KKN Part 7 - Takdir Mempertemukan Kita Adalah takdir, ketika terpampang di laman website bahwasanya Ungaran Barat menjadi tempat KKN, mungkin ALLAH hendak memberi kesempatan untuk mengenali wilayah tersebut. Adalah takdir, ketika terkelompokkan nama mu dan namaku, nama kita, sembilan bocah tingkat akhir di dalam satu desa, Bandarjo. Kelompok KKN yang sampai H min 1 minggu grup masih lempeng aja. Baru di H min 1 hari pemberangkatan, sedikit geger lantaran tempat tinggal yang belum juga dapat. Adalah takdir, mana kala diri diri kita saling mengenal dan berdamai. Dengan dia yang pelupa, bahkan sekedar kunci motor. Dengan dia yang super selow, katanya, "yang penting yakin". Dengan dia yang ternyata kelahiran 97 dan kita beri panggilan si Panda. Dengan dia yang diam-diam mengisi gentong-gentong bak air mandi kita, tapi juga yang paling bahagia sendiri dengan tontonan di laptopnya. Dengan dia yang berlapang membawakan tivi kosannya untuk kita pakai dan juga yang paling akhir bangun pagi di antara kita. Dengan dia yang barangkali paling bersabar menyimak obrolan anak-anak kesehatan karena yang ia pelajari sehari-hari adalah tentang keperpustakaan. Dan, terakhir, dengan dia, kordes serba bisa yang mau saja mencuci piring piring kita. Adalah takdir, mari berkolaborasi untuk 42 hari. Dan barangkali, 5 anak kesehatan, 1 anak teknik, 1 anak akuntansi, dan 1 anak perpustakaan ini, di kemudian hari dapat berkolaborasi dalam amal-amal masyarakat lain dengan cakupan lebih luas lagi. Dan, adalah takdir. Hari yang lalu sebuah film mengajarkan, bahwa "harta yang paling berharga adl keluarga." Maka, di perantauan, kalianlah harta paling berharga. Selasa, 9 Jan 2017 Ttd, dari yang paling nempel molor. NB : foto di ambil hari ini, selepas diskusi rembug desa pemaparan program KKN #kknday7 #kkn #kknundip #kknlife #UngaranBarat #takdir #keluarga
















