak imbang antara berwisata ke luar menjelajah semesta, dan berwisata jauh mengenal diri. Nah, itulah bisa jadi yang membuat kita telat dewasa, susah bijaksana dan masih suka meletup-letup membela emosi. Senja kita jadikan peraga sendu, lalu hanya sekedar itu, shalat Maghrib kelupaan karena terlalu hanyut merindu.
Ada nasihat dari Syaikh Abdul Karim Bakkar,
أن تسافر باعا في داخلك خير من أن تخطوا أميالا في أرض الله
"Berwisata sejengkal ke dalam dirimu, itu lebih baik dari pada kamu menempuh bermil-mil jarak di bumi Allah."
Sebab, dengan kamu tahu jati dirimu, dalamnya kamu mengenal raga dan hatimu sendiri, akan membuatmu bisa mengambil hikmah dan saripati kebijaksanaan di manapun tempatmu berada, dan sejauh apapun jarak yang kamu tempuh.
Allah memang memerintahkan kita untuk jalan-jalan menjelajah bumi, tapi selalunya, perintah itu malah beriringan dengan spirit untuk bertafakur, "maka lihatlah kesudahan mereka yang berdusta."
Teruskan hobi jalan-jalanmu, lihat jalanannya dan berpikirlah betapa besarnya nikmat Allah dengan diamnya bumi agar kau bisa tapaki, tenangnya awan hingga melindungimu dari panas, dan romantisnya senja yang tak hanya ingat pada si dia, tapi pada Sang Dia yang jauh lebih utama untuk kau cintai.
Dan jangan lupa, untuk berwisata ke dalam dirimu sendiri, "dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?" (Adz Dzariyat 21)