Kerap kali, aku memikirkan keresahanmu. Tentang muda-mudi Pecinta Ahlulbayt Nabi di daerahmu pun daerahku yang tak kunjung mau maju. Tentang keinginan-keinginan positif yang pasif karena tak dibekali semangat kontributif. Tentang keinginanmu menggerakkan yang pasif namun nyatanya begitu sulit. Aku selalu sepakat padamu, dan begitu ingin membantumu membangun kesejahteraan warga daerahmu. Aku bertambah sepakat padamu, meski di beberapa hal tak sepenuhnya sependapat. Barangkali, memang tak ada yang sepertimu, Pelayan Masyarakat penebar manfaat yang tak terbatas tempat.
Hari ini, biarkan aku berjanji pada diriku. Untuk terus mencoba menjadi salah satu yang kau harapkan itu. Meneladani perangaimu. Pun membantu mereka menyadari setiap potensi di dalam diri untuk selanjutnya bergerak bersama, menjadi selayaknya pemuda. Barangkali suatu saat, setelah pikirku bertambah kuat.
Aku tahu ini berat. Tapi untuk impianmu yang satu itu, aku sepakat. Bisakah aku? Entah, apakah aku yang terlalu lama tertinggal, atau mereka yang tertinggal, atau kami sama-sama tertinggal. Aku hanya ingin berjalan beriringan dan membuat langkahnya bertambah ke depan. Bersama mencoba menjadi garda energi positif lingkungan. Mengucapkan selamat tinggal pada generasi rebahan.
Barangkali nasib baikku memang di daerahku, di daerah kita. Dan nasib baikmu memang di duniamu, mengabdi untuk negara. Impian kita memang serupa, hanya berbeda jalannya. Tolong ingatkan aku untuk setiap impian yang pernah kita resahkan bersama. Mari bersama-sama mencoba menjadikannya nyata. Aku di duniaku, kamu di duniamu. :)
Sampai jumpa di lain waktu, sebagai teman dekat yang pernah satu mimpi denganmu! 💖
Mana kontribusiku? Semoga pertanyaan itu selalu jadi pecutan untuk terus maju.
.
Tembalangsweet, 2/3/20 | Aku, yang bangga padamu.











