Cerita Perjalanan Menuju 22
"Setiap orang punya perjalanannya masing-masing, dan setiap perjalanan ada rintangannya tersendiri."
Dulu, saat perjalanan menuju angka 22, aku tidak begitu paham dengan statement yang banyak didengungkan itu. Aku masih meragui makna nya. Yang kutau, setiap orang memang pasti punya ujian hidup sendiri-sendiri. Ada yang disuguhkan ujian serupa, (tampak) lebih ringan, atau (tampak) lebih berat. Dan yang kutau juga, orang-orang bisa melakukan banyak cara untuk mengatasi ujian itu. Ada yang marah, yang sabar, yang bodoamat, yang depresi, bahkan yang lari begitu saja.
Seiring berjalannya waktu, semakin sering aku bertemu orang-orang, semakin banyak juga hal baru yang aku sadari. Bahwa benar, setiap orang punya perjalanannya masing-masing.
Semua berawal dari keruwetan hidup yang mulai datang menyambut setelah aku sampai di angka 20. Entahlah, ruwet itu memang datang sendiri, atau justru aku yang menjemput? Tapi yang pasti, gelisah mulai banyak mengisi rongga dada. Apalagi saat melihat teman-teman sejawat yang punya perjalanan hidup berbeda denganku. Tak jarang aku mulai membandingkan kehidupan yang kurasa, dengan yang kulihat.
Dimulai dari angka 20, dan dari lingkungan terdekat, gelisah rasanya makin merajalela. Studi yang sudah di tengah jalan, kekhawatiran mulai datang ketika 'persaingan' akademik mulai kentara, terlebih lagi saat menuju akhir. Kulihat teman-teman ada yang sudah mulai mengurus tugas akhir, mencari topik penelitian kesana-kemari, bahkan ada yang sudah beberapa kali konseling, ada juga yang sudah memulai penyusunan proposal. Huftt, aku rasanya tertinggal, rasanya tersaingi. Tak mau kalah, kukebut juga progress nya. Mulai apply permohonan ke lembaga penelitian yang respon nya juga tidak sebentar, butuh tunggu berbulan-bulan. Mulai konseling ke dosen pembimbing akademik, mulai memasang target ini dan itu, mulai menyusun rencana-rencana panjang. Apalagi kalau ada teman yang membicarakan proposal tugas akhirnya. Wushh, rasanya ada angin yang menerpa. Khawatir lagi, gelisah lagi, sampai akhirnya aku lelah sendiri. Kenapa rasanya tidak sampai-sampai? Kenapa aku pusing sekali rasanya? Kenapa ruwet begini? Dan kenapa-kenapa yang lainnya. Saat itu aku belum menyadari bagian salah nya.
Hingga akhirnya sampailah pada titik itu. Saat sudah mulai ada kejelasan untuk tugas akhirku, bahkan sudah mulai menyusun proposal sesuai topik, sudah mulai bimbingan, dan persiapan untuk daftar seminar. Iya, saat itu juga ternyata masih dirundung kelelahan yang tak berkesudahan, banyak celetukan dan umpatan hadir ketika hal yang kutuju belum berhasil sampai. Hingga suatu ketika, entah bagaimana caranya, dalam satu hari aku serasa dipukul telak.
Aku tak sengaja bertemu dengan teman-teman lainnya. Awalnya hanya sapa biasa, sampai berujung pada cerita dan keluhan. Aku sempat mengeluh pada mereka, pusing karena proposal belum juga beres, revisi yang masih harus diselesaikan, print sana sini menguras uang, pokoknya keluhan itu keluar begitu saja. Dan tentu, temanku juga melempar keluhannya. Ada yang masih pusing dengan materi pendalaman (mengulang mata kuliah yang tahun kemarin tidak lulus), yang penat karena belum tau akan penelitian dimana, yang ruwet karena belum punya topik tugas akhir, yang permohonan nya belum ada respon lah, yang belum ada kejelasan lah, yang sudah ada topik tapi metode diubah-ubah terus lah, yang dosen nya sulit dihubungi lah, yang pertemuan nya dicancel terus lah, yang sulit untuk urus surat-surat lah, yang terhambat konseling nya lah, dan banyak lagi, banyak sekali.
Hari itu, rasanya detak jantung terhenti sesaat. Ya ampun, aku ini kenapa? Kenapa aku jadi seperti orang tamak yang tidak ada puas nya? Kenapa masih sulit saja untuk bersyukur atas apa yang ada? Harusnya banyak syukur yang kuucap, setelah banyak hal yang sudah datang, sedangkan orang lain disana masih berusaha menjemput. Astaghfirullaah..
Dari situ aku paham. Memang setiap orang punya jalannya sendiri. Aku dengan jalanku yang seperti ini, dan orang lain dengan perjalanan nya yang seperti itu. Kenapa mesti dibandingkan? Toh kemampuan diri kita juga berbeda, bukan?
Kemudian saat hampir sampai di angka 22, aku penasaran akan suatu hal. Seperti sebuah ragu yang datang lagi. Iya benar, setiap orang punya perjalanannya masing-masing. Kulihat teman sejawat di angka 22 ada yang sudah bergaji, sudah bisa belanja pakai uang sendiri, ada yang sudah terikat janji suci, ada yang sudah punya buah hati, ada yang sudah lulus dari akademi, bermacam-macam. Lalu aku melihat hidupku sendiri, rasanya masih begini-begini saja. Akademi belum selesai, apalagi sekarang harus tertunda karena pandemi, mau belanja ini-itu masih mikir-mikir, membayangkan pasangan dan buah hati juga, aduh rasanya masih jauh sekali. Tapi kenapa teman-teman sudah lebih dulu melewati fase kehidupan nya ya? Rasanya hidupnya jauh lebih menyenangkan.
Penasaran, aku pun mencari tau. Bertanya sana-sini, bertukar kabar dengan yang lain, sambil mendengar cerita-cerita yang mereka suguhkan sendiri. Dan benar saja! Statement itu lagi, rasanya aku mulai paham makna nya.
Setiap orang punya perjalanannya sendiri-sendiri, dan setiap perjalanan ada rintangannya masing-masing.
Temanku yang sudah bekerja, ternyata tidak semenyenangkan itu. Harus patuh peraturan perusahaan, dikejar deadline, begadang, lembur, memikirkan bayaran asuransi dan yang lainnya. Belum lagi tekanan sosial dari teman satu pekerjaan, yang tidak cocok lah, yang sulit adaptasi lah, yang harus kreatif lah, yang kerjaannya membosankan lah, tidak sesuai passion lah, bos nya resek lah, tempat kerja yang jauh lah, dan banyaaakk yang lain nya.
Temanku yang sudah menikah juga, ternyata tidak selalu menyenangkan saja. Yang mesti adaptasi dengan keluarga pasangan lah, yang tidak cocok dengan mertua lah, yang banyak mengalah pada ipar lah, yang susah izin lah, yang banyak beda pendapat dengan pasangan lah, yang ngurus rumah lah, ngurus keuangan, memikirkan punya rumah sendiri, punya kendaraan sendiri, dan yang lainnya.
Belum lagi temanku yang sudah punya anak. Ah gemas sekali mendengarnya ceritanya. Yang begadang lah, capek lah, pusing lah, jarang punya me time lah, anak rewel lah, anak sakit lah, suara tangis setiap waktu, apalagi sambil mengurus rumah. Hwaah tak terbayang ruwetnya.
Temanku yang sudah selesai dari akademik juga, tidak semuanya senang-senang aja. Ada keruwetan baru yang muncul katanya. Yang melamar kerja ada yang belum direpon, punya tanggungan adik-adik, yang ingin lanjut studi belum dapat beasiswa, yang ingin menikah belum cukup tabungan lah, belum ada pasangan lah, terbentur restu lah, daann cerita-cerita lainnya.
Sampai sini aku cukup paham. Iya benar. Setiap orang punya perjalanannya sendiri-sendiri, dan setiap perjalanan ada rintangannya masing-masing.
Bahwa ga ada kehidupan yang lebih enak, ujian yang lebih ringan, karena memang semua sudah ada porsi nya, karena setiap kehidupan itu otentik, punya orisinilitas sendiri, punya bagian senang dan sedih nya sendiri, ada suka-duka nya sendiri, yang jelas ga bisa dibanding-bandingkan. Manusia nya saja sudah beda, kan?
Iya, sekarang aku paham. Ditambah yakin lagi dengan statement yang termaktub dalam kitab suci, surat cinta dari Pencipta.
لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا ۗ
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 286)
Ah iya ya. Aku diberi kehidupan dengan perjalanan dan rintangan yang seperti ini karena aku yang mampu menjalani dan melewatinya, karena ada pertolongan Allah untukku disana. Keruwetan ini, aku pasti bisa mengatasinya.
Baik, sekarang aku sudah sampai pada angka 22, dan aku cukup paham. In syaa allah, perjalanan di depan masih panjang. Semoga iman dan keteguhan hati ini tidak mudah goyah lagi, tidak perlu ada risau lagi, terganti dengan keyakinan dan kecintaan pada diri sendiri dan kehidupan ini.